Wisata

Pake Mesin Penjual Tiket KRL, Masih Antre Kah?

7 Desember 2017   12:06 Diperbarui: 7 Desember 2017   12:14 380 0 0

Seiring dengan perkembangan zaman tidak luput dari perkembangan teknologi yang mempengaruhi kehidupan orang banyak. Teknologi telah masuk kedalam sendi sendi kehidupan masyarakat. Pada zaman saat ini semua aspek kehidupan masyarakat telah dipengaruhi oleh perkembangan teknologi. Mulai dari aspek komunikasi seseorang hingga pada urusan kesehatan semuanya dipengarui oleh teknologi. 

Khususnya di masa sekarang dimana perkembangan teknologi sangat berkembang pesat yang dipengaruhi juga oleh faktor globalisasi yang berkembang keseluruh dunia. Perkembangan teknologi tersebut tentu membawa dampak bagi masyarakat dan juga tidak terkecuali organisasi atau entitas yang ada di tengah masyarakat. sebagai bagian yang mau tidak mau berhubungan dengan masyarakat tentu suatu organisasi harus mampu membaur dan beradaptasi dengan perubahan yang terjadi pada lingkungan organisasinya. Dalam hal ini perkembangan teknologi khususnya teknologi digital yang sudah menjadi kebutuhan masyarakat.

 Masyarakat saat ini sangat senang dengan sesuatu yang berhubungan dengan sesuatu yang berhubungan dengan teknologi. Hal tersebut terlihat dari lakunya startup berbau teknologi yang muncul di pasaran. Oleh karena wajib bagi organisasi untuk menerapkan tekonologi agar mampu bertahan hidup. Salah satunya Badan Usaha Milik Negara (BUMN) penyedia jasa transportasi PT KAI dengan anak perusahaannya PT KAI Commuter Indonesia yang merupakan operator dari kereta rel listrik (KRL) yang beroperasi di area JABODETABEK harus mampu menerapkan teknologi dalam pelayanannya selaku BUMN yang melayani transportasi masyarakat.

E-government

Ahmadjayadi (2006) mengartikan e-government sebagai kegiatan yang terkait dengan upaya seluruh lembaga pemerintah dalam bekerja bersama-sama memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi sehingga dapat menyediakan jasa elektronik dan informasi yang akurat kepada individu masyarakat dan dunia usaha. 

Richard Heeks (2006) menyatakan bahwa e-government tidak hanya digunakan untuk menggambarkan penggunaan website dan internet di pemerintahan tetapi e-government menggambarkan penggunaan semua penggunaan teknologi informasi digital (utamanya komputer dan jaringan) dalam sektor publik. Penggunaan istilah e-government digunakan dalam empat area yaitu e-democracy, e-service provision, e-management, dan e-governance. Peran E-government (Holmes, 2001) antara lain :

  • Penggunaan teknologi informasi misalnya internet yang dapat digunakan untuk menyelenggarakan pelayanan publik secara lebih nyaman, berorientasi pelanggan, biaya yang lebih efektif, dan dengan cara yang berbeda dan lebih baik.
  • Mempengaruhi perlakuan pemerintah dengan masyarakat, bisnis, dan lembaga pemerintah lainnya sebaik proses bisnis internalnya termasuk dengan pegawainya.
  • Penggunaan e-government dapat mendorong dan sekaligus didorong atas kebutuhan pemerintah untuk mengurangi biaya dan meningkatkan efisiensi, bertemu dengan ekspektasi masyarakar dan meningkatkan hubungan dengan masyarakat serta mendukung pembangunan ekonomi.

Loket Elektronik Commuter Line

Untuk menghadapi tantangan di era teknologi seperti saat ini, maka PT KAI Commuter Indonesia melakukan terobosan dengan mengeluarkan vending machine untuk pembelian tiket KRL yang akan menggantikan peran loket pembelian konvensional. Penggunaan vending machine tersebut dimulai pada akhir tahun 2015 yang sudah ditempatkan dibeberapa stasiun yang ada di JABODETABEK. Perlahan lahan vending machine tersebut akan disebar keseluruh stasiun yang ada. 

