Mohon tunggu...
Rizka Ami Nurrachim
Rizka Ami Nurrachim Mohon Tunggu... Mahasiswa UPN Veteran Jakarta

Librocubicularist

Selanjutnya

Tutup

Hukum

Post-Truth adalah Akar dari Hoaks

16 November 2020   19:41 Diperbarui: 16 November 2020   21:13 103 2 0 Mohon Tunggu...

Post-Truth, itulah era di mana kita hidup sekarang. Di mana opini publik tidak lagi ditentukan berdasarkan fakta, tetapi oleh emosi dan keyakinan. Situasi dengan perkembangan teknologi tampaknya membuat keberadaan hoaks semakin diterima oleh masyarakat. Penipuan menjadi semakin dapat diandalkan, meskipun tidak dapat diverifikasi. Situasi ini sebenarnya sangat berbahaya karena orang bisa mengandalkan kehidupan berita yang tidak jelas. Bahkan, informasi dan hal-hal yang benar diabaikan. Keadaan akan bertambah buruk ketika orang mulai menyebarkan lelucon dengan beberapa prediksi yang mungkin belum tentu terjadi.

Dua peristiwa membuat post-truth menjadi dialog bagi banyak orang di seluruh dunia. Hal pertama di balik fenomena pasca-kebenaran adalah keputusan Inggris untuk mundur dari Uni Eropa. Peristiwa kedua yang memperparah fenomena ini adalah kemenangan Donal Trump dalam persaingan politik di Amerika Serikat. Sedangkan di Indonesia, sejak Pilpers 2019 lalu, di negara kita sudah menggunakan istilah post-truth, ketika salah satu calon Presiden menyatakan kemenangan sebelum perhitungan selesai dilakukan. Dalam kamus Oxford sudah dijelaskan bahwa post-truth ini merujuk pada situasi di mana fakta objektif memiliki pengaruh yang lebih kecil terhadap opini publik daripada berita emosional. Hal ini berdampak pada penyembunyian fakta obyektif masyarakat, sehingga memakan berita secara mentah-mentah, tidak peduli itu benar atau salah. Jadi, kenapa hal ini bisa terjadi? Padahal, instansi resmi dan portal berita selalu ada dalam proses memberikan informasi kepada seluruh pengguna internet. IDN times mengabarkan banyak faktor yang membuat netizen gemar mengonsumsi berita scam, di antaranya adalah:

Pertama, minimnya minat baca pada masyarakat Indonesia, sehingga banyak netizen yang hanya membaca judul sebuah berita, tanpa membacanya sampai selesai. Banyak orang menganggap dari sebaris judul sudah bisa menentukan isi dan kesimpulan dari berita.

Kedua, hanya percaya pada satu sumber berita. Menjadi paranoid hanya dalam satu sumber dapat menyebabkan hilangnya sikap teliti saat mencari dan menerima informasi, padahal tidak semua portal berita menjamin kebenarannya.

Ketiga, membagikan informasi yang mewakili perasaan secara instan. Menurut psikologi, seseorang yang ingin selalu belajar akan mencari kebenaran informasi, bukan rasionalitas pemikiran pribadinya. Ketika ada kesalahan dan tidak bisa dimengerti, dia akan mengakuinya dan belajar dari hal tersebut.

Keempat, sebagian besar netizen tidak mau menemukan kebenaran tentang berita tersebut dan memverifikasinya kembali, dan beberapa bahkan tidak tahu bagaimana cara melakukannya. Dalam studi psikologi disebutkan bahwa kebanyakan orang akan berperilaku sesuai dengan keinginan mereka untuk mendapatkan berita. Contohnya, pada berita yang memuat sebuah video tidak senonoh yang di-klaim mirip seorang publik figure, dan sedang menjadi perbincangan publik hingga saat ini. Padahal, berita itu belum tentu benar atau salah, namun sudah banyak netizen yang berasumsi dengan pendapatnya sendiri-sendiri. Sudah dijelaskan dalam UU ITE, bagi penyebar berita bohong atau hoaks, akan mendapatkan sanksi pidana sesuai dengan Pasal 45A ayat (1) UU No.19 Tahun 2016, yaitu pidana penjara paling lama enam tahun atau denda paling banyak Rp.1 Miliar.

Dari faktor-faktor yang sudah disebutkan di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa kecenderungan netizen untuk memperoleh informasi berasal dari emosi, tren, dan lain-lain. Padahal, untuk mendapatkan informasi yang benar diperlukan penelitian yang mendalam untuk menginterpretasikan informasi tersebut. Pada prinsipnya, era post-truth saat ini memiliki beberapa pengaruh, antara lain:

Pertama, munculnya kecurigaan antar sesama masyarakat. Kehadiran berita hoaks tentunya akan membuat masyarakat semakin terganggu dan cemas. Apalagi jika memberitakan hal-hal buruk dan tampaknya terjadi di kalangan orang biasa. Hal ini dapat menyebabkan orang memiliki pemikiran yang negatif. Oleh karena itu, jangan heran jika keadaan ini akan membuat masyarakat semakin terpengaruh sehingga mereka selalu waspada dan curiga terhadap siapa pun.

Kedua, berkembang pesatnya informasi yang tidak akurat. Era post-truth tampaknya menandai perkembangan teknologi yang pesat. Teknologi yang berkembang pesat saat ini juga ditandai dengan semakin banyaknya media sosial yang bermunculan dan mendapat sambutan hangat dari masyarakat. Keberadaan media sosial tidak selamanya dimanfaatkan untuk hal-hal yang positif, tetapi media sosial juga digunakan untuk berbagi informasi yang tidak benar, serta-merta terbukti kebenarannya. Informasi yang tidak valid dan diragukan keakuratannya semakin banyak disebarkan oleh pengguna Internet.

Ketiga, meningkatnya kemampuan literasi. Kredibilitas berita scam semacam ini membuat generasi muda semakin waspada. Tidak semua orang bisa menelan informasi mentah, terutama kaum muda yang cenderung emosional dan antusias memberikan hal-hal positif kepada masyarakat. Saat informasi yang tidak benar tersebar, maka akan semakin sulit untuk sebagian orang menunjukkan kesalahan dalam berita yang menipu, salah satu caranya adalah dengan meningkatkan literasi untuk menemukan kebenaran.

Keempat, era digital post-truth tidak hanya berpengaruh pada orang dewasa saja, tetapi turut mempengaruhi perkembangan karakter anak. Dahulu, anak cenderung aktif dalam berbagai hal yang melibatkan keterampilan motorik, tetapi ide dan inovasi belum berkembang seperti saat ini. Sebaliknya, di zaman sekarang ini, anak-anak seolah-olah memiliki kecerdasan di ranah digital. Kecerdasan dalam komputasi dan kemampuan anak-anak untuk memanipulasi segala sesuatu yang berhubungan dengan internet semakin meningkat.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x