Mohon tunggu...
Rizky Febriana
Rizky Febriana Mohon Tunggu... Konsultan - Analyst

Senang Mengamati BUMN/BUMD dan Pemerintahan

Selanjutnya

Tutup

Kebijakan Artikel Utama

"Habibie" Baru di Tengah Industri Pertahanan Nasional

4 Januari 2020   02:07 Diperbarui: 5 Januari 2020   07:33 1489
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
BPPT luncurkan Prototype PUNA MALE Elang Hitam (Foto: BPPT)

Kemudian ada pula tipe AeroVironment RQ-20 Pumas berjumlah 1.137 unit, lalu 306 unit tipe RQ-16 T-Hawk dengan sistem UAS kecil, 246 unit tipe Predator dan MQ-1C Grey Eagles, 126 unit tipe MQ-9 Reaper, 491 unit tipe RQ-7 Shadows, hingga 33 unit tipe RQ-4 Global Hawk dengan sistem besar.

Bagaimana dengan Indonesia? Sebagian diantaranya sudah bisa dibuat sendiri meski masih dalam bentuk prototipe untuk kemudian diproduksi secara masal.

Sebagai contoh prototipe Pesawat tanpa awak (UAV) PUNA MALE yang baru saja diluncurkan merupakan hasil rancang bangun, rekayasa dan produksi anak bangsa sendiri melalui BPPT dan PT Dirgantara Indonesia ("PT DI").

Namun, sebagian yang lain belum terbayang. Wajar sih kita belum terbayang akan semua bayangan di atas. Selain bayangan-bayangan di atas perlu diuji kemungkinannya, yang menulis saat ini bukan anak IPA, bukan ahli robot yang paham matematika, fisika dan pemrogaman. Untuk itu bisa saja saya salah.

Hanya saja, sebagai anak sosial anak ekonomi, penulis hanya melihat fenomena bahwa anak Indonesia itu pintar, beprestasi di tengah keterbatasan bahkan bisa sejajar dengan negara-negara maju dari barat maupun timur.

Sayang kan kalau mereka tidak menemukan tempat berkaryanya. Hal ini sebagai fenomena sosial yang perlu disikapi, ada management kelembagaan yang perlu disempurnakan.

Karena dalam diskusi dengan teman sewaktu kuliah di Jogja dulu, ada yang pernah juara ajang bergengsi tingkat nasional Kontes Robot Indonesia ("KRI") sekarang memilih bekerja sebagai pegawai dan tugasnya lebih administratif. Alhasil karya robotnya hanya sebagai nostalgia masa lalu, "dimuseumkan".

Dalam skala yang lebih menasional, cerita yang lebih heroik kalau gak mau dibilang miris, seperti kisahnya Ricky Elson, ahli teknologi motor listrik dengan 14 paten di Jepang yang kembali ke Indonesia dan pada medio 2013 membuat prototipe mobil listrik nasional.

Kini dia seolah menghilang seiring menghilangnya wacana mobil listrik nasional, meski kita semua tahu dia saat ini mengabdikan dirinya di desa kecil di Tasikmalaya.

Sementara itu di Turki, di belahan bumi yang lain, prototipe mobil listrik baru saja diluncurkan 27 Desember 2019. Mobil listrik nasional TOGG berjenis SUV dan sedan akan diproduksi masal pada 2022 mendatang.

Padahal Indonesia seharusnya lebih dahulu sebagai produsen mobil listrik karena meluncurkan prototipe mobil listrik nasional jauh-jauh hari sewaktu Turki juga masih sebatas ide dan wacana.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
  7. 7
  8. 8
Mohon tunggu...

Lihat Konten Kebijakan Selengkapnya
Lihat Kebijakan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun