Mohon tunggu...
Rizky Andira
Rizky Andira Mohon Tunggu... Mahasiswa

Stay humble and classy.

Selanjutnya

Tutup

Ilmu Sosbud & Agama

Mencerdaskan Generasi Muda Indonesia dengan Literasi Media Massa

20 Januari 2021   11:24 Diperbarui: 20 Januari 2021   12:03 137 4 0 Mohon Tunggu...

INDONESIA - Generasi muda adalah adalah generasi penerus bangsa. Mereka-mereka adalah penerus tongkat estafet kepemimpinan dari generasi sebelumnya yang saat ini hampir sirna. Peran penting generasi muda sangat berpengaruh terhadap eksistensi suatu negara. Di sisi lain situasi serta kondisi generasi muda saat ini sangat berpengaruh terhadap keberlangsungan berbangsa dan bernegara beberapa tahun yang akan datang. Oleh karena itu, pendidikan serta pengetahuan yang mereka dapatkan harus tercukupi dengan baik. 

Pendidikan dan pengetahuan yang cukup menjadi prasyarat sebuah negara dalam membangun bangsanya. Lantas hal tersebut menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah, orang tua, serta guru dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Tentu, dalam menjalaninya tidak semudah yang kita bayangkan, terlebih hal tersebut sudah tercantum dalam pembukaan Undang-Undang 1945 yang merupakan pedoman bagi seluruh masyarakat Indonesia dalam melangsungkan kehidupan berbangsa dan bernegara. Banyak cara yang dapat ditempuh sebagai jalan untuk mencerdaskan generasi bangsa, salah satunya adalah dengan "Literasi Media Massa".

MEMAHAMI LITERASI 

Kemampuan mendasar yang dimiliki manusia seperti yang dinyatakan Teale dan Sulzby dalam Gipayana (2010:9) ialah konsep pengajaran literasi. Literasi dalam pandangannya diartikan sebagai kemampuan membaca dan menulis. Seseorang menyandang sebutan "literate" apabila ia memiliki kemampuan untuk mengoptimalkan pengetahuan yang hakiki dalam setiap aktivitas yang menuntut fungsi literasi secara aktif di dalam kehidupan bermasyarakat dan konteks kemampuan yang dicapainya dengan membaca, menulis, dan aritmatika yang memungkinkan untuk dimanfaatkan bagi dirinya sendiri dan perkembangan masyarakat dinamis. 

Selanjutnya, konsep literasi fisik pertama kali diusulkan pada tahun 1993 dalam sebuah makalah yang dipresentasikan oleh Margaret Whitehead. Pencetusan ini juga didorong dengan adanya pengertian literasi sebagai bentuk kemampuan seseorang dalam mengolah dan memahami informasi saat melakukan proses membaca dan menulis. Catatan penting, bahwa literasi memerlukan serangkaian pengetahuan bahasa tulis dan lisan, kemampuan kognitif, pengetahuan tentang genre dan kultural. Terkini, literasi juga berkaitan erat dengan sistem pembelajaran di sekolah yaitu ketersediaan bahan bacaan dan tumbuhnya masyarakat gemar membaca (reading society). 

Membaca  sendiri diterjemahkan (Wijono 1981, 44 dan Nurhadi 1978, 24) sebagai    suatu proses komunikasi ide antara pengarang dengan pembaca, di mana dalam proses   ini pembaca  berusaha  menginterpretasikan makna dari lambang-lambang atau bahasa pengarang untuk menangkap dan memahami ide pengarang. 

Selain itu, membaca juga tidak terlepas dengan sejarah keterkaitan literasi dalam kontribusi pendidikan, yakni menurut Prof. Dr. Tarwotjo M.Sc dalam kutipan yang diambil oleh Asul Wiyanto di pengantar bukunya yang berjudul "Terampil Menulis Paragraf", produk dari aktivitas Literasi berupa tulisan, adalah sebuah warisan intelektual yang tidak akan kita temukan di zaman prasejarah. Dengan kata lain, apabila tidak ada aktivasi literasi ataupun tulisan, sama saja kita berada di zaman prasejarah. Sehingga dengan demikian, budaya literasi sebagai pembentuk generasi literate bisa dikatakan sebagai upaya berkesinambungan dari peradaban yang mampu mentransformasi perilaku dan konsep berpikir.  

Kemajuan bangsa jika dikaitkan dengan gerakan literasi jelas sangatlah erat, karena keberadaan budaya literasi yang sudah melekat akan menumbuhkan semangat bangsa untuk lebih kritis, lebih kaya akan pengetahuan/wawasan, informasi, dan tentunya akan mendorong terciptanya berbagai gagasan, serta mampu berkomunikasi secara efektif dan pandangan rasional yang tidak dangkal. 

Tuntutan untuk menjadi masyarakat yang mampu melek teknologi, berpikir kritis, melek informasi, peka terhadap lingkungan, bahkan juga peka isu sekitar juga diartikan sebagai kemampuan seseorang dalam menyerap apa yang ada di lingkungannya untuk diterjemahkan secara keberaksaraan/literasi. Kepekaan atau literasi pada seseorang tentu tidak muncul begitu saja. Seseorang dapat dikatakan literat jika ia sudah bisa mengartikan dan memahami sesuatu karena membaca informasi yang tepat dan bertindak berdasarkan pemahamannya terhadap isi bacaan tersebut. 

Literasi tidak tumbuh secara instan, sebab latar belakang manusia yang tidak dianugerahkan kemampuan baca dan menulis sejak sedianya, atau kata lainnya ialah tidak ada manusia yang sudah literat sejak lahir. Bagaimana literasi dapat dilahirkan di kemudian?, ini terjawab dengan proses panjang dan sarana serta dukungan yang intensif. Kondusifitas harus dihadirkan dari lingkungan pertama, yakni ketika generasi lahir sebagai individu yang belum menerima kemampuan literasi. Lingkaran terdekat yakni keluarga harus mengupayakan dengan lalu dukungan pihak sekolah sebagai tempat berproses selanjutnya. Di tahap yang tidak kalah memberikan pengaruh gerakan literasi ini adalah lingkaran lingkungan pergaulan, dan lingkungan pekerjaan. 

Efektivitas budaya literasi juga berkaitan erat dengan pola pembelajaran di sekolah dan ketersediaan bahan bacaan di perpustakaan. Dalam dunia pendidikan ini terkhususnya, tulisan jelas mutlak diperlukan. Pada faktanya, buku pelajaran maupun buku bacaan yang lainnya merupakan sarana utama yang dipergunakan untuk belajar para peserta didik di lembaga-lembaga sekolah mulai tingkat dasar sampai perguruan tinggi (sebab tanpa adanya tulisan dan hidupnya budaya membaca, jelas pendidikan tidak akan dapat berjalan). 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
VIDEO PILIHAN