Mohon tunggu...
riska nuraini
riska nuraini Mohon Tunggu... suka menolong orang

seorang yang senang membaca

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Pembatasan dan Roda yang Harus Tetap Berputar

30 Mei 2020   12:48 Diperbarui: 30 Mei 2020   12:40 3 1 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Pembatasan dan Roda yang Harus Tetap Berputar
wartaekonomi.com

Siapa tak kangen dengan acara pengajian bersama yang diselenggarakan oleh komunitas kita?  Atau arisan yang penuh dengan gelak tawa. Juga acra kumpul-kumpul dengan rekan kerja atau rekan di luar kerja kita sering diwarnai sukacita.

Beberapa bulan ini kita memang 'terbelenggu'. Tidak saja saat puasa yang memang amanah agama, tapi kebiasaan-kebiasaan baru dimana kita tidak atau belum terbiasa dengannya. Semisal memakai masker, melakukan arisan tapi uang ditransfer dan kita hanya bisa bertemu menggunakan teknologi zoom. Tetapi kita melakukan tadarus di rumah saja, berbeda dengan kebiasaan dimana tadarus selalu dilakukan di masjid. Kebiasaan bulan Ramadan dimana kita menghabiskan waktu di masjid juga tak bisa kita lakukan lagi

Artinya saat puasa dan beberapa bulan sebelumnya merupakan bulan yang berbeda dengan bulan-bulan sebelumnya , bahkan sangat berbeda.

Kita akan masuk pada kelaziman baru atau bahasa sombongnya kita namakan new normal. Bulan dimana kita akan masuk pada situasi normal -- beraktivitas dan belajar seperti biasa- tetapi dengan pembatasan yang kita lakukan saat puasa dan saat-saat pandemic Covid-19 menghebat. Hal ini ditempuh tentu saja untuk kesehatan kita bersama.

Karena banyak hal yang harus terus berjalan, seperti roda perekonomian dimana masyarakat membutuhkan ekonomi tetap terus bergerak, roda pendidikan dimana guru dan murid bertemu untuk mendiskusikan hal tertentu.

Yang tak kalah penting adalah dunia pariwisata butuh kembali bergulir karena saat pendemi menghebat, dunia pariwisata berhenti total. Ini berlaku di seluruh dunia, karena nyaris tak ada mobilitas warga asing melintas batas kecuali untuk kepentingan diplomasi dan kesehatan. Karena itu pelaku pariwisata memang pihak yang paling terpukul saat Covid-19 terjadi. 

Pendapatan hotel nyaris nol meski pengeluaragan utk listri  terus keluar. Begitu juga pelaku pariwisata seperti guide tidak bisa lagi beroperasi karena memang tak ada turis datang. Kawasan seperti kebun binatang, pusat kuliner dan sebagainya menjadi nol pendapatan.

Belum lagi sektor transportasi domestik maupun internasional yang juga terpukul. Tak hanya tukang ojek dan sopir angkot saja yang mengeluh, tetapi maskapai penerbangan, pelaku transportasi bus dan travel dll. Mereka nyaris tanpa pendapatan lagi.

Kelaziman baru berarti semua itu tetap bisa berjalan meski ada beberapa hal yang harus kita perhatikan; memakai masker, membatasi jarak satu sama. Kita tak bisa melakukan new normal tanpa memperhatikan bahaya yang mengintai. Karena Covid-19 belum ada vaksinya.

VIDEO PILIHAN