Suci Santy Risalah
Suci Santy Risalah ibu rumah tangga - Blogger

Love kids, writing and coffee. English Bachelor. Love mountain and sea.

Selanjutnya

Tutup

Gadget Artikel Utama

Cerita dan Tips di Balik Selfie

20 Mei 2015   12:21 Diperbarui: 17 Juni 2015   06:47 111 1 1
Cerita dan Tips di Balik Selfie
14320958111395647676

Bicara soal selfie, saya yakin semua orang pernah melakukannya. Mulai dari anak-anak (bahkan bayi) sampai sepuh sekalipun, pernah melakukan aksi ini. Selfie yang diambil dari kata self ini, rasanya telah sukses membuat orang kecanduan. Kemanapun pergi, tidak afdol rasanya jika tidak selfie. Berlatarkan lanskap yang indah atau bangunan ciri khas suatu kota bahkan negara. Bertemu teman lama, kurang pas rasanya jika tidak selfie. Apalagi sampai bertemu idola, aksi selfie ini tidak akan pernah dilewatkan. Walaupun hasilnya terkadang blur karena diambil dengan tergesa-gesa. Selfie tetap menjadi hal yang harus dilakukan apapun yang terjadi dan kemanapun pergi.


Dengan selfie, seakan orang ingin berkata pada dunia “hey.. look what I do”. Selfie benar-benar telah membuat orang merasa seperti makan bubur tanpa kuah kari. Seperti ada yang kurang. Kurang sedap.


Saya sendiri pun suka melakukan aksi ini. Namun, saya memang tidak teralu sering menyebarnya di sosial media. Cukuplah foto-foto itu tersimpan rapi dalam memori ponsel. Tapi, bukan berarti saya tidak pernah mengupload foto selfie, pernah, sih, beberapa kali. Itu pun jika dirasa foto yang diambil adalah foto yang baik. Komposisi warna yang pas, angle yang tepat dan pastinya tidak dengan gaya yang aneh.


Beberapa foto selfie yang saya ambil ini adalah murni saya ambil dengan kamera ponsel seadanya. Diambil sendiri yang kadang-kadang perlu beberapa kali “take” karena posisi goyang dan tidak pas hingga hasilnya buram. Maklumlah, kamera depan yang disematkan dalam ponsel saya tidak memiliki resolusi yang tinggi, jadi hasilnya pun seadaanya. Sesekali saya memanfaatkan aplikasi edit foto yang sengaja saya unduh agar hasilnya sedikit lebih bagus.




[caption id="attachment_418796" align="aligncenter" width="300" caption="dok. pri"][/caption]


Ini merupakan selfie yang menjadi saksi perjalanan menulis saya. terpilih dari 500 naskah kemudian di saring menjadi 28. Dan, saya termasuk dari 28 penulis yang mendapatkan kesempatan belajar langsung di kampus fiksi, Yogyakarta. Kampus Fiksi adalah istilah untuk suatu tempat belajarnya para penulis. Kampus Fiksi didirikan oleh sebuah penerbit mayor yang berdomisili di Yogyakarta dan cukup famous di Indonesia. Saya cukup bangga mendapatkan kesempatan belajar langsung dari beberapa penulis senior yang menjadi nara sumber.




[caption id="attachment_418799" align="aligncenter" width="300" caption="dok. pri"]

14320965891654922909
14320965891654922909
[/caption]

Ini juga selfie yang menjadi saksi perjalanan menulis saya. Kondisi saya saat itu sedang sakit, bisa dilihat mata yang sedikit sayu. Kepala sedang sakit-sakitnya, seluruh badan nyeri dan sangat lemas. Namun, karena saat itu adalah momen pelantikan untuk kelompok menulis yang saya pegang, mau tidak mau saya harus datang menemani. Tidak lama, saya pun tumbang juga. Dan akhirnya harus pamit duluan sebelum acara selesai.




[caption id="attachment_418804" align="aligncenter" width="300" caption="(dok. pribadi)"]

1432098647485858393
1432098647485858393
[/caption]

Hasil selfienya tidak terlalu bagus karna buram, namun cerita dibalik selfie inilah yang menarik. Untuk pertama kalinya, anak pertama saya ini saya ajak ke salah satu tempat rekreasi di Jakarta yang cukup terkenal. Dan ini karena hasil dari saya menjadi seorang blogger. Mendapatkan kesempatan berlibur gratis sepuasnya. Saat itu saya bisa merasakan kegembiraannya bermain di wahana-wahana yang sangat menyenangkan.




[caption id="attachment_419011" align="aligncenter" width="300" caption="(dok. pribadi)"]

1432170093269129068
1432170093269129068
[/caption]

Ini adalah bukti bahwa tidak hanya orang dewasa yang kecanduan selfie. Anak-anak bahkan bayi pun sudah ikut-ikutan doyan selfie. Foto ini diambil kerena permintaan dua anak saya itu. Lihat gayanya saat kamera sudah menampilakan wajah mereka masing-masing. Banyak gaya yang mereka lakukan sampai adegan dengan muka jelek sekalipun.  Sekali-kali saya memang suka berfoto dengan mereka. Bukannya menolak, mereka malah yang lebih antusias. Seperti yang terlihat dalam foto itu. Walau hasilnya masih tetap buram, tapi tidak menghalangi aksi selfie kami.




[caption id="attachment_418800" align="aligncenter" width="300" caption="(dok. pribadi)"]

1432097844988631114
1432097844988631114
[/caption]

Ini selfie dengan kualitas foto yang paling bagus diantara selfie saya yang lain. Diambil saat acara launching sebuah gadget baru. Saat itu saya datang sebagai blogger yang diundang khusus untuk menyaksikan kehebatan gadget tersebut. Selfie ini juga diambil menggunakan ponsel yang sedang diluncurkan.  Ketika itu saya diminta untuk mencoba kejernihan kamera depannya.  Hasilnya memang bagus, mungkin tergantung modelnya juga.



Tips Mengambil Foto Selfie


Setelah bercerita tentang 5 selfie yang memiliki kesan bagi saya,  saya ingin memberikan tips bagi siapa saja yang hobi selfie.




  • Perhatikan Tempat. Pasti sudah mendengar tentang orang yang berujung maut gara-gara selfie. Mereka seakan telah kecanduan selfie dan kecanduan ingin memeberitakan pada dunia bahwa mereka telah ada di tempat menarik. Hal ini seharusnya bisa dihindari jika kita memperhatikan tempat yang kita jadikan obyek foto. Lihat keamanannya. Urungkanlah niat untuk selