Mohon tunggu...
Fahrizal Satriarga
Fahrizal Satriarga Mohon Tunggu... Mahasiswa - Mahasiswa Ilmu Komunikasi UIN Sunan Kalijaga

what u see, u become

Selanjutnya

Tutup

Finansial

Tak Banyak yang Tahu Nasib UMKM Imbas Pandemi Covid-19: Mencari Celah Kehidupan di Bisnis Mukena

30 Juni 2021   09:50 Diperbarui: 30 Juni 2021   10:40 133 0 4
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun

Di tengah terpuruknya perekonomian secara global akibat Pandemi Covid 19 Varian baru Delta, Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) secara keseluruhan pun sangat terpengaruh dan terdampak. Pandemi Covid-19 yang sudah memasuki tahun kedua ini berdampak multidimensi pada kehidupan masyarakat, mulai dari kesehatan, sosial budaya, hingga ekonomi. Demi menekan penyebaran virus ini pemerintah pun sampai harus membatasi mobilitas masyarakat dengan menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat Berbasis Skala Mikro (PPKM Mikro) di beberapa daerah, Vaksinasi masal secara nasional, hingga masyarakat dianjurkan selalu menerapkan Prosedur Kesehatan secara ketat, sampai anjuran untuk lebih banyak di rumah.

Hal ini membuat banyak usaha terdampak hingga akhirnya banyak karyawan yang dirumahkan atau terkena PHK. Bukan cuma perusahaan besar, tapi UMKM pun terpukul. Banyak usaha yang terpaksa gulung tikar karena sulit bertahan di masa pandemi ini.

Sektor UMKM yang terguncang selama pandemi COVID-19 selain pada usaha sektor makanan dan minuman (kuliner), juga yang terdampak adalah industri kreatif dan pertanian. Bahkan banyak hasil survey akademik menunjukkan bahwa kesulitan yang belum pernah dihadapi perusahaan di tahun sebelumnya akibat pandemi covid-19, yaitu adanya beberapa perusahaan yang menghentikan operasinya baik sementara maupun secara permanen, karena pendapatan sangat menurun drastis. Semisal Gellael, Centro dan lain sebagainya.

Meski banyak usaha yang tutup dan karyawan yang terkena PHK, masih ada sebagian yang kreatif dan bangkit membuka usaha baru dengan memanfaatkan kondisi ini. Saya di sini mendatangi salah satu pemilik usaha kecil-kecilan di daerah Bantul, tepatnya di kalurahan Tamantirto, Kapanewon, Kasihan. Seperti yang dilakoni Ibu Minuk, pemilik usaha Mukena yang dilebel MUKENAKU. Beliau sudah menekuni usaha pembuatan mukena ini jauh sebelum Pandemi Corona melanda Indonesia. Tepatnya di tahun 2014 usaha ini mulai dirintis hingga saat ini. Ibu Minuk memang fokus pada mukena sejak awal membuka usaha.

dokumen pribadi
dokumen pribadi

Ibu dari empat anak yang semuanya cowok ini sudah pernah merintis beberapa usaha, mulai dari membuka Biro Perjalanan Wisata yang khusus melayani Haji dan Umrah, Kebab Turki, Mie ayam Jakarta dan beberapa usaha kecil lainnya. Tapi semua itu dilakoninya kurang serius, sehingga hanya bertahan 1-2 tahun.

Ditemui di rumahnya yang sekaligus tempat untuk usahanya, perempuan pemilik nama lengkap Minuk Pangastuti ini bercerita: "Menjelang Ramadhan dan Idul Fitri itu biasanya orang mencari mukena buatannya. Tapi saat Idul Fitri tahun ini dan tahun kemarin, pemesanan mukena sangat sepi, tidak seperti tahun sebelum pandemi. Order sih tetap masih ada meski tidak seramai lebaran dulu..."

Sejak Pandemi Covid 19 ini melanda, hampir semua sektor usaha menjadi lesu. Termasuk usaha mukena yang ibu Minuk jalani. Namun Ia sangat optimis usaha ini akan tumbuh dan berangsur pulih, saat pandemi sudah berlalu.

Pandemi covid-19 yang tengah melanda dunia, termasuk Indonesia dipastikan sangat mempengaruhi kehidupan masyarakat, baik aspek kesehatan maupun sosial dan ekonomi. Pandemi covid-19 telah banyak mengubah kebiasaan masyarakat dalam berbagai aktifitas, termasuk berbelanja. Kebijakan beberapa negara untuk melakukan pembatasan sosial untuk menghambat penyebaran virus corona membuat masyarakat memilih untuk belanja online. Situasi ini mendorong akselerasi perekonomian digital. Para penjual mau tidak mau harus beralih strategi baru untuk mengikuti perkembangan pola konsumsi masyarakat kearah digital dan mengubah kebiasaan masyarakat untuk belanja secara online.

Perkembangan digital dalam globalisasi sangat berpengaruh pada roda ekonomi termasuk usaha ritel. Usaha ritel yang beberapa waktu sebelumnya mencoba untuk menggusur keberadaan pasar tradisional, tetapi pada kenyataannya keberadaan usaha ritel modern dipengaruhi oleh globalisasi, terlihat bahwa beberapa usaha ritel mulai turun seperti musim gugur. Satu persatu usaha ritel modern, skala besar, mikro, hingga kecil mulai turun satu persatu. Hal ini disebabkan kurangnya minat konsumen untuk berbelanja secara konvensional.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Finansial Selengkapnya
Lihat Finansial Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan