Mohon tunggu...
Rita Mf Jannah
Rita Mf Jannah Mohon Tunggu... Pemikir, Trader, Praktisi Pendidikan
Akun Diblokir

Akun ini diblokir karena melanggar Syarat dan Ketentuan Kompasiana.
Untuk informasi lebih lanjut Anda dapat menghubungi kami melalui fitur bantuan.

Menyuarakan kebenaran berdasar data dan fakta yang sesungguhnya

Selanjutnya

Tutup

Politik Pilihan

Lengser dengan Tetap Menekan China

20 Januari 2021   20:35 Diperbarui: 20 Januari 2021   20:58 62 1 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Lengser dengan Tetap Menekan China
Donald Trump dan Melania (pic: sandiegouniontribune.com)

Donald Trump akhirnya meninggalkan jabatannya setelah hampir 2 bulan menghabiskan waktunya untuk menuduh kubu Joe Biden telah melakukan kecurangan meskipun tidak ada bukti kuat

Presiden Amerika Serikat Donald Trump akhirnya mengaku kalah, dan meninggalkan jabatannya pada hari ini, bertepatan dengan pelantikan rivalnya Joe Biden sebagai presiden AS selanjutnya.

Presiden berusia 74 tahun itu, sebagaimana dikutip dari kompas.com, bertolak dari Gedung Putih melalui Pangkalan Militer Andrews menuju ke kediamannya di resor Mar-a-Lago, Florida.

Trump hampir 2 bulan menghabiskan waktunya untuk menuduh kubu Joe Biden telah melakukan kecurangan terstruktur, masif, dan sistematis berskala besar, meskipun kemudian tidak ada bukti kuat.

Keputusan nekat Trump melanggar tradisi

Bukan hanya Trump yang bersikap dingin terhadap Biden, istrinya Melania juga mengucapkan pidato perpisahan tanpa tradisi Ibu Negara menyambut penggantinya, sehingga tersirat Melania tidak ingin ada komunikasi dengan Jill Biden.

Keputusan nekat Trump melanggar tradisi pastilah memunculkan tanda tanya besar tentang masa depan demokrasi AS yang mengindikasikan periode tersulit.

Sebagaimana kita ketahui bersama, Biden, akan resmi dilantik pada Rabu (20/1) siang waktu Amerika, yang sekaligus menjadi momen berakhirnya masa jabatan Trump, yang dijadwalkan akan terbang meninggalkan Gedung Putih di Washington DC.

Trump memberi pengampunan pada 73 napi

Sebelum mengakhiri jabatan, Trump menepati janjinya untuk memberikan grasi pada 73 napi, termasuk mantan asisten Gedung Putih, Steve Bannon.

Bannon sebagaimana dikutip dari detik.com, merupakan penasihat utama dalam kampanye pemilihan presiden Trump tahun 2016, dia didakwa melakukan penipuan terhadap pendukung Trump karena mengumpulkan dana swasta untuk membangun tembok perbatasan AS-Meksiko.

Amerika akan terus menekan China

Selain Donald Trump yang memberi kesan menjelang akhir masa jabatannya, Menteri Luar Negeri (Menlu) AS Mike Pompeo di hari terakhirnya menjabat, juga mendesak semua badan internasional termasuk pengadilan untuk menangani kasus-kasus Uighur yang diperlakukan secara sewenang-wenang oleh China.

Pampeo menegaskan Amerika Serikat akan terus menekan China, karena berdasar laporan kelompok-kelompok hak asasi, setidaknya satu juta orang Uighur dan warga Muslim berbahasa Turki dipenjara di kamp-kamp wilayah Xinjiang.

China berambisi memaksakan Uighur ke dalam budaya mayoritas Han, dengan menghapus adat istiadat Islam, termasuk memaksa Muslim untuk makan daging babi dan minum alkohol, yang keduanya dilarang oleh keyakinan mereka.

Senada dengan Pampeo, Presiden terpilih AS, Joe Biden sebelumnya juga telah menyerukan lebih banyak tekanan terhadap China karena pelanggaran hak asasi manusia, dengan kampanyenya tahun lalu menggunakan istilah genosida.

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x