Riza Hariati
Riza Hariati

A Single at Heart Architect who loves writing. NOT looking for husband nor boyfriend. LOVE dogs and cats!

Selanjutnya

Tutup

Politik

Jokowi bukan Diktaktor?

12 Agustus 2017   12:51 Diperbarui: 12 Agustus 2017   12:52 711 7 5
Jokowi bukan Diktaktor?
sumber: pixabay.com

Membaca beberapa artikel yang menyebutkan generasi X,Y dan Z, saya jadi menyadari betapa antara generasi yang begitu dekat, bisa muncul begitu besar jarak sehingga timbul miskomunikasi. Dalam beberapa artikel resmi (termasuk wikipedia) disebutkan bahwa generasi millenial adalah gabungan dari generasi X, Y sampai Z. Sedangkan karena saya terlalu sering trolling dengan banyak anak-anak usia remaja, akibat hobi saya main game dan nonton YouTube, bagi mereka, generasi Millenial adalah mereka yang dilahirkan diatas tahun 2000, yang mainannya laptop, HP, tablet, ipad, PS4 dan seterusnya. Mereka adalah generasi yang tidak kenal mesin tik, tidak tahu telepon putar dan menganggap SMS lebih sopan dibanding menelefon (cek urban Dictionary, jangan Wikipedia)

Untuk generasi yang lebih tua, artikel-artikel resmi yang didasarkan kepada penelitian yang 'jelas' adalah lebih penting. Sedangkan untuk generasi 'millenial', cara mereka berkomunikasi lebih penting ketimbang aturan yang ada. Singkatnya, pada generasi ini, rasa percaya (trust) lebih penting daripada kenyataan (truth). Karena mereka sudah menyadari, kenyataan bisa dengan mudah dipermainkan oleh Media, Konglomerat, Militer, dan siapapun yang memegang kekuasaan.

Saya mengambil contoh Trump, karena kalau Jokowi nanti saya khawatir kena ITE. Berbagai fakta resmi sudah diterbitkan bahwa mantan bintang Reality Show, The Apprentice, itu tidak cukup berkualitas untuk dijadikan Presiden. Dari bolak balik bangkrut, pelecehan seksual, menghindari pajak, dan seterusnya. Tetapi sebelum akhirnya mengalahkan Hillary, Trump berkali kali mengalahkan berbagai calon lain dari Partai Republik!

Semua begitu shock, kenapa itu bisa terjadi? Itu karena orang sudah begitu tidak percaya lagi kepada pemerintahan, dalam hal ini Hillary, juga tidak percaya lagi kepada media, karena dalam sejarah sudah seringkali terbukti media membohongi rakyat. Tapi mereka percaya kepada Trump.

Hal yang sama terjadi pada Jokowi, rakyat, termasuk saya, memilih Jokowi, yang seakan underdog. Semua karena dulu kami percaya.

Begitu kuatnya rasa tidak percaya generasi Millenial, bahkan bagi mereka posting Meme Trump, berita-berita hoax mengenai Trump, bukanlah suatu masalah yang besar. Menyuarakan pendapat dan opini, termasuk rasa tidak suka mereka terhadap pemerintah, meskipun ternyata opini mereka itu salah, itu adalah hal yang normal bagi mereka.  

Hal ini tidak dimengerti oleh generasi lama. Bagi mereka hal-hal seperti itu adalah masalah besar, merusak citra pemimpin (dan kita tahu betapa pentingnya pencitraan bagi Jokowi). Karena mereka bisa membedakan antara image yang sudah diedit dan berita hoax, selama berita aslinya ada dan beredar di dunia maya. Dan selama pemerintah, dalam hal ini Jokowi tetap konsisten melakukan hal-hal yang bisa memenangkan rasa percaya (trust) mereka

Jadi jika ada orang yang ditangkap dengan alasan meyuarakan ketidak adilan, seperti Acho, atau karena mengkritik pemerintah secara terbuka, atau karena menampilkan foto-foto hoax dan meme di sosial media mereka, seperti Sri Rahayu, maka orang-orang yang berkaitan dengan itu akan dianggap sebagai Diktaktor. Karena dianggap sewenang-wenang. Orang bisa ditangkap jika memang jelas mereka itu melakukan tindakan yang berkaitan dengan terorisme, seperti merakit bom untuk diledakkan, mengumpulkan uang untuk ISIS, melakukan rencana pembunuhan dan sebagainya. 

Tapi bagaimana dengan perusakan citra Jokowi, masa dibiarkan saja? Tentu saja tidak dibiarkan, tapi bukan dihadapi dengan ditangkap-tangkapi. Memangnya kita masih di zaman Orde baru? Sebagaimana Trump, hadapi dengan prestasi. Tampilkan apa saja yang sudah dilakukan secara mendetil kalau perlu, hal-hal yang sudah, sedang dan akan dilakukan. Tunjukkan bahwa Janji Kartu sehat dan Kartu pintar (atau apapun itu) benar benar membuat rakyat kecil sampai pelosok merasakan pendidikan dan kesejahteraan yang meningkat. 

Tapi be truthful, jangan berpura-pura. Rakyat akan selalu tahu, pada akhirnya. Karena pihak yang berkepentingan akan berusaha membocorkan sekecil apapun kesalahan yang pernah diperbuat. Lakukan tindakan langsung kepada diskriminasi yang terjadi dalam masyarakat, karena itu adalah salah satu hal yang menimbulkan friksi tanpa disuarakan, tahu-tahu meledak. Adil lah!

Sulit? Tentu saja sulit!! Kalau mudah, tentu semua akan bisa jadi Presiden.