Mohon tunggu...
Tan RizkyRaya
Tan RizkyRaya Mohon Tunggu... Mahasiswa

Mahasiswa

Selanjutnya

Tutup

Bisnis

Maraknya Pelanggaran Etika Bisnis di BUMN

11 Januari 2020   11:45 Diperbarui: 11 Januari 2020   11:52 2958 0 0 Mohon Tunggu...

Apa jadinya kalau perusahaan menjalankan bisnis dengan "seenak perutnya" tanpa mengindahkan berbagai ketentuan dan peraturan perundang-undangan yang berlaku, dan sesuka hatinya melanggar berbagai norma dan kode etik bisnis yang berlaku?

Situasi akan menjadi chaos atau kacau dan akan menciptakan kebingungan di kalangan masyarakat yang berakibat fatal kekacauan kegiatan dunia bisnis, industri dan ekonomi suatu negara, terutama kalau praktek-praktek pelanggaran etika bisnis ini dibiarkan saja terjadi.

Sebetulnya, kalau dicermati dengan baik, banyak sekali kasus pelanggaran etika bisnis marak di tengah-tengah masyarakat. Hanya saja pemberitaan dan penanganan tidak terlalu menghebhhkan karena sering dianggap biasa-biasa saja.

Kasus yang dihadapi oleh PT Garuda Indonesia merupakan contoh yang sangat signifikan, karena ini sebuah BUMN yang sangat penting dan juga karena perusahaan plat merah ini sudah melantai di Bursa Efek Indonesia dengan performance saham yang yang sangat tidak tokcer. Dan malah lebih banyak menjadi saham mainan alias gorengan di kalangan trader di bursa.

Dan akhirnya, juga ketahuan dari penjelasan Menteri BUMN bahwa memang laporan keuangan garuda tahun buku 2018 bukan untung tetapi buntung.

Bisa dibayangkan bagaimana investor yang masih memegang saham garuda ini. Tidak saja hanya ngomel, kesal tetapi juga pasti sangat marah.

Kasus yang masih sangat hangat adalah ada seorang penumpang Garuda yang menuntut perusahaan penerbangan ini ke Pengadilan Negeri, karena merasa di perlakukan tidak adil sesuai dengan janji pelayanan garuda saluran tv dibangkunya. Si penumpang ini menuntut Garuda sebesar Rp. 100 atas janji yang tidak dipenuhi.

Kasus Fintech

Salah satu perusahaan fintech belum lama ini mempermalukan seorang nasabahnya secara tidak etis di berbagai media daring dengan memajang foto wanita dengan di lengkapi kata-kata yang sangat tidak senonoh. Kompas.com memberitakan dengan judul "Fintech yang Umumkan Nasabah "Siap Digilir" Sudah Diblokir"

Peristiwa yang terjadi di Solo Jawa Tengah ini dialami oleh seorang wanita berinisial YI, yang tergiur untuk mencoba menggunakan fasilitas pinjaman online dari sebuah perusahaan fintech. Namun karena dia terlambat mengembalikan pinjaman itu, maka perusahaan ini menagih dan menyebarkan pemberitaan yang sangat melukai hari nasabahnya itu.

Walaupun si nasabah ini sudah memberitahukan kepada perusahaan akan keterlambatan itu, dan bukan tidak mau mengembalikan pinjaman tersebut.

YI menyesalkan foto dirinya disebar ke media sosial dengan diimbuhi tulisan tidak senonoh yang menyatakan bahwa dia rela digilir untuk membayar utangnya. Ia mengaku mengenal fasilitas pinjaman online itu melalui pesan pendek yang dia terima. "SMS yang berisi promosi pinjaman utang yang menjanjikan kemudahan," katanya.

Walaupun pihak aparat kepolisiaan sangat cepat bergerak dan bahkan perusahaan fintech ini sudah dibekukan aplikasinya dan sedang diburu siapa-sapa saja orang yang ada dibelakang pengelolaannya.

Namun, dampak dari peristiwa ini telah melukai nasabah yang seharusnya di jaga dengan baik. Dan telah menjadi trauma di tengah-tengah masyarakat bisnis dan industri.

Juga di ketahui kalau perusahaan fintech yang menghina nasabahnya itu termasuk ilegal, artinya belum mendapatkan izin dari pihak Ototitas Jasa Keuangan atau OJK yang mempunyai kewenangan mengawasi dan mengendalikan industri pembiayaan ini.

Pentingnya Etika Bisnis

Bicara tentang etika, pikiran kita selalu dibawa ke sebuah situasi dimana disana ada kebiasaan-kebiasaan hidup yang baik dan bermanfaat serta berguna bagi dirinya sendiri maupun bagi banyak orang nan dalam suatu masyarakat.

Artinya, hidup sebuah komunitas akan menjadi indah dan damai dan terus bertumbuh bersama dengan baik, karena disana ada praktek etika yang tidak saling mencederai, melukai apalagi menghancurkan dan membunuh orang lain.

Kebiasaan yang mengarah pada tradisi yang mengikat semua orang dalam sebuah dunia yang baik dan ideal.

Demikian juga dalam dunia usaha dan dunia bisnis, hanya mungkin berjalan dengan harmonis dan damai kalau semuanya berjalan dengan etika bisnis yang kuat.

Semakin kuat etika bisnis yang diterapkan maka dunia bisnis dan industri yang dihadapi akan semakin kuat. Artinya, dalam sebuah komunitas bisnis dan indutri harus lahir berkembang dan bertumbuh terus praktek-praktek etika yang kuat.

Itu sebabnya berlahiranlah apa yang disebut dengan code of conduct, kode etik dalam dunia bisnis yang tertentu. Profesi bisnis yang dijalankan oleh para profesional, akan menjadi baik dan berkembang dengan baik kalau didukung oleh code of conduct yang kuat.

Semua gerak-gerik, perilaku, sikap dan tindakan bisnis tidak boleh bertentangan dengan kode etik profesional yang sudah dibangun dan disepakati. Dan siapa saja yang terbukti melanggarnya, maka akan dikenakan sanksi berat karena dampaknya sangat merusak.

Pelanggaran Etika Bisnis: Menghancurkan

Pelanggaran etika bisnis yang dilakukan oleh perusahaan, akan berakibat sangat fatal bagi kehidupan ekonomi suatu negara.

Konsumen akan menjadi korban utama yang paling banyak menderita atas pelanggaran etika bisnis ini. Kemudian, perusahaan itu sendiri juga akan menderita karena kehilangan kepercayaan masyarakat atas produk dan jasa-jasa yang ditawarkan.

Kemudian dunia industri dan dunia usaha juga akan menderita kerugian dan pada akhirnya dunia ekonomi suatu bangsa bisa juga kacau balau.

Harga yang dibayar sangat mahal dari sebuah pelanggaran etika, perusahaan itu bisa saja langsung ditutup, seperti yang dihadapi oleh Perusahaan Fintech yang menghina nasabahnya dengan sangat tidak senonoh.

Dan sangat mungkin, mereka bisa dijebloskan dalam penjara bila terbukti melakukan perbuatan pidana penipuan, penghinaan dan seterusnya.

Kemajuan yang dibidang teknologi digital, informasi dan komunikasi yang berbasis aplikasi saat ini telah mendorong berbagai bentuk usaha atau bisnis yang luar biasa pertumbuhannya. Saking kencang dinamikanya, peraturan dan undang-undang yang mengaturnya selalu terlambat beberapa langkah kebelakang.

Setelah ada kasus yang muncul baru peraturan dan undang-undang dibuat. Jadi pemerintah selalu telat untuk mengejar penyimpangan etika bagi sejumlah pengelolaan usaha baru seperti fintch yang katanya jumlahnya sudah ribuan, dan lebih banyak lagi yang tidak memiliki izin alias ilegal.
Beberapa tahun yang silam, kasus debt collector bagi kartu kredit yang macet menjadi masalah besar di Indonesia. Karena kasusnya sampai kepada penganiayaan bahkan kematian bagi nasabah yang di kerjai oleh para debt collector yang macet kreditnya.

Untuk kasus sepeti kartu kredit relative sudah agak baik, karena ketegasan dalam menerapkan peraturan bagi debt collector yang tidak boleh sembarangan saja terhadap nasabah.

Nah, terulang dengan PinJol, atau pinjaman online seperti fintech saat ini.

Semoga pemerintah cepat bergerak untuk segera malakukan pengaturan tentang berbabagi sanksi bagi pelanggaran etika bisnis ini. Bukan soal besar atau kecil, tetapi ini soal dunia bisnis dan dunia indutri yang menjadi penopang kemajuan ekonomi negara ini.

Bila terus dibiarkan, maka konsumen, masyarakat, pasar dan dunia usaha akan menjadi rusak dan menjadi horor bagi pelaku ekonomi dan bisnis.

VIDEO PILIHAN