Mohon tunggu...
Rizki Ariva Zahra
Rizki Ariva Zahra Mohon Tunggu... Mahasiswa - mahasiswi

kim'58

Selanjutnya

Tutup

Edukasi Pilihan

Pendidikan pada Perempuan

30 Juli 2021   10:56 Diperbarui: 30 Juli 2021   13:33 90 1 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Pendidikan pada Perempuan
Edukasi. Sumber ilustrasi: PEXELS/McElspeth

Pendidikan merupakan bagian dari HAM yang mana berhak didapat oleh siapa saja dan dimana saja. Majelis Umum PBB mendeklarasikan dalam 'Universal Declaration of Human Rights' tahun 1948 pasal 13 - 15, bahwa baik perempuan maupun laki-laki, memiliki hak atas pendidikan, mendapat wajib belajar tingkat dasar, dan kemajuan terhadap pengetahuan. Sayangnya, di Indonesia sendiri, pendidikan terhadap perempuan sering dianggap kurang penting dan cenderung kurang dihargai. Belum lagi lekatnya budaya menikah muda pada masyarakat Indonesia meskipun anak perempuan tersebut masih di bawah umur .

Budaya patriarki yang sudah mendarah daging, membuat perempuan seringkali dibatasi hak-haknya dalam berpendidikan. Maraknya stigma tentang perempuan hanya akan berakhir menjadi seorang ibu dan istri, membuat pemikiran bahwa pendidikan yang tinggi tidak lagi diperlukan bagi perempuan. Belum lagi, tuntutan dari dalam keluraga dimana perempuan tidak diperbolehkan memiliki pendidikan yang lebih tinggi daripada laki-laki, baik laki-laki yang merupakan anggota keluarganya sendiri maupun pasangannya. Perempuan yang berpendidikan tinggi juga dianggap akan kesulitan mendapatkan pasangan. Seakan-akan perempuan memiliki tanggung jawab atas ketidakpercayaan diri seorang laki-laki dalam bidang pendidikan.

Pemikiran manusia itu sejatinya seperti sebuah plastik. Dimana cara berpikir seseorang bisa berubah-ubah bergantung pada masyarakat dan situasi di sekitarnya. Sayangnya, stereotip gender yang sudah marak di masyarakat Indonesia juga kian memperparah pandangan mengenai perbedaan gender pada manusia.

Bahkan, ditemukan dalam "Buku Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti" halaman 8, terdapat gambaran terhadap peranan gender yang berbeda dalam pekerjaan rumah. Contohnya, gambar seorang anak laki-laki sedang bersiap pergi ke sekolah dan anak perempuan sedang mencuci piring. Dari ilustrasi yang terdapat pada buku pembelajaran tersebut, pemikiran anak-anak seperti dibentuk seakan-akan perempuan berperan di dalam ruangan dan laki-laki berperan di luar ruangan. Terdapatnya gambar-gambar yang mengotak-kotakkan pekerjaan, hobi, dan emosi berdasarkan gender pada buku pembelajaran ini yang akhirnya akan mempersempit cara pandang manusia terhadap perbedaan gender.

Di pakistan, terdapat budaya dimana perempuan yang berpendidikan adalah sebuah ancaman dan bertolak belakang dengan budaya di sana. Di India ataupun sub-Sahara Afrika, perempuan terpaksa berhenti sekolah ketika mengalami menstruasi karena mendapat olokan dan sulitnya mencari pembalut. Di Indonesia, faktor ekonomi merupakan salah satu faktor mengapa perempuan tidak dapat melanjutkan pendidikannya.

Dikutip dari Tirto.id 'Kerikil Tajam Dunia Pendidikan', Sanita dipaksa menikah di usianya yang baru menginjak 13 tahun oleh orang tuanya dikarenakan keluarganya mengalami kesulitan secara ekonomi. Namun, Sanita menolak dan mengatakan bahwa ia akan membayar seluruh biaya yang orang tuanya keluarkan untuknya, hanya jika ia diperbolehkan untuk melanjutkan pendidikannya. Dan jika orang tuanya memaksanya menikah, maka ia tidak akan punya apa-apa lagi.

Hambatan bagi perempuan untuk medapatkan pendidikan diantaranya ialah mendominasinya budaya patriarki dikalangan masyarakat, perlakuan diskriminasi gender secara budaya, kemiskinan, serta maraknya pelecehan terhadap perempuan di dunia pendidikan. Hal-hal tersebutlah yang akhirnya membuat kurang meratanya pendidikan bagi perempuan. Padahal, perempuan yang berpendidikan tinggi cenderung memilih menunda pernikahan, kehamilan di usia muda, dan dapat memiliki pekerjaan serta pendapatan yang menjamin keberlangsungan hidupnya. Perempuan yang berpendidikan juga dapat membesarkan dan mendidik anak-anaknya menjadi pribadi yang berkualitas.

Perempuan kini harus bisa angkat suara demi menegakkan hak-haknya, tak terkecuali dalam bidang pendidikan. Jikalau perempuan memilih ingin menjadi menjadi istri dan ibu sebagai tujuan akhirnya, pendidikan yang tinggi juga masih berperan penting dalam kehidupannya. Karena, anak-anaknya akan lahir dan besar dari ibu yang berpendidikan, sang ibu bisa menjadi sekolah pertama untuk anak-anaknya, dan menghasilkan keluarga yang berkualitas.

Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN