Mohon tunggu...
Rizki Maheng
Rizki Maheng Mohon Tunggu... Football Blogger - visit my Blog at www.pengamatbola.id

Rizki Maheng adalah seorang Football Blogger atau Blogger Pengamat Bola yang mulai rutin menulis ulasan sepakbola sejak 2012. Sebagai Football Blogger, Rizki Maheng pernah rutin tampil sebagai Analis dalam Program Football Insight yang tayang di Berita Satu TV selama 5 tahun (2014 - 2019) Ulasan Rizki Maheng bisa dibaca di Blog pengamatbola.id atau didengarkan via Channel Podcast Bung Rizma

Selanjutnya

Tutup

Bola Pilihan

Milan Menurun, Mengapa Pioli Ogah Ganti Strategi?

20 Maret 2021   10:52 Diperbarui: 20 Maret 2021   10:55 99 3 0 Mohon Tunggu...

Ada apa dengan AC Milan? Tim yang sangat bersinar di tahun 2020 kini bak berganti nasib sejak pergantian tahun ke 2021. Dari tim yang sangat diharapkan meraih trofi juara, kini Milan berangsur-angsur menurunkan level ekspektasi untuk hanya sekedar lolos ke Liga Champions.

Repotnya, target lolos ke Liga Champions musim depan pun kini jadi tanda tanya besar. Milan benar-benar berubah drastis. Dari tim yang tampak selalu siap menang (atau minimal tidak mudah kalah) menjadi tim yang terlihat mudah kehilangan poin.

Sebagai catatan, momen kebangkitan Milan diawali kekalahan telak dari Atalanta pada laga 22 Desember 2019 yang ditandai skor memalukan 0-5. Milan benar-benar berada di titik terendah mereka saat itu. Pelatih baru (Stefano Pioli) yang diragukan fans serta hasil laga yang sangat menyedihkan.

Setelah itu Milan membaik. Mereka meraih 5 kemenangan beruntun meski kemudian penyakit angin-anginan mereka kambuh lagi. Sebelum Serie A dihentikan sejenak karena pandemi, Milan hanya meraih 1 kemenangan dari 6 laga dimana sisanya berakhir 2 kekalahan dan 3 hasil seri. Milan mulai membaik tapi belum stabil.

Saat Serie A bergulir lagi di tengah pandemi, entah dapat kekuatan dari mana, Milan menjadi tim yang berbeda. Donnaruma dkk menjalani 28 laga beruntun tanpa kalah di seluruh kompetisi dari Maret sampai November.

Hebatnya Milan di tahun 2020 itu, mereka melalui 28 laga tanpa kalah itu dengan 23 kemenangan. Tidak tanggung-tanggung, klub seperti Juventus, Lazio, AS Roma sampai Inter Milan takluk oleh "The New Milan".

Sempat kalah pertama kali dari Lille di Europa League, Milan masih stabil dengan menutup tahun 2020 lewat laju 14 laga tak terkalahkan dan hasil 8 kemenangan. Performa luar biasa yang bikin ekspektasi Milanisti membumbung tinggi. Memasuki 2021, Milan memimpin puncak klasemen Serie A setelah sekian tahun lamanya berkutat di papan tengah. Scudetto di depan mata.

Namun apa mau dikata, pergantian tahun seperti mengganti juga kinerja Milan. Tidak perlu menunggu lama, pada laga kedua tahun 2021 Milan kalah 1-3 dari Juventus. Dan pesta bagi Milan tampaknya berakhir sejak laga ini.

Usai kekalahan tersebut Milan tidak sama lagi. Mereka jadi lebih mudah kalah atau seri dan kepayahan meraih kemenangan. Dalam 17 laga setelah takluk dari Juve, Milan kalah 6 kali dan seri 4 kali. Artinya, terdapat lebih dari 50% laga dimana Milan gagal menundukkan lawan.

Buntut dari penurunan performa ini terasa menyakitkan bagi Milanisti yang sudah kadung berharap banyak. Milan tersingkir dari Coppa Italia dan Europa League. Milan terlempar dari puncak klasemen Serie A bahkan terancam kehilangan posisi 4 besar klasemen jika tidak segera berbenah mengingat dalam 3 laga terakhir Milan tidak pernah lagi menang. Mereka bahkan kalah dua kali beruntun di kandang sendiri dari Napoli dan Manchester United.

Ada apa dengan Milan?. Well, saya menilai alasan utama yang menyebabkan Milan mengalami penurunan performa luar biasa sejak pergantian tahun adalah karena gaya permainan Milan sudah terbaca dengan baik oleh lawan-lawan mereka. Tentu bukan tanpa alasan bila lawan-lawan Milan menjadi paham bagaimana cara meredam Milan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN