Mohon tunggu...
rizkya masir
rizkya masir Mohon Tunggu... Mahasiswa - @rzkyamasir_

Menjadi orang penting itu baik, tetapi menjadi orang baik jauh lebih penting..

Selanjutnya

Tutup

Diary Pilihan

Jam 21:45

26 April 2022   20:44 Diperbarui: 27 April 2022   08:20 239
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Mata ku menatap langit-langit kamar, kosong dan hampa.  Sudah satu bulan papa pergi meninggalkan kami, tapi rasa tidak percaya dan belum terbiasa tanpa sosok papa membuatku kadang seperti orang gila yang menunggu telfon dari papa seharian. 

Sabtu, 19 Maret 2022 sore hari setelah ashar aku mengirim pesan kepada kakak ku lewat whatsApp untuk menanyakan kabar papa. Yah, seperti biasa jawabannya selalu " jangan khawatir, papa sudah sembuh". Tapi entahlah, perasaanku sore itu tidak seperti biasanya. 

Setelah magrib aku mencoba menghubungi mama tapi nomornya tidak aktif, aku mencoba menghubungi kakak-kakak ku, hasilnya tetap sama. Perasaan ku semakin gak karuan, satu bulan terakhir sejak papa sakit, jarang sekali mama dan orang-orang rumah menelfonku, paling sesekali hanya untuk memberi kabar perkembangan kondisi papa. Kebetulan hanya aku yang tidak dirumah. 

Aku di Solo, sedang menempuh Studi S1 di Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Setelah isya, aku di ajak temanku keluar jalan-jalan dan kebetulan malam itu malam minggu, tapi ku tolak karna lagi gak mood.  pukul 20:oo aku membuka whastApp dan melihat kakak buat instastory di whatsApp  " Allah..." , hanya dengan kata itu, dan tumbennya aku gak replay, biasanya setiap kakak2ku buat instastory aku selalu replay atau tanya-tanya, soalnya mereka jarang juga buat isntastory, sekalinya buat pasti sedang ada sesuatu. Aku mencoba menenangkan diriku sendiri dan berusaha berfikir positif semoga tidak terjadi apa-apa.

Terakhir vidio call papa sekitar 2  minggu  lalu dan memang waktu itu papa sudah bisa duduk tapi masih muntah-muntah dan beberapa keluhan lain. 

Pukul 21.45 ada telfon masuk dari kakak iparku. "kia..." panggilnya lirih dari ujung telfon tanpa mengawali dengan salam atau kalimat-kalimat lain. tidak terdengar suara apa-apa dari sana, hening dan sunyi sekali. "Dengar baik-baik" katanya. "Iyo kak" jawabku menggunakan bahasa daerah kami. 

"Tut..tut..tutt.." belum mengatakan apa-apa telfon tiba -tiba putus. Dua menit kemudian beliau kembai menghubungi ku, kali ini dengan salam dan suaranya tenang. "kia dengar baik-baik" katanya, "iyo kak" jawabku. "Papa sudah dipanggil Allah...".  

Hanya satu kalimat itu dan telfon kembali terputus. Kalian tahu rasanya  duniaku saat itu seperti apa? Yah, betul. Hancur. Hampir beberapa menit  aku terdiam sebelum akhirnya tangisku pecah. Teman-teman kos langsung masuk mencoba menenangkan ku yang mereka sendiri gak tahu apa penyebabnya. 

Orang rumah kembali menghubungi ku dan yang angkat salah satu teman kos, mereka membantu ku memesan tiket pesawat malam itu dan mengurusi segala yang kuperlukan diperjalanan pulang. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Diary Selengkapnya
Lihat Diary Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun