Mohon tunggu...
Rizieq Ramadhan
Rizieq Ramadhan Mohon Tunggu... Mahasiswa - Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Trilogi; Baca-Diskusi-Nulis.

Selanjutnya

Tutup

Pendidikan Pilihan

Makna Pendidikan Sebagai Sumber Alternatif Pemberdayaan Sumber Daya Manusia

18 Agustus 2022   11:17 Diperbarui: 18 Agustus 2022   11:25 272 2 1
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Pendidikan. Sumber ilustrasi: PEXELS/McElspeth

Tidak bisa dipungkiri, bahwa akar masalah dari berbagai krisis yang melanda negeri kita adalah ‘pendidikan’. Sebab, dari dunia pendidikan inilah dilahirkan para pemimpin, guru, pekerja, politisi, pengusaha, dan sebagainya. Dalam bahasa Imam Al-Ghazali, akar masalah yang menimpa masyarakat adalah kerusakan ulama, yang berakar lagi pada kerusakan ilmu. Prof. Naquib al-Attas menyebut, akar masalah umat adalah loss of adab yang berakar dari confusion of knowledge. (Adian Husaini 2017, hlm. 8). 

Kekacauan pendidikan hari ini masih harus ditambah dengan gelombang globalisasi pendidikan dan Revolusi Industri 4.0. Tuntutan yang bergema mengacu pada pemenuhan kebutuhan tenaga kerja semata. Ironisnya, fakta di lapangan mengemukakan bahwa perusahaan sulit mendapat tenaga kerja siap pakai meski sarjana di Indonesia berlimpah. Berdasar penelitian yang termuat dalam tulisan Prof. Satrio Sumantri Brojonegoro, Mempertanyakan Cetak Biru Pendidikan Indonesia, karyawan Indonesia 92% sangat lemah dalam membaca, 90% lemah dalam menulis, 84% lemah dalam etos kerja, 83% lemah dalam kemampuan berkomunikasi, dan 82% lemah dalam kemampuan bekerja dalam tim. Kemampuan critical thingking, creativity, communication, dan collaboration sangat diperlukan untuk berkembang di setiap kondisi zaman, terlebih era disrupsi. (Admin 2019, Reformasi Pendidikan Indonesia Memerlukan Lima Hal Penting - Catatan INSIST Saturday Forum (INSAF). [Online]. Tersedia: https://insists.id/reformasi-pendidikan-indonesia-memerlukan-lima-hal-penting-catatan-insists-saturday-forum-insaf-5-1-2019/

Realitanya manuver kurikulum dari tahun 1964 dengan rencana pendidikan Sekolah Dasar, sampai yang terakhir kurtilas (Kurikulum Tahun 2013). Tentunya membawa banyak perubahan sekaligus problem baru. Akses teknologi mutakhir yang jauh dari kata masif menjadi pr baru bagi pemerintah dan tenaga pendidik. Kompleksitas atau kerumitan ini semakin di perparah dengan pola fikir dan persepsi masyarakat terhadap pendidikan, terutama di daerah Timur tepatnya kabupaten Seram Bagian Barat (SBB) provinsi Maluku. Asumsi yang acap kali diamini masyarakat bahwa orientasi klimaks dari pendidikan yaitu mampu bekerja di instansi berlabel, ternama, bergengsi dan lain-lain. Implikasinya peserta didik hanya dituntut bagaimana memperoleh informasi/pengetahuan sebanyakbanyaknya namun cacat pada segi adab. 

Seumpama benang kusut yang masih belum terurai, titik sentral benang kusut ini akan teruarai ketika konsep pendidikan dipahami dengan baik bahkan dengan mengacu pada nilai-nilai agama Islam, berdasarkan pemaparan singkat diatas. Penulis hendak memotret Konsep Pendidikan Dalam Islam, Problematika Pendidikan di Daerah Pesisir dan Generasi Shalahuddin Sebagai Cerminan.

A. Konsep Pendidikan Dalam Islam

Pengertian pendidikan, dalam konteks pendidikan Islam sinonim dengan kata tarbiyah, ta’dib, dan ta’lim. Namun secara umum kata tarbiyah sering digunakan untuk pengertian pendidikan Islam. Menurut H. Ramyulis dalam bukunya Ilmu Pendidikan Islam, “dalam al-Qur’an tidak ditemukan kata al-tarbiyat, namun terdapat istilah lain yang seakar dengannya, yaitu al-rabb, rabbayani, murabby, yurby, dan rabbany. Dalam al-Sunnah ditemukan kata rabbaniy”. (Rahmat Rosyadi 2012, Konsep dan Sistem Pendidikan Islam. [Online]. Tersedia: https://insists.id/konsep-dan-sistem-pendidikan-islam-1/

