Mohon tunggu...
Redemptus Rizky
Redemptus Rizky Mohon Tunggu... Freelancer

'pura-pura' penulis

Selanjutnya

Tutup

Bahasa

Gejala Jawaisme Berbahasa dalam Lingkungan Kampus

9 September 2019   05:56 Diperbarui: 9 September 2019   13:49 0 0 0 Mohon Tunggu...

Penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar merupakan hal yang sangat penting bagi masa depan keindonesiaan. Penggunaan bahasa dalam hal ini tidak hanya berkaitan dengan nasionalisme  sesuai dengan pasal 36 Undang-Undang Dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia Tahun 1945. Implikasi penggunaan bahasa yang baik dan benar juga terdapat pada kemampuan mengungkapkan ide atau gagasan. Logika berpikir dan tidak akan terpisah dari kaidah kebahasaan. Hal  ini ditujukan setidaknya agar para peserta didik memiliki bekal yang cukup untuk melanjutkan pendidikan ke tingkat selanjutnya, secara khusus dari segi kebahasaan. Pengungkapan ide atau gagasan adalah contoh artikulasi yang paling praktis dari penggunaan bahasa yang baik dan benar. Pengungkapan gagasan yang seyogyanya dilakukan melalui forum diskusi atau melalui publikasi tulisan dapat dijadikan indikator untuk mengukur penggunaan bahasa dari seorang peserta didik, baik pada pendidikan dasar atau juga pendidikan tinggi. Sampai pada titik ini, dapat kita sadari pentingnya penggunaan bahasa Indonesia.

Degradasi kemampuan bahasa Indonesia

Dewasa ini, penggunaan bahasa Indonesia cenderung mengalami degradasi atau penurunan. Dilansir dari Kompas.com, penggunaan bahasa Indonesia dalam beberapa tahun terakhir mengalami penurunan. Hal tersebut diungkapkan oleh Prof, Dr Hamka Rektor Universitas Muhammdiyah Malang. Hal tersebut didapatkan dari hasil atau nilai ujian nasional bahasa Indonesia dari smp dan sma mengalami penurunan dari tahun ke tahun. Selain itu, indeks berbahasa guru-guru sekolah menengah juga mengalami penurunan dari tahun-ke tahun. Penilaian teoritis ini tentunya tidak akan jauh berbeda jika diterapkan pada tingkat universitas, dalam hal ini bagi para mahasiswa yang berada pada tahun pertama perkuliahan. Pernyataan sepihak ini diasumsikan dari kenyataan bahwa mereka( mahasiswa baru) juga berasal dari pendidikan dasar. Asumsi inipun didukung dengan data yang menyatakan bahwa masih sangat banyak mahasiswa semester akhir yang melakukan sangat banyak kesalahan berbahasa dalam menulis. Hal ini kemudian membuat tugas dosen semakin berat karena harus mengoreksi kesalahan berbahasa yang seharusnya tidak terjadi pada level mahasiswa semster akhir. Ironis memang. Hal ini juga disinggung oleh Trisna Ardanari Adipurwa. Seorang tenaga pengajar program studi pendidikan sendratasik, Fakultas Seni Pertunjukan, ISI Denpasar. Dengan demikian, dapatlah dikatakan bahwa penurunan penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar telah terjadi pada hampir semua lini pendidikan, baik pendidikan dasar atau pendidikan tinggi.

Menelisik dari segi kebiasaan

Sebagai tingkat tertinggi dari sebuah pendidikan formal, universitas adalah tempat terakhir sebelum para ilmuwan atau praktisi disemaikan dan diterjunkan kedalam masyarakat sesuai dengan bidang keilmuannya masing-masing. Oleh karena itu, universitas seharusnya menjadi ladang yang subur sebagai tempat pertumbuhan bahasa Indonesia. Universitas menjadi sanggar yang menjaga keberlangsungan penggunaan bahasa Indonesia berikut keasliannya. Dewasa ini, apa yang terjadi di lingkungan kampus malah kontradiktif dengan apa yang seharusnya. Penggunaan bahasa justru semakin terdegradasi di dalam kampus itu sendiri. Penggunaan bahasa-bahasa gaul yang kemudian dengan halusnya memperkosa bahasa Indonesia serta penggunaan bahasa daerah yang sering kali tidak kenal tempat menjadikan tugas kampus sebagai sanggar bahasa Indonesia semakin absurd. Kenyamanan menggunakan bahasa gaul dan bahasa daerah hampir disemua lini kehidupan kampus kemudian menghilangkan kesadaran mereka sebagai masa depan bahasa Indonesia. Hal ini secara praktis dapat dilihat dalam forum-foum diskusi yang sering kali bernuansa bahasa gaul ataupun bahasa daerah. Secara sosial-komunikasi, hal inipun menjadi sebuah masalah bagi mahasiswa yang tidak bisa berbahasa daerah setempat dimana kampus berada. Tanpa menyangkal bahwa penggunaan bahasa adalah hal yang dinamis dan bisa berubah kapan saja sesuai kebutuhan manusia, hal ini tidak bisa ditolelir terlalu jauh. Perguruan tinggi di Indonesia tanpa terkecuali memiliki standar berbahasa yang sama, yakni bahasa Indonesia. Jika dibiarkan terus-menerus, masa depan bahasa Indonesia berikut originilitasnya dapat terdegradasi semakin dalam, dan bukan tidak mungkin hilang dari penggunaan. Tidak berlebihan jika dikatakan bahwa nasionalisme dan integritas Indonesia sebagai negara yang berbahasa sedang dipertaruhkan.

Solution oriented

Kesadaran berbahasa tidak saja harus dimiliki oleh para mahasiswa. Pihak kampus seharusnya lebih jeli melihat gejala ini. Program internalisasi atau bahkan radikalisasi penggunaan bahasa Indonesia mesti dilakukan. Kegiatan-kegiatan seperti seminar ataupun workshop terkait masalah ini, seharusnya semakin intensif dilakukan. Selain itu hal paling praktis yang menurut hemat penulis dapat memberikan dampak yang cukup signifikan adalah dengan membiasakan bahasa Indonesia yang baku di dalam kelas. Baik ketika memberikan materi atau juga dalam forum diskusi kelas. Presentasi yang dilakukan oleh para mahasiswa harus dibawakan dengan bahasa Indonesia yang baku dengan meminimalisasi penggunaan istilah-istilah gaul ataupun istilah daerah. Atau juga dengan menjadikan aspek kebahasaan sebagai salah satu aspek utama dalam penilaian. Hal ini setidaknya akan memaksa para mahasiswa untuk menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar( baku). Begitu juga dengan tugas dalam bentuk tulisan. Dosen seharusnya juga mengkoreksi aspek kebahasaan, disamping esensi atau ide dari tulisan para mahasiswa. Dengan memberikan koreksi bahasa, dan peringatan untuk tidak mengulang kesalahan bahasa yang sama pada tugas berikutnya, para mahasiswa akan terbisa untuk menggunanakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Dari sisi mahasiswa, hal ini dapat dimulai dari grup-grup kelas, dalam hal ini grup online. Pemberitahuan-pemberitahuan atauapun percakapan lain dalam kelas setidaknya tetap digunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Sekilas, solusi ini cukup sulit dilakukan karena para mahasiswa sudah terbiasa dengan bahasa gaul atau juga bahasa daerah. Namun, kesadaran untuk berbahasa Indonesia harus menyentuh level pergaulan mahasiswa. Karena seyogyanya bahasa yang digunakan oleh mahasiswa sebagian besar dibentuk dalam pergaulan. Dari segi pemerintah, program seperti lomba-lomba esai atau juga pidato serta kegiatan-kegiatan lain yang kemudian dapat menggenjot mahasiswa untuk menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar dapat dilakukan. Aspek kebahasaan juga dapat dimasukan dalam kompetensi dasar dalam standarisari penilaian pendidikan tinggi atau univeristas. Masa depan bahasa Indonesia ada pada tangan anak-anak muda. Jika bukan anak muda, siapa lagi?

KONTEN MENARIK LAINNYA
x