Mohon tunggu...
Rizki Saputra
Rizki Saputra Mohon Tunggu... Nagan Raya, Nanggroe Aceh Darussalam

Rizki Saputra: Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Arab yang menyukai kisah-kisah serta buku-buku klasik yang bersumber dari negeri Timur.

Selanjutnya

Tutup

Novel

Cinta Terpendam Layla : Layla Majnun

26 Februari 2020   21:37 Diperbarui: 26 Februari 2020   21:40 56 0 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Cinta Terpendam Layla : Layla Majnun
index-5e5680aad541df60816c98f3.jpg

Kisah-kisah klasik dari negeri Timur memang tak akan pernah lekang dimakan zaman, setiap kisahnya selalu datang dengan membawa aneka warna yang baru yang membuat jiwa pembaca dan pendengarnya ikut terseret seolah-seolah mereka ada dan hadir dalam kisah yang sedang dibaca atau didengarnya. Salah satu kisah klasik dari negeri Timur yang cukup terkenal dan sudah tersebar ke seluruh penjuru dunia adalah kisah  antara Qays dan Layla, yang kemudian dikenal dengan kisah Layla dan Majnun. Kisah ini menceritakan dua manusia yang saling merindu dan mencintai namun harus terpisah karena orang tua dari salah satu pihak tidak pernah merestui hubungan keduanya. Cerita dua insan yang saling merindu ini hampir disamakan dengan kisah Romeo dan Juliet dari Eropa, walaupun kisah Layla Majnun ini sudah lahir sebelum karya William Shakespeare itu tercipta.

 Qays merupakan putra dari seorang raja besar di Jazirah Arab, seorang raja besar yang bernama Sayyid pemimpin suku Banu Amir. Ia adalah seorang pria yang hampir putus asa karena tidak kunjung memiliki momongan, berbagai usaha sudah ia lakukan demi mendapatkan cahaya untuk menerangi hari-harinya yang gelap bagaikan malam gulita. Hasratnya untuk memiliki anak begitu besar hingga ia mengabaikan semua karunia Tuhan yang telah diberikan kepadanya seperti kesehatan, kekayaan, serta kekuasaan. Ia terus berdo'a dan bersedekah hingga akhirnya ia hampir putus asa, namun Allah mengabulkan permintaannya di detik-detik terakhir dari usahanya. Ia dikarunia seorang bayi laki-laki yang tampan bagaikan mawar yang baru mekar. Bagi Sayyid, bayi tersebut bagaikan berlian yang keindahannya mampu mengubah malam menjadi siang.

Kemudian Sayyid mengirim Qays ke tempat pendidikan karena ia menyadari pentingnya pendidikan bagi sang anak. Qays merupakan anak yang rajin dan antusias dalam menerima pelajaran, ia sangat terampil dalam bidang membaca dan menulis. Ketika ia berbicara, ucapan dan pesan yang keluar dari bibirnya selalu dibungkus kalimat-kalimat bijak dan selalu diakhiri dengan keindahan saja'. Suatu hari, seorang gadis bergabung dalam kelasnya. Gadis itu bernama layla, wajahnya memancarkan kecantikan yang luar biasa, matanya bersinar dan berwarna gelap bagaikan mata rusa. Tapapan pertama Qays kepada Layla membuatnya jatuh cinta dan tenggelam dalam lautan cinta dan mabuk dengan buih-buih kerinduan. Namun ia tidak tenggelam dan mabuk dalam lautan cinta dan kerinduan sendirian, karena Layla juga mengalami hal yang sama. Api cinta dan kerinduan itu telah menyala dan saling menerangi satu sama lain dan mereka tidak mampu memadamkan api tersebut.

Berita hubungan Qays dan Layla akhirnya sampai ke telinga suku Layla dan ke ayahnya, demi menjaga putri tunggalnya. Ia membatasi ruang gerak Layla dan menyampaikan pesan kepada Majnun agar ia menjauhi dan tidak mengganggu putrinya lagi. Tembok pemisah yang dibangun oleh ayahanda Layla berhasil menjauhkan dua pencinta secara geografis, namun ia lupa bahwa cinta tidak datang berdasarkan jarak, namun cinta itu datang dari hati sekalipun dua hati yang saling mencintai berada di barat dan timur. Tembok tersebut hanya bisa menghalang pertemuan antara dua jasad, namun tidak bisa menghalangi dua hati yang saling merindu dan mencintai. Kecintaan dan kerinduan yang mereka rasakan masih tetap menyala bahkan lebih besar lagi.

Qays mengungkapkan rasa cinta dan rindunya terhadap Layla melalui bait-bait indah yang bisa didengarkan oleh orang-orang yang berada di sekelilingnya, sikap dan perilaku Qays menggambarkan seberapa besar cintanya kepada Layla dan ia tidak sanggup hidup jika ia tidak mengingat dan menyebut nama Layla. Berbeda dengan Layla, ia lebih memilih untuk memendam kecintaan dan kerinduan di dalam hatinya. Ia membiarkan cinta dan rindunya memakan habis jantung dan hatinya tanpa sepengetahuan orang lain kecuali dirinya dan satu teman curhatnya, yaitu hembusan angin di waktu malam. Ketika siang ia bersikap sebagaimana perempuan pada umumnya, ia berbicara, merespon lawan bicaranya, tersenyum, bahkan tertawa. Ketika matahari mulai terbenam, baru terlihat bahwa senyum dan tawanya di waktu siang adalah kepalsuan. Rasa sedih, lemah, tanpa arah, dan air mata kejujuran yang mengalir di pipinya barulah terlihat, dan tidak seorangpun mengetahui hal tersebut. Perasaan cintanya terhadap Majnun tergambarkan lewat air mata yang keluar dan mengalir di pipinya tanpa henti sepanjang malam seraya menuturkan sya'ir-sya'ir indah yang ia tujukan kepada Majnun melalui hembusan angin malam.

Demikian juga, ketika ayahnya dan ibn Salam telah menentukan hari pernikahan keduanya, ketika para wanita menghias dinding tempat pernikahan akan berlangsung, ia berusaha untuk menahan air mata kejujuran namun ia tak kuasa. Air mata tersebut tetap melimpah dan tidak seorangpun dari wanita-wanita tersebut menyadarinya dan tak seorangpun yang bisa memahami badai yang bergejolak dalam hatinya. Ketika pernikahan selesai dan Layla di bawa ke kemahnya ibn Salam, ia tidak mau makan, minum, tidur, dan tidak mengizinkan ibn Salam untuk menyentuh tempat tidurnya apalagi sampai menyentuhnya, dan yang terlihat dari diri Layla hanyalah air mata.

Akhirnya, Majnun mendapati berita pernikahan Layla dengan ibn Salam setahun setalah pernikahan itu berlalu, seluruh badannya kaku dan dengan tiba-tiba ia tersungkur ke tanah tatkala mendengar berita itu. Hari demi hari berlalu, takdir menebarkan duri di jalan yang dilaluinya sendiri. Kehidupan pecinta ini yang terbengkalai karna rasa rindu akhirnya sampai ke telinga kekasihnya (Layla), ia hidup sendirian dengan kenangan cinta dan harapan rindu untuk satu pertemuan.

Mendengar cerita tersebut, air mata Layla menetes bagaikan hujan di tengah musim semi. Kemudian Layla menulis sepucuk surat dan diserahkannya kepada sang pengantar surat yang sudah tua. Ketika surat tersebut sampai ke tangan Majnun, ia merasa berat untuk membukanya apalagi membacanya, tiba-tiba Majnun bertingkah aneh seolah tubuhnya ditawan beberapa iblis dan menariknya dari berbagai arah. Tubuhnya bergerak ke sana ke mari, kemudian berputar-putar dengan begitu keras hingga ia pingsan di kaki pengantar surat. Di kaki tersebut ia berbaring bagaikan orang pingsan karena terlalu banyak minum anggur dan genggaman tangannya tidak melepaskan surat tersebut. Pertama kali yang dilihatnya ketika ia sadar adalah surat itu, dengan pelan ia membuka segel dari surat itu dan membacanya dengan pelan dan penuh perhatian.

"Surat ini adalah surat dukacita yang dikirimkan oleh jiwa yang dilanda kesedihan kepada sesamanya. Surat ini berasal dariku, seorang tawanan, untukmu yang telah melepaskan diri dari rantai yang membelenggumu dan mendapatkan kebebasan. Kapankah semua itu terjadi, apakah saat aku mengikat diriku kepadamu? Berapa banyak hari tanpa jiwa, berapa malam yang berlalu dengan airmata telah berlalu sejak saat itu?"

            Dalam surat itu juga, Layla memberikan klarifikasi tentang pernikahannya:

            "Memang benar aku telah menikah. Aku memiliki suami, tapi bukan seorang kekasih; ia tak pernah berbagi perpaduan denganku. Percayalah, situasi ini telah membuatku lelah hingga aku tak lagi punya kekuatan untuk berpikir, tapi aku berjanji kepadamu, tak ada seorangpun yang telah menyentuh hartaku. Hal itu akan tetap tertutup bagaikan kuncup bungan yang mempesona namun takkan pernah mekar".

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN