Rizky Febriana
Rizky Febriana profesional

www.rizkyfebriana.com

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Akhir Pekan bersama Warga

10 Agustus 2018   23:56 Diperbarui: 11 Agustus 2018   00:05 183 1 0
Akhir Pekan bersama Warga
17-an warga (dokpri)

Di tengah panasnya suhu politik nasional, akhir-akhir ini saya banyak merenung, bukan dalam konteks nasional, karena politik nasional sudah banyak yang ngurusin, tetapi saya sedang mencari apa sih makna, filosofi dan arti rukun tetangga, rukun warga dan atau paguyuban?

Rukun dan guyub. Guyub itu rukun, rukun itu ya guyub. Guyub rukun, bersama dan selaras, kompak, bareng-bareng. Sungguh kata yang sederhana menurut KBBI. Yang gak sederhana itu gimana caranya supaya jadi guyub dan rukun. 

Menjadi rukun dan guyub bersama tetangga dan warga sungguh-sungguh sangat tidak sederhana. Bagaimana mau guyub dan rukun kalau kenal aja nggak? Ketemu aja gak pernah padahal tetanggaan, padahal satu komplek satu RT satu paguyuban, padahal satu lingkungan tempat tinggal?

Jujur aja saya juga sering mikir, kenapa sih kita harus kenal dan ketemu warga apalagi kalau dipikir Senin-Jumat kita kerja, dari pagi hingga sore, 8 jam kerja kadang sampai larut malam. Kita pulang lalu tidur, bangun lagi kerja lagi terus begitu mulai dari Senin-Jumat. Jangankan sempat ketemu dengan tetangga dan warga, masih bisa bercengkrama bersama keluarga saja adalah capaian yang luar biasa.

Nah, Sabtu-Minggu sudah jatah quality time bersama keluarga. Kadang Sabtu Minggu kita bawa kerjaan kantor. Jadi ketemu tetangga dan kumpul bareng warga dah bukan jadi prioritas kita lagi. Kalau kerja kita prioritaskan bahkan kita rela lembur, kerja saat libur, semua itu ya wajar, karena kita digaji, hasilnya dapat dilihat langsung di atm saat akhir bulan tanggal 25 atau saat tanggal 1 setiap awal bulannya.

Waktu weekend kita prioritaskan juga untuk quality time bersama keluarga, wajar aja. Hidup sehari-hari kita bersama keluarga. Susah senang hidup bersama keluarga. Mungkin anda ingat film keluarga cemara? Ya itu, keluarga adalah harta yang paling berharga, istana yang paling indah, puisi yang paling bermakna, mutiara yang tiada tara.

Lantas apakah kita punya kewajiban berbagi untuk lingkungan tempat tinggal kita? Jawabannya tentu saja iya. Kenapa? Ya karena kita dasarnya adalah mahluk sosial. Kita gak bisa yang namanya hidup sendiri, pasti suatu waktu kita butuh bantuan tetangga dan lingkungan kita. Misal pinjam tangga buat benerin genteng rumah yang bocor atau sekedar nitip kunci rumah jika kita akan berpergian jauh disaat bersamaan akan ada family kita mau ke rumah.

Lalu apa saja yang perlu dibagi oleh kita untuk tetangga dan lingkungan kita supaya jadi rukun dan guyub? Menurut saya level pertama yang utama adalah waktu kita. Di era teknologi canggih, komunikasi via sosial media memang itu tetap perlu, Senin-Jumat boleh lah tetap aktif di grup WA warga. Tapi akhir pekan kayaknya perlu sesekali dalam setiap bulannya ketemuan secara langsung supaya tambah guyub dan rukun.

Karena guyub dan rukun memang gak bisa diraih dengan sekedar berkomunikasi japri atau whatsapp group maka perlu meluangkan waktu kita untuk acara-acara warga. Misal kerja bakti, maen futsal bareng, maen basket, pengajian warga, rapat bulanan, arisan atau pertemuan apapun yang merupakan acara rutin. Berapa jam waktu kita untuk warga? Ya standar kita beda-beda, kalau saya minimal 1-2 jam sebulan, cukup untuk say hallo. Lebih dari itu ya bagus.

Tetapi semuanya itu pilihan, apakah ada waktu akhir pekan kita yang disisihkan bersama warga?

Kalau waktu susah sekali untuk diluangkan. Maka jadilah warga yang baik untuk mendukung program rukun tetangga, rukun warga dan paguyuban. Warga baik itu misalnya kalau ada iuran wajib lingkungan untuk iuran kebersihan, keamanan, dan iuran bulanan lainnya ikut partisipasi. Atau iuran iuran momen seperti 17-an ikut juga patungan untuk ikut menyukseskan acara meski jasad kita absen dalam acaranya.

Kita, jangan jadi warga yang membebani. Protes saat sampah terlambat diangkut petugas kebersihan tetapi diam saat iuran kebersihan kita terlambat dibayarkan. Kita jangan bisanya hanya protes saat kemanan lingkungan rumah terganggu tetapi lupa bayar iuran keamanan buat security lingkungan tinggal kita.

Keaktifan untuk membayar iuran sebaiknya juga dilakukan bagi kita misalnya yang punya rumah di lingkungan tetapi kita tak tempati, rumah kita hanya untuk investasi. Rumah kosong bukan berarti bebas dan lantas tak berpartisipasi. Dan untuk yang ini, iuran, urunan, partisipasi dalam bentuk nominal, bukan pilihan seperti waktu yang sempat diluangkan atau tidak. Toh, apa yang kita keluarkan juga bukan untuk siapa-siapa, tetapi kembali lagi dari kita, oleh kita dan untuk kita.

Kalau kita ketemuan warga aja susah padahal sering ada di rumah dan ada waktu luang, kalau kita bayar iuran mesti diminta-minta dulu atau sering absen padahal kita mampu, nanti tetangga kita akhirnya bingung kalau suatu saat kita butuh bantuan, gak ditolongin kasian, ditolongin kok nyebelin. Hehehe

Inilah yang membuat saya merenung, saya ini warga yang seperti apa ya, apakah warga yang bisa rukun, bisa guyub atau yang nyebelin kah?