riska nuraini
riska nuraini

seorang yang senang membaca

Selanjutnya

Tutup

Muda

Perkokoh Persatuan, Stop Adu Domba

12 November 2017   15:29 Diperbarui: 12 November 2017   15:35 353 1 0
Perkokoh Persatuan, Stop Adu Domba
Stop Adu Domba - kalteng.antaranews.com

Dalam peringatan hari sumpah pemuda kemarin, mahasiswa dan perguruan tinggi satu suara untuk mendeklarasikan gerakan anti radikalisme. Radikalisme telah membuat sebagian generasi muda kita, menjadi generasi yang mudah marah, mudah tenyalahkan orang lain, merasa paling benar, dan mudah menyebarkan kebencian. Padahal generasi jaman sekarang merupakan generasi milenial, yang mempunyai karakter berbeda dengan generasi sebelumnya. Generasi jaman now begitu familiar dengan yang namanya media sosial. Sayangnya, tidak sedikit generasi muda saat ini yang menjadi korban provokasi media sosial, akibat tidak membekali dirinya dengan kecerdasan.

Di era milenial seperti sekarang ini, semangat nasional harus tetap dijaga. Nasionalisme harus terus dijaga, agar bisa berkembang menyesuaikan perkembangan jaman. Di era kemerdekaan dulu, bentuk nasionalisme diwujudkan dengan cara memanggul senjata, perang melawan penjajah. Dan di era milenial seperti sekarang ini, tentu tidak releval lagi jika harus dengan cara memanggul senjata. Saat ini, Indonesia butuh generasi yang cerdas, yang mampu berkreasi dan berinovasi agar Indonesia tumbuh menjadi negara yang maju. Namun, kecerdasan itu juga harus diimbangi dengan wawasan kebangsaan serta pemahaman agaman yang baik dan benar.

Saat ini, media sosial seringkali digunakan sebagai ajang untuk mengumbar kebencian. Seseorang bisa secara bebas dan tanpa ragu, menuliskan atau mengatakan kejelekan orang lain. Motifnya pun beraneka ragam. Mulai dari motif pribadi, hingga politis ataupun motif lain. Mungkin kita masih ingat grup Saracen yang ditangkap beberapa bulan lalu? Jaringan penebar kebencian yang dibayar ini, menunjukkan bahwa motif politis sangat kental sekali. Seseorang bisa memesan kepada Saracen, untuk menjatuhkan rival politiknya. Namun, dikalangan anak muda, tentu motif pribadi yang lebih sering.

Apapun motifnya, mengumbar kebencian di media sosial, bisa berdampak pada hal-hal yang tidak kita duga. Banyak orang yang memutus pertemanan di dunia maya. Dan hal ini juga bisa berdampak pada konflik di dunia nyata, jika provokasi terus-terusan dilakukan. Kasus pembakaran tempat ibadah di Tanjung Balai, Sumatera Utara tahun lalu, terjadi karena akibat provokasi kebencian di media sosial. Masih ada lagi bukti yang lebih mengerikan, bahwa pembiaran provokasi kebencian di media sosial bisa mempunyai dampak yang luar biasa.

Untuk itulah, saatnya meninggalkan budaya provokasi kebencian. Karena tidak ada satupun suku-suku yang ada di Indonesia, yang menganjurkan kebencian. Agama-agama yang berkembang di negeri ini, juga tidak ada satupun yang menganjurkan kebencian. Mari kita saling bergandengan, saling menghargai, dan saling tolong menolong antar sesama. Jika pada pilkada serentak mendatang, provokasi kebencian mulai bermunculan, sebagai generasi yang cerdas, semestinya kita tidak akan mudah terpengaruh. Sebaliknya, kita harus bisa menangkap kebencian itu dengan menebarkan pesan-pesan damai. Karena Indonesia bukanlah negara yang mudah marah, tapi Indonesia adalah negara yang ramah.

Jika kita bisa menerapkan hal ini dalam keseharian, maka kita tidak hanya ikut aktif dalam menjaga perdamaian, tapi juga aktif menjauhkan generasi penerus dari ideologi radikal yang mengedepankan kekerasan. Saatnya, generasi jaman now aktif memperkokoh persatuan dan kesatuan, dengan cara menunggalkan provokasi kebencian dan adu domba. Karena perilaku negatif ini, justru akan menjauhkan Indonesia dari tradisi toleran antar sesama.