Mohon tunggu...
Riska Fatma Meinarty
Riska Fatma Meinarty Mohon Tunggu... Mahasiswa - Mahasiswa

Mahasiswa Jurnalistik Universitas Padjadjaran

Selanjutnya

Tutup

Ilmu Sosbud Artikel Utama

Pemenuhan Hak Disabilitas yang Semu, di Mana Kesetaraan Ini Berdiri?

23 November 2022   12:30 Diperbarui: 27 November 2022   11:00 1038
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ilustrasi penyandang disabilitas. (sumber: SHUTTERSTOCK/BRO.VECTOR via kompas.com)

Bersyukurnya, Wulan tumbuh di lingkungan suportif dan positif yang mengajarkannya untuk tidak mudah termakan sikap tercela yang lain. 

Namun, penyandang disabilitas lain belum tentu seberuntung Wulan. Lingkungan yang tidak pernah mendukung dan menerima keterbatasan difabel, atau terpaksa menerima perlakuan tidak layak yang lebih kejam bisa saja didapatkan penyandang disabilitas lain. 

Kondisi ini tidak hanya dirasakan segelintir penyandang difabel, mereka terjebak dalam kondisi ini dan terpaksa harus merasakan pahitnya bertahan hidup di dalam lingkungan seperti itu.

"Aku rasa kita semua sama, sama-sama manusia, yah. Mempunyai hak asasi yang sama tanpa ada yang dikurangi, dibatasi, dihalangi, apalagi dihilangkan, gitu.

Jadi kami juga punya hak buat mendapatkan pendidikan, fasilitas layanan publik, pelayanan yang ramah, kita semua sama berhak mendapatkan itu semua," tutur Wulan.

Mengenai hak-hak disabilitas, Wulan merasa belum terpenuhi karena para penyandang difabel memiliki keterbatasan bergerak yang berbeda dengan para non-difabel. 

Sedangkan akses mereka terhadap fasilitas publik masih sangat terbatas. Pengalaman yang serupa dengan Iwan, Wulan juga mengeluhkan fasilitas pendukung pengguna kursi roda di gedung-gedung publik Kota Banjar yang masih belum ada. 

"Aku rasa kami perlu banget mendapatkan pelayanan yang ramah, kayak petugas layanan publik itu harus [mampu] menggunakan bahasa isyarat untuk mereka yang mempunyai hambatan dalam pendengaran, jadi mereka tetap bisa berkomunikasi dengan petugas layanan publik tersebut," tambahnya.

Wulan juga menyarankan alternatif lain di samping kemampuan menggunakan bahasa isyarat dengan kehadiran informasi visual, seperti tanda di lokasi strategis atau denah lokasi pada gedung-gedung publik. 

Selain itu, Wulan juga mendukung informasi visual ini dirancang secara interaktif, dilengkapi tombol tujuan lokasi yang saat ditekan akan memunculkan jalur tercepat menuju lokasi tersebut. 

Menurutnya, hal ini tidak hanya memberi kemudahan bagi para difabel tetapi juga non-difabel karena berfungsi memandu pengunjung menunjukkan setiap lokasi di Gedung publik. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Ilmu Sosbud Selengkapnya
Lihat Ilmu Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun