Mohon tunggu...
Riswandi Yusuf
Riswandi Yusuf Mohon Tunggu... Freelancer

melintasi batas waktu dengan menulis, maka kau akan tetap hidup walaupun dirimu sudah tiada...

Selanjutnya

Tutup

Filsafat Pilihan

Napak Tilas Jalan Sunyi Menuju Harmoni

22 Januari 2021   14:36 Diperbarui: 22 Januari 2021   14:41 105 4 0 Mohon Tunggu...

Dalam sejarah, tidak banyak teks yang mampu mempengaruhi kehidupan banyak manusia hingga bergenerasi. Sebagian teks-teks yang mampu memberi pengaruh dan bertahan mendapatkan posisinya di tengah kebudayaan manusia sebagai suatu yang sakral. Satu dari yang sedikit itu adalah sebuah kumpulan teks yang diyakini ditulis oleh seorang bijak dari dari Cina, Tao Te Ching.

Tao Te Ching (selanjutnya disingkat TTC) bukanlah kumpulan teks yang menjadi buku babon atau ensiklopedia berjilid-jilid yang memenuhi rak buku kita. Ia hanya buku tipis yang terdiri dari 5000 karakter dan dapat habis dibaca dalam waktu kurang dari satu jam. Terdiri dari delapan puluh satu bab tanpa penjelasan dan disampaikan dengan bahasa yang romantik dan tidak panjang. Ini menunjukkan betapa sastra menjadi bagian penting dari kebudayaan dimana ia lahir. Meskipun studi ilmiah menyebutkan bahwa TTC merupakan kumpulan teks yang ditulis beberapa orang dan kemudian dikodifikasi oleh penganutnya, secara tradisi TTC diyakini ditulis oleh seorang bijak yang dipanggil Lao Tze dalam waktu tiga hari menjelang pengembaraan di hari tuanya pada abad ke-6 SM.

Dikisahkan  saat Lao Tze hendak meninggalkan kotanya sambil menunggangi kerbau ke arah barat menuju apa yang kita kenal sekarang sebagai Tibet, ia dihentikan oleh penjaga gerbang kota Hankao yang mengenalinya sebagai orang tua bijak yang mengajarkan untuk menumbuhkan kebaikan alami. Kepergiannya itu sendiri disebabkan kesedihannya karena menghadapi keengganan mayoritas masyarakat pada masanya terhadap apa yang diajarkannya. Karena tahu Lao Tze tidak dapat dihalangi, penjaga gerbang tersebut membujuk Lao Tze untuk menuliskan catatan mengenai keyakinannya untuk peradaban yang ditinggalkannya dan ia setuju. Lao Tze kemudian mengambil waktunya dan menyendiri. Tiga hari kemudian, ia kembali kepada penjaga gerbang dengan buku tipis ini dan kemudian meninggalkan kota tersebut dan hilang dalam sejarah.

Tak banyak yang diketahui dari Lao Tze. Satu-satunya catatan awal tentangnya di dapat dari tulisan Sze-Ma Ch'ien yang hidup sekitar 136-85 SM dalam tulisannya, Shi Ki, pada abad pertama dan sudah diterjemahkan ke bahasa Inggris menjadi Record The Grand Historian of China. Terdapat perbedaan tahun kelahirannya namun diyakini ia lahir di desa Chu Jan kabupaten Li Hsiang Distrik Ku Hien yang masuk daerah kekuasaan negara Chu, sekarang kota Lu Yi di Provinsi He Nan. Semasa hidupnya ia pernah bertugas sebagai penjaga arsip sejarah negara. Tugas yang memungkinkan baginya untuk meng-akses informasi dan pelajaran pelajaran penting saat itu.

Nama aslinya adalah Er dan bermarga Li. Nama kecilnya adalah Bo Yang dan panggilannya adalah Dan. Nama Lao Tze yang berarti "filosof tua" sendiri adalah nama yang dinisbatkan kepadanya dan murid-muridnya oleh Kong Fu Tze. Keduanya diyakini pernah bertemu lebih dari satu kali. Kong Fu Tze, filosof terkenal dari China yang juga tokoh utama ajaran Konfusian, dikisahkan pergi ke negara Chu untuk berdiskusi dengannya. Ketika Konfusius menanyakan kepadanya soal norma kesopanan dan kebenaran sambil memujinya, Lao Tze memberikan jawaban,

"Orang yang kamu ajak bicara, Tuan, kata-katanya akan tetap ada meski dirinya dan tulang belulangnya hancur. Seorang yang mulia akan naik pada waktunya. Jika saat itu tidak tiba, ia akan melayang seumpama tanaman yang merambat kesana-kemari. Saya melihat seorang pedagang yang bijak menyembunyikan hartanya sehingga ia terlihat miskin. Seorang yang mulia dan sempurna kebajikannya bersikap seolah-olah dia adalah orang bodoh. Lepaskan tuan, lepaskan rasa bangga, harapan-harapan, kepura-puraan dan segala rencana Anda. Semua itu tidak ada gunanya bagi Anda. Itulah yang ingin saya sampaikan kepada Anda. Dan hanya itu."

Kong Fu Tze pergi dengan kebingungan dan kekaguman atas jawaban yang diberikan Lao Tze. Kepada murid-muridnya ia menceritakan tentang persona yang ditangkapnya dari sosok filosof tua, "Saya tahu burung-burung dapat terbang, ikan-ikan dapat berenang dan binatang liar dapat berlari. Untuk hewan yang berlari seseorang dapat membuat jerat. Untuk yang berenang seseorang dapat membuat jaring. Untuk yang terbang seseorang dapat membuat panah. Mengenai naga, aku tidak mengetahui bagaimana ia bisa menunggangi angin dan awan ketika ia naik ke langit. Hari ini aku bertemu Lao Tze. Apakah mungkin dia seperti naga?"

Cara Lao Tze menjawab Kong Fu Tze menunjukkan keluasan pengetahuan dan kebijaksanaannya. Penggunaan bahasanya yang tinggi menunjukkan keterpelajarannya. Hal itu juga yang ia tunjukkan ketika menulis TTC, teks yang meskipun dengan mudah kita menemukan ambiguitas dan paradoksal dalam penyampaiannya namun mengandung makna luas yang sulit dipahami. Misalnya seperti yang disampaikannya:

Kelemahan yang sempurna dalam dunia ini dapat menguasai benda-benda yang kuat di dunia . Kekuasaan yang meliputi semua tak ada yang tidak diliputinya. Dari itu aku mengetahui betapa gunanya kebajikan dari tanpa berbuat. Memberi pelajaran tanpa berbicara dan menggunakan tanpa berbuat di antara manusia di dunia ini jarang yang dapat mencapainya (TTC : 43)

Pada bab ini, Lao Tze seolah mempertentangkan kelembutan dan kekerasan, diam dan bergerak, kuasa dan menguasai dan mengajar tanpa kata-kata dan sebagainya. Padahal pada bab ini dijelaskan salah satu konsep penting dalam ajaran Taoisme yaitu Wu Wei atau keheningan yang kreatif yang akan kita bahas pada bagian berikut dalam tulisan ini.

Simak juga penuturan Lao Tze: 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
  7. 7
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x