Mohon tunggu...
Rizal Alfiano
Rizal Alfiano Mohon Tunggu... publik

ingin kaya cepat

Selanjutnya

Tutup

Edukasi Pilihan

Ingin Kurikulum yang Tidak Menyusahkan Siswa

15 Desember 2019   19:32 Diperbarui: 15 Desember 2019   20:24 29 0 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Ingin Kurikulum yang Tidak Menyusahkan Siswa
Rizal Alfiano

Naskah pidato peringatan Hari Guru Nasional (HGN) yang disusun sendiri oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim, masih menjadi topik yang  hangat untuk diperbincangkan. Padahal, naskah pidato yang dituliskan dalam dua halaman itu telah berselancar di dunia maya lebih dari dua pekan. Tidak hanya kalangan akademisi, seperti guru atau dosen yang masih menggoreng pendapat Nadiem yang dituangkan dalam naskah pidatonya. Hampir seluruh elemen masyarakat yang merasakan dampak dari sistem pendidikan di Indonesia saat ini juga turut memberi tanggapan.

Ada yang menanggapi positif karena pidato Mendikbud dianggap resep untuk membuat pendidikan Indonesia menjadi lebih baik. Namun, ada juga yang merespons biasa saja.

Bahkan, sejumlah media cetak atau daring nasional juga ikut memviralkan pidato eks-CEO Gojek tersebut dengan menjadikan isu pendidikan yang merujuk pada isi pidato Mendikbud sebagai headline. Salah satunya koran Jawa Pos . Sejak naskah pidato Nadiem diunggah di Twitter Kemendikbud pada 22 November dan viral, Jawa Pos terus menggodok isu pendidikan. Isu tersebut selalu diberikan ruang di halaman pertama.

Misalnya, pada Jawa Pos (24/11/2019) dimuat berita berjudul Nadiem Akui Beban Guru Berlebihan. Judul tersebut juga merujuk pada salah satu poin dalam pidato mendikbud. ”Anda ingin membantu murid yang mengalami ketertinggalan di kelas, tetapi waktu Anda habis untuk mengerkajan tugas administratif tanpa manfaat yang jelas”.

Sehari setelahnya, Jawa Pos (25/11/2019) kembali menuliskan berita yang isunya juga tertuang dalam pidato Mendikbud di HGN. Berita berjudul Kurikulum Justru Batasi Kreatifitas itu apabila ditelaah merupakan respon dari pernyataan mendikbud yang berbunyi, ”Anda ingin mengajak murid keluar kelas untuk belajar dari dunia sekitarnya, tetapi kurikulum yang begitu padat menutupi pintu petualangan,” tulisnya.

Sebagai calon guru –saat ini notabene saya adalah mahasiswa prodi pendidikan—saya merespon positif isi pidato Nadiem. Dari tujuh opini Nadiem tentang kondisi pendidikan di Indonesia, nyaris semuanya benar. Di antaranya, guru ingin membantu murid yang mengalami ketertinggalan di kelas, tetapi waktu luang guru habis untuk mengerjakan tugas administratif. Misalnya saja untuk administrasi guru SD. Untuk menunjang proses pembelajaran, guru harus menyiapkan buku absen siswa, buku induk siswa, jadwal pelajaran, daftar nilai, buku laporan hasil belajar, buku leger siswa, buku pembinaan siswa, dan buku kasus siswa. Belum lagi masing-masing guru harus membuat silabus dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) per semester.

Selain itu, Nadiem juga menyebutkan bahwa sebenarnya guru ingin mengajak murid keluar kelas untuk belajar dari lingkungan sekitarnya, tetapi kurikulum yang begitu padat menutupi pintu petualangan. Menurut saya, pernyataan tersebut memang benar. Siswa belajar seolah-olah seperti dikejar target. Padahal, tidak semua siswa pandai menghafal. Beberapa di antaranya butuh melihat, menyentuh, bahkan bersinggungan langsung untuk benar-benar tahu tentang suatu hal.

Sebenarnya, tidak semua sekolah seperti itu kok, Pak Nadiem. Beberapa di antaranya sudah melakukan inovasi kurikulum. Mereka tidak mengubah kurikulum yang ditetapkan pemerintah, hanya metode mengajarnya yang dibuat semenarik mungkin agar anak enjoy dalam belajar.

Sekolah Gajahwong merupakan salah satu lembaga pendidikan yang menerapkan prinsip back to nature and back to reality [kembali ke alam dan kenyataan]. Seperti yang diberitakan merdeka.com (31/01/2016) pada berita yang berjudul Sekolah Gajahwong Semangat Memutus Rantai Kemiskinan Anak Pemulung, yang mana sekolah tersebut awalnya berdiri untuk mengakomodir anak tidak mampu yang belum sekolah. Lambat laun, sekolah tersebut juga menerima siswa umum. Banyak orang tua yang mendaftarkan anaknya karena tertarik dengan metode pembelajaran yang diterapkan di Sekolah Gajahwong.

Gajahwong menerapkan metode pembelajaran tematik untuk menentukan tema yang akan dipelajari selama tiga bulan kedepan. Tidak hanya dengan metode tematik saja, Sekolah Gajahwong juga menerapkan metode trip serta recycle, reuse, reduce (mendaur ulang, menggunakan kembali, mengurangi) yang disebut 3R. Metode tersebut yang paling sesuai dengan lingkungan yang berada di tengah kota, dengan produksi limbah rumah tangga yang berlimpah.

Selain Gajahwong, ada juga Sanggar Anak Alam (SALAM) yang dihidupkan oleh Sri Wahyaningsih dan Toto Raharjo di Kampung Nitiprayan, Kelurahan Ngestiharjo, Bantul, Yogyakarta pada 20 Juni 2000. SALAM merupakan suatu ruang bagi anak-anak serta komunitas untuk leluasa melakukan eksperimen, eksplorasi, dan mengekspresikan berbagai temuan pengetahuan dengan memanfaatkan lingkungan sekitar sebagai media pembelajaran.

SALAM meyakini, bahwa untuk menyelenggarakan pendidikan tidaklah cukup hanya dilakukan di dalam ruang kelas antara guru dan siswa. Maka diperlukan proses belajar yang secara holistik dapat membangun relasi dengan orang tua murid juga lingkungan setempat. Agar tercipta kehidupan belajar yang merdeka dimana seluruh proses pendidikan dibangun atas dasar kebutukan kolektif.

Mungkin yang saya ketahui baru itu saja, yaitu Sekolah Gajahwong dan Sanggar Anak Alam. Sekolah Gajahwong menyediakan jenjang Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dan Taman Kanak-kanak (TK). Sedangkan, SALAM menghadirkan pendidikann bagi jenjang PAUD sampai Sekolah Menengah Atas (SMA). Namun, saya yakin di luar sana masih banyak sekolah-sekolah kreatif yang tujuannya ingin membangun anak bangsa tanpa maksud menentang kurikulum pemerintah, tetapi dengan cara yang lebih indah.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN