Mohon tunggu...
Rita Mf Jannah
Rita Mf Jannah Mohon Tunggu... Pemikir, Trader, Praktisi Pendidikan
Akun Diblokir

Akun ini diblokir karena melanggar Syarat dan Ketentuan Kompasiana.
Untuk informasi lebih lanjut Anda dapat menghubungi kami melalui fitur bantuan.

Menyuarakan kebenaran berdasar data dan fakta yang sesungguhnya

Selanjutnya

Tutup

Lingkungan Pilihan

Simalakama Penyebab Banjir Kalimantan Selatan

22 Januari 2021   10:48 Diperbarui: 22 Januari 2021   10:53 90 4 1 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Simalakama Penyebab Banjir Kalimantan Selatan
Tumpukan sampah bekas banjir di salah satu sudut pemukiman warga di Banjarmasin (pic: rita mf jannah!

Perlu tindakan bijak, bahu membahu, dan sikap mawas diri dari semua pihak agar Kalimantan Selatan tidak mengalami bencana ekologis parah lagi

Selasa (19/01) tepat lima hari setelah banjir menggerus Kalimantan Selatan dengan korban meninggal tercatat 16 orang, dan ratusan ribu orang mengungsi, Direktur Jenderal Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan KLHK, RM Karliansyah dalam jumpa persnya menyatakan bahwa hujan bercurah tinggi dan anomali cuaca sebagai penyebab utama banjir.

Pernyataan ini membantah anggapan tim tanggap darurat bencana di Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) yang pernah mengatakan, penyebab terjadinya banjir terbesar di Kalimantan Selatan itu adalah berkurangnya hutan primer dan sekunder yang terjadi dalam rentang 10 tahun terakhir, sekaligus mematahkan pendapat LSM Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) bahwa pemberian izin tambang dan perkebunan sawit menjadi pemicu degradasi hutan secara masif.

Sistem drainase Kalimantan Selatan tidak mampu mengalirkan air dengan volume besar


DirJen Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan KLHK, RM Karliansyah sebagaimana dikutip dari bbc.com beralasan bahwa sistem drainase di Kalimantan Selatan tidak mampu mengalirkan air dengan volume yang besar karena lokasi banjir merupakan daerah datar dan elevasi rendah serta bermuara di laut, sehingga merupakan daerah akumulasi air.

Bantahannya sekaligus untuk meluruskan pemberitaan sebab menurutnya banyak informasi yang keliru, ditambah metode analisis kawasan hutan yang digunakan tidak sesuai standard dan kalibrasi menurut metode resmi yang dipakai.

Lokasi banjir yang berada di sepanjang daerah aliran sungai (DAS) Barito kondisi infrastrusktur ekologisnya sudah tidak memadai, sehingga tidak mampu lagi menampung aliran air yang masuk, sementara curah hujan mencapai hingga sembilan kali lipat dari sebelumnya. Jika biasanya secara normal sebesar 394mm, namun di 9-13 Januari 2021 sebesar 461mm selama lima hari.

Akibatnya air yang masuk ke Sungai Barito mencapai sebanyak 2,08 miliar m3, sementara kapasitas sungai kondisi normal hanya 238 juta m3.

Menteri Siti : penyebab banjir Kalsel anomali cuaca

Senada dengan pendapat Dirjen KLHK, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya Bakar juga menegaskan bahwa penyebab banjir Kalsel anomali cuaca dan bukan soal luas hutan di DAS Barito wilayah Kalsel.

Dikutip dari tempo.com, Siti Nurbaya menyatakan banyak data beredar tak valid, sebab Daerah Aliran Sungai Barito Kalimantan Selatan seluas 1,8 juta hektar hanya merupakan sebagian dari DAS Barito Kalimantan seluas 6,2 juta hektar.

Berdasar data 2019, seluas 94.5 persen dari total wilayah Hulu DAS Barito berada dalam kawasan hutan, dengan 83,3 pesen hulu DAS Barito bertutupan hutan alam dan sisanya 1,3 persen adalah hutan tanaman yang masih terjaga baik.

Bagian DAS Barito yang berada di wilayah Kalsel secara kewilayahan hanya mencakup 40 Persen kawasan hutan dan 60 persen areal penggunaan lain (APL) atau bukan kawasan hutan, yang kondisinya tidak sama dengan DAS Barito Kalimantan secara keseluruhan, karena didominasi oleh pertanian lahan kering campur semak dan sawah serta kebun.

Sementara kejadian banjir berada pada Daerah Tampung Air (DTA) Riam Kiwa, DTA Kurau dan DTA Barabai karena curah hujan ekstrim, yang sangat mungkin terjadi dengan recurrent periode 50 hingga 100 tahun.

Daerah banjir berada pada titik pertemuan 2 anak sungai yang cekung, morfologinya merupakan meander, sedangkan fisiografinya berupa tekuk lereng (break of slope), sehingga terjadi akumulasi air dengan volume yang besar.

Faktor lain yang mempengaruhi menurut Siti adalah besarnya perbedaan tinggi hulu-hilir, akibatnya suplai air dari hulu dengan energi dan volume yang besar menyebabkan waktu konsentrasi air berlangsung cepat dan menggenangi dataran banjir.

Pernyataan LAPAN dan WALHi tetap harus dijadikan bahan masukan positif

Banyak faktor yang menjadi perdebatan serius sebagai penyebab utama banjir di Kalsel, namun yang pasti perlu upaya bahu membahu dari semua pihak untuk menyelesaikan masalah ini, dan bukannya hanya sibuk memperdebatkan, sebab bencana ekologis sudah terjadi.

Walau bagaimanapun pernyataan LAPAN dan WALHi beberapa waktu lalu tetap harus dijadikan bahan masukan positif, sebab tidak menutup kemungkinan sebagai faktor penyebab terjadinya banjir Kalsel, ditambah pernyataan terbaru dari Dirjen KLHK RM Karliansyah dan Menteri Siti, patut dijadikan sumber kajian tambahan untuk mencegah terjadinya kembali bencana.

Saat ini hal yang diperlukan adalah tindakan bijak untuk melihat segala akar permasalahan dari berbagai sisi, yang kemudian dijadikan satu kesatuan akan menjadi senjata kuat untuk mengatasi masalah.

Mawas diri tidak membuang sampah sembarangan di sungai atau mendirikan bangunan-bangunan di bantaran sungai

Mengacu dari perndapat terakhir, yaitu pernyataan Dirjen KLHK RM Karliansyah Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya Bakar, masyarakat dapat mengambil hikmah positifnya, agar lebih mawas diri, apakah selama ini telah menjaga lingkungan secara bijak dengan tidak membuang sampah sembarangan di sungai, sebab sampah-sampah yang dibuang sembarangan, terutama berbahan plastik, sudah pasti akan membuat dangkal dasar sungai, mengotori dan tentunya menghambat laju aliran sungai.

Demikian juga bagi masyarakat yang terkadang mendirikan bangunan-bangunan di bantaran sungai, hingga menjorok ke tengah sungai, setidaknya mawas diri dengan keadaan yang sudah terjadi, sebab hal itu sudah pasti menghambat laju aliran air di sungai.

Perlu bahu membahu dan sikap mawas diri dari semua pihak, misal pemerintah daerah, pengusaha, dan masyarakat, agar Kalimantan Selatan tidak mengalami bencana ekologis parah lagi, seperti pentingnya peninjauan kembali pemberian ijin pembukaan lahan untuk tambang dan kelapa sawit, juga kesadaran tinggi dari pengusaha dan masyarakat untuk menjaga lingkungannya.

Jika semua telah bahu membahu, tidak menutup kemungkinan 'banua cantik tercinta' akan kembali terjaga dan terlindungi keselamatannya.

VIDEO PILIHAN