Mohon tunggu...
Redemptus Rizky
Redemptus Rizky Mohon Tunggu... Freelancer

'pura-pura' penulis

Selanjutnya

Tutup

Bahasa

Gejala Jawaisme Berbahasa Dalam Lingkungan Kampus

9 September 2019   05:56 Diperbarui: 18 Oktober 2019   23:51 176 0 0 Mohon Tunggu...

Penggunaan bahasa indonesia yang baik dan benar merupakan hal yang sangat penting bagi masa depan keindonesiaan. Penggunaan bahasa dalam hal ini tidak hanya berkaitan dengan nasionalisme. Implikasi penggunaan bahasa yang baik dan benar juga terdapat pada kemampuan mengungkapkan ide atau gagasan. Logika berpikir tidak akan terpisah dari kaidah kebahasaan. Komunikasi yang baik antara komunikator dengan komunikan adalah komunikasi yang dipahami oleh kedua belah pihak. Dengan kata lain, komunikasi yang terjadi akan menghantar kedua pihak pada kesamaan paham. Maksud yang ingin disampaikan komunikator akan diterima sebagai maksud yang sama oleh komunikan. Hemat penulis, hal ini hanya akan terjadi jika ide atau gagasan yang ingin disampaikan komunikator diartikulasikan dengan mengindahkan kaidah kebahasaan Indonesia yang baik dan benar. Dalam hal ini, berlaku dua standar yang mana semuanya digunakan oleh kedua belah pihak. Standar yang pertama adalah logika dan standar yang kedua adalah bahasa.

Pengungkapan ide atau gagasan adalah contoh artikulasi yang paling praktis dari penggunaan bahasa yang baik dan benar. Pengungkapan gagasan yang seyogyanya dilakukan melalui forum diskusi atau melalui publikasi tulisan dapat dijadikan indikator untuk mengukur penggunaan bahasa dari seorang peserta didik, baik pada pendidikan dasar atau juga pada pendidikan tinggi. Dengan menguasai kedua hal ini (logika dan kaidah kebahasaan), setidaknya para peserta didik memiliki bekal yang cukup untuk melanjutkan pendidikan ke tingkat selanjutnya. Sampai pada titik ini, dapat kita sadari pentingnya penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar.

Degradasi Kemampuan Bahasa Indonesia

Dewasa ini, penggunaan bahasa Indonesia cenderung mengalami degradasi atau penurunan. Dilansir dari KOMPAS.com, penggunaan bahasa Indonesia dalam beberapa tahun terakhir mengalami penurunan. Hal tersebut diungkapkan oleh Rektor Universitas Muhammadyah Prof Dr Hamka (Uhamka), Suyatno, ketika menyampaikan orasi ilmiah saat ia dikukuhkan sebagai guru besar bidang ilmu pendidikan bahasa, Kamis (20/8) di kampus Uhamka, Jakarta. Hal tersebut didapatkan dari hasil atau nilai ujian nasional bahasa Indonesia dari SMP dan SMA  yang mengalami penurunan dari tahun ke tahun. Hal ini diperparah dengan indeks berbahasa guru-guru sekolah menengah yang juga mengalami penurunan. Penilaian teoritis ini hemat penulis tidak akan jauh berbeda jika diterapkan pada tingkat universitas. Asumsi inipun didukung dengan data yang menyatakan bahwa masih sangat banyak mahasiswa semester akhir yang melakukan sangat banyak kesalahan berbahasa dalam menulis skripsi. Hal ini kemudian membuat tugas dosen semakin berat karena harus mengoreksi kesalahan berbahasa yang seharusnya tidak terjadi pada level mahasiswa semester akhir. Ironis memang. Hal ini juga disinggung oleh Trisna Ardanari Adipurwa. Seorang tenaga pengajar program studi pendidikan sendratasik, Fakultas Seni Pertunjukan, ISI Denpasar dalam jurnalnya yang berbicara tentang kesalahan berbahasa yang dilakukan mahasiswa. Sampai pada titik ini, dapatlah dikatakan bahwa penurunan penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar telah terjadi pada hampir semua lini pendidikan, baik pendidikan dasar atau pendidikan tinggi.

Menelisik dari Segi Kebiasaan

Sebagai tingkat tertinggi dari sebuah pendidikan formal, universitas adalah tempat terakhir pendidikan sebelum para ilmuwan atau praktisi disemaikan dan diterjunkan ke dalam masyarakat. Tentunya sesuai dengan bidang keilmuannya masing-masing. Oleh karena itu, universitas seharusnya menjadi ladang yang subur sebagai tempat pertumbuhan bahasa Indonesia. Universitas seharusnya menjadi sanggar yang menjaga keberlangsungan penggunaan bahasa Indonesia berikut keasliannya. Dewasa ini, apa yang terjadi di lingkungan kampus malah kontradiktif dengan apa yang seharusnya terjadi. Penggunaan bahasa Indonesia justru semakin terdegradasi di dalam kampus itu sendiri. Penggunaan bahasa daerah( Jawa) yang sering kali tidak kenal tempat menjadikan tugas kampus sebagai sanggar bahasa Indonesia semakin absurd. Kenyamanan menggunakan bahasa daerah hampir disemua lini kehidupan kampus kemudian menghilangkan kesadaran mereka sebagai masa depan bahasa Indonesia. Hal ini secara praktis dapat dilihat dalam forum-forum diskusi yang sering kali bernuansa bahasa kedaerahan. Secara sosial-komunikasi, hal inipun menjadi sebuah masalah bagi mahasiswa yang tidak bisa berbahasa daerah setempat dimana kampus berada. Tanpa menyangkal bahwa penggunaan bahasa adalah hal yang dinamis dan bisa berubah kapan saja sesuai kebutuhan manusia, hal ini tidak bisa ditolelir terlalu jauh. Perguruan tinggi di Indonesia tanpa terkecuali memiliki standar berbahasa yang sama, yakni bahasa Indonesia.

Pada level yang lebih serius, penggunaan sebuah bahasa tertentu yang tak kenal waktu dan tempat dapat mengakibatkan adiksi bahasa. Kenyamanan dalam menggunakan sebuah bahasa tertentu  menimbulkan penolakan untuk mengunakan bahasa lain. Lebih parah lagi, adiksi bahasa ini akan mengakibatkan keangkuhan identitas yang bisa saja berujung pada rasisme. Dengan kata lain, hal ini dapat menyangkal penerimaan terhadap identitas lain. Jika dibiarkan terus-menerus, masa depan bahasa Indonesia berikut originilitasnya dapat terdegradasi semakin dalam, dan bukan tidak mungkin hilang dari penggunaan. Tidak berlebihan jika dikatakan bahwa nasionalisme dan integritas Indonesia sebagai negara yang berbahasa sedang dipertaruhkan.

Solution oriented

Kesadaran berbahasa tidak saja harus dimiliki oleh para mahasiswa. Pihak kampus seharusnya lebih jeli melihat gejala ini. Program internalisasi atau bahkan radikalisasi penggunaan bahasa Indonesia mesti dilakukan. Kegiatan-kegiatan seperti seminar ataupun workshop terkait masalah ini, seharusnya semakin intensif dilakukan. Selain itu hal paling praktis yang dapat memberikan dampak yang cukup signifikan adalah dengan membiasakan bahasa Indonesia yang baku di dalam kelas. Baik ketika memberikan materi atau juga dalam forum diskusi kelas. Presentasi yang dilakukan oleh para mahasiswa harus dibawakan dengan bahasa Indonesia yang baku dengan meminimalisasi penggunaan istilah-istilah gaul ataupun istilah daerah. Atau juga dengan menjadikan aspek kebahasaan sebagai salah satu aspek utama dalam penilaian. Hal ini setidaknya akan memaksa para mahasiswa untuk menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar( baku). Begitu juga dengan tugas dalam bentuk tulisan. Dosen seharusnya juga mengkoreksi aspek kebahasaan, disamping esensi atau ide dari tulisan para mahasiswa. Dengan memberikan koreksi bahasa, dan peringatan untuk tidak mengulang kesalahan bahasa yang sama pada tugas berikutnya, para mahasiswa akan terbiasa untuk menggunanakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Dari sisi mahasiswa, hal ini dapat dimulai dari grup-grup kelas, dalam hal ini grup online. Pemberitahuan-pemberitahuan atauapun percakapan lain dalam kelas setidaknya tetap digunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Sekilas, solusi ini cukup sulit dilakukan karena para mahasiswa sudah terbiasa dengan bahasa gaul atau juga bahasa daerah. Namun, kesadaran untuk berbahasa Indonesia harus menyentuh level pergaulan mahasiswa. Karena seyogyanya bahasa yang digunakan oleh mahasiswa sebagian besar dibentuk dalam pergaulan. Dari segi pemerintah, program seperti lomba-lomba esai atau juga pidato serta kegiatan-kegiatan lain yang kemudian dapat menggenjot mahasiswa untuk menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar dapat dilakukan. Aspek kebahasaan juga dapat dimasukan dalam kompetensi dasar dalam standarisari penilaian pendidikan tinggi atau univeristas. Masa depan bahasa Indonesia ada pada tangan anak-anak muda. Jika bukan anak muda, siapa lagi?

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x