Pada tahap awal penggunaan vending machine masih dibantu oleh petugas dari PT KAI Commuter Indonesia. Secara umum fungsi yang dapat dilakukan oleh vending machine sama dengan yang bisa dilakukan oleh loket biasa, hanya saja pengguna KRL harus melakukan sendiri pembelian tiket melalui layar yang ada di mesin tersebut. Untuk Tiket Harian Berjaminan (THB) nantinya pengguna bisa memilih destinasi stasiun tujuan dan memasukan pecahan mata uang untuk proses pembayaran. 

Sedangkan untuk Kartu Multi Trip penguna harus memasukan kartu ke dalam slot yang telah disediakan dan kemudian mesukan pecahan uang kedalamnya. Untuk uang kertas, mesin tiket KRL menerima uang pecahan Rp 1.000, Rp 2.000, Rp 5.000, Rp 10.000, dan maksimal Rp 20.000. Untuk uang logam, pecahan Rp 500 dan Rp 1.000.

Penerapan vending machine dalam penjualan tiket KRL menurut PT KAI Commuter Indonesia bertujuan untuk mengurai penumpukan antrian penguna KRL pada jam-jam sibuk. Hal tersebut tentu merupakan suatu perubahan yang bagus dalam hal penerapan teknologi dan jika merujuk pada teori e-government maka penerapan teknologi dalam penjualan tiket KRL tersebut seharusnya berperan untuk meningkatkan efisiensi dan kenyamana masyarakat dalam hal ini pelanggan KRL di JABODETABEK. 

Akan tetapi setelah melihat beberapa stasiun yang sepenuhnya menggunakan vending machine dalam penjualan tiket KRLnya terlihat bahwa penerapan vending machine tersebut tidak membuat antrian menjadi lebih lenggang malah sebaliknya membuat antrian tiket semakin mengular. Hal tersebut mungkin disebabkan dari kekurangtahuan pengguna dalam mengoprasikan mesin tersebut, walau sudah dibanti oleh petugas yang ada tetap saja penggunaan vending machine masih memakan waktu lebih lama dibandingkan dengan penjualan tiket melalui loket biasa.

Secara proses juga walau kita memiliki pengetahuan yang cukup membeli tiket menggunakan mesin tersebut, pembelian melalui loket biasa dirasa lebih cepat khususnya pada THB karena pengguna tinggal memberi tahu destinasi tujuan kepada petugas loket dan membayar sejumlah uang lalu tiket dapat diambil dalam waktu yang relatif cepat hanya beberapa detik. Sedangkan ketika menggunakan vending machine maka kita harus berganti ganti menu dilayar dan melakukan proses pembayaran yang terdapat jega waktu yang bisa memakan watu hingga dua kali lipat dari pembelian dari loket biasa. 

Kedala lain yang sering ditemukan yaitu ketidak sediaan pecahan uang yang pas atau uang kertas yang dimiliki dalam keadaan yang sudah rusak dan tidak diterima oleh vending machine. Oleh karena hal tersebut, saran terhadap PT KAI Commuter Indonesia agar dapat mengevaluasi layanan vending machine yang ada, kemudian juga melakukan perubahan terhadap proses pembelian tiket di vending machine agar dapat menjadi lebih cepat dan mudah digunakan. 

Selain itu, loket biasa juga agar tidak sepenuhnya dihapuskan untuk transaksi tiker KRL agar dapat mengakomodir pengguna yang belum terbiasa dan juga tidak memiliki pecahan uang pas yang dibutuhkan vending machine. Untuk vending machine pengisian KMT juga sebaiknya mengakomodir penggunaan e-money lainnya yang disediakan oleh pihak ketika. Dengan perbaikan yang dilakukan diharapkan penerapan teknologi vending machine dalam penjualan tiket KRL kedepan dapat menjadi lebih cepat, mudah dan nyaman bagi pengguna KRL di seluruh JABODETABEK.

Sumber

Ahmadjayadi, C., 2006. Penerapan dan Pemanfaatan E-Government Dalam Mewujudkan Masyarakat Informasi Indonesia. Departemen Komunikasi dan Informatika.

Holmes, D., 2001. eGov: eBusiness strategies for government. Nicholas Brealey Publishing.

Alsadad Rudi. 9 januari 2016. Ini Cara Membeli Tiket di "Vending Machine" KRL. Diakses 5 desember 2017.

Andri Donnal Putera. 23 mei 2017. "Vending Machine" untuk Tiket di Stasiun KRL Ditambah. Diakses 5 desember 2017.