Mohon tunggu...
Rita Kum
Rita Kum Mohon Tunggu... Pramusaji

Perempuang yang suka menulis

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Pekik Merdeka untuk Persatuan

27 Februari 2020   04:31 Diperbarui: 27 Februari 2020   04:55 51 1 1 Mohon Tunggu...

Beberapa dari kita mungkin pernah membaca buku Bung Karno, Penyambung Lidah Rakyat Indonesia. Dalam satu bagian dalam buku itu, dia menjelaskan tentang ketetapan salam Merdeka.  Presiden Soekarno menulis, Buku itu bercerita tentang bagaimana "Aku menetapkan supaya setiap warga negara Republik memberi salam kepada orang lain dengan mengangkat tangan, membuka lebar kelima jarinya sebagai pencerminan lima dasar negara dan meneriakkan, merdeka!"

Lima sila itu merupakan dasar negara Indonesia, Pancasila. Sila pertama sampai kelima adalah pilar kuat bagi pembentukan Indonesia yang wilayahnya merupakan cerminan dari Nusantara pada masa Majapahit. Saat para founding fathers menginisiasi pemberntukan Indonesia tak lepas dari luasnya wilayah dan beragamnya aspek negara kita, dari Sabang sampai Merauke (saat kemerdekaan, Papua memang belum masuk dalam wilayah Republik Indonesia)

Lalu berbagai tantangan harus dihadapi dalam menegakkan kemerdekaan Indonesia. Berbagai uspaya diplomasi Indonesia dan Belanda serta ditengahi oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Belanda dengan berbagai kepentingannya terhadap tanah dan sumber daya Indonesia berusaha keras mempertahankan wilayah ini sebagai bagian negara Belanda. Itu sebabnya Belanda baru mengakui kemerdekaan Indonesia pada tahun 1949, empat tahun setelah kita memproklamirkan diri.

Salam "Merdeka" dimaksudkan sebagai pemersatu dari berbagai perbedaan yang dimiliki Indonesia. Kita terdiri dari banyak suku bangsa, budaya, agama dan keyakinan (aliran kepercayaan), dan bahasa.  Bung Karno mengaku terispirasi dari Nabi Muhammad SAW yang memiliki salam yang dapat mempersatukan umat Islam di seluruh dunia. Sehingga tidak salah jika beliau menginginkan salam kebangsaan Merdeka dapat memperkokoh persaudaraan di tengah perbedaan Indonesia.

Salam ini memang belum populer karena pada masa Orde Baru, segala hal yang berbau Soekarno pasti diberangus habis, sehingga banyak diantara kita tak mengenal salam ini sebagai salam penting bagi negara kita yang turut mewujudkan kemerdekaan kita- lepas dari bangsa lain, satu wujud perhormatan dunia atas keberadaan bangsa di dunia.

Marilah kita coba untuk melihat hal ini dengan lebih jernah dan bening bahwa salam ini diperkenalkan kembali untuk hal yang baik. Tidak semua ide itu berhubungan dengan politik.

VIDEO PILIHAN