Abul A’la al-Maududi, seperti dikutip Ramayulis berpendapat, bahwa kata rabbun (raba) terdiri dari dua huruf “ra” dan “ba” tasydid. Kedua kata itu merupakan pecahan dari kata tarbiyah yang berarti “pendidikan, pengasuhan, dan sebagainya”. Kata tersebut juga memiliki beragam arti antara lain: “kekuasaan, perlengkapan, pertanggungjawaban, perbaikan, penyempurnaan, dan lain-lain”. Musthafa al-Maraghy3 , menyatakan kata itu merupakan predikat bagi suatu “kebesaran, keagungan, kekuasaan, dan kepemimpinan”. Pengertian secara etimologis seperti dikemukakan oleh para ahli pendidikan tersebut di atas memiliki keragaman arti yang mengarah pada peningkatan pertumbuhan dan perkembangan secara fisik serta peningkatan kemampuan, pemeliharaan secara psikis peserta didik yang harus dilakukan melalui proses pendidikan. (Rahmat Rosyadi 2012, Konsep dan Sistem Pendidikan Islam.[Online]. Tersedia: https://insists.id/konsep-dan-sistem-pendidikan-islam-1/

Dalam Bahasa Arab, istilah “tujuan” berpadanan dengan kata maqashid yang menunjukkan kepada jalan yang lurus. Kata ini merupakan kata jadian dari qashada yang tersebar dalam al-Qur’an yang memberi arti pokok. Berdasarkan berbagai istilah tersebut di atas, maka tujuan pendidikan (maqashid al-tarbiyah) dalam Islam mengacu pada tujuan umum (aims) yang mengarah kepada tujuan akhir (goals) melalui tujuan antara (objectives). Tujuan pendidikan Islam bertitik tolak dari konsep penciptaan manusia sebagai khalifah dan fitrah manusia. Manusia dalam alQur’an menempati posisi yang sangat istimewa, karena ia diciptakan oleh Allah SWT sebagai khalifatan fil’ardhi (wakil Tuhan) dengan tugas dan fungsi ibadah hanya kepada-Nya. (Rahmat Rosyadi 2012, Konsep dan Sistem Pendidikan Islam.[Online]. Tersedia: https://insists.id/konsep-dan-sistem-pendidikan-islam-1/

Hal ini dinyatakan dalam ayat-ayat al-Qur’an yang menunjukkan bahwa manusia merupakan pilihan Maha Pencipta untuk menguasai jagat ray aini. Untuk menjadikan manusia terbaik itu, maka Allah sendirilah sebagai “pendidik” secara langsung kepada manusia pertama, yaitu Nabiyullah Adam ‘Alaihissalam. Sebagaimana Allah berfirman dalam alQur’an, QS. 2, al-Baqarah:30. Artinya: “Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: Sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi, mereka berkata: Mengapa engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal Kami senantiasa bertasbih dengan memuji engkau dan mensucikan Engkau? Tuhan berfirman: Sesungguhnya aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”. (Rahmat Rosyadi 2012, Konsep dan Sistem Pendidikan Islam.[Online]. Tersedia: https://insists.id/konsep-dan-sistem-pendidikan-islam-1/

Senada dengan penjabaran diatas, konstitusional Indonesia adalah satu negara yang mengidolakan “manusia taqwa”. Pasal 31 ayat (c) UUD 1945 menyebutkan: “Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional, yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdeskan kehidupan bangsa, yang diatur dengan undang-undang”. Idealnya manusia taqwa itu kemudian ditegaskan pada Tujuan Pendidikan Nasional, sebagaimana tercantum dalam UU No 20 tahun 2003, tentang Sistem Pendidikan Nasional: “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab. (Adian Husaini 2017, hlm. 13)

Konsep pendidikan Islam dan Undang-Undang Dasar tidak hanya menekankan pencarian ilmu saja, namun dari pendidikan juga mampu membentuk tabiat warga negara. Diantara orang yang sibuk menuntut ilmu namun lupa akan belajar adab dan akhlak adalah ia mudah menggibah gurunya, tidak hormat pada guru, terlambat ketika menghadiri majelis ilmu. Dan penyakit lainnya yang melanda para penuntut ilmu. Padahal dengan adab yang baik maka ilmu tersebut menjadi berkah. Bagaimana ingin mendapatkan keberkahan ilmu jika adabnya saja tidak diperhatikan. Ilmu tersebut mungkin tidak akan bertahan lama atau tidak mendapatkan berkah. (Abu Rufaydah 2015, Perhatikan Adab Sebelum Belajar Ilmu. [Online]. Tersedia: https://www.hisbah.net/perhatikan-adab-sebelum-belajar-ilmu/

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Pendidikan Selengkapnya
Lihat Pendidikan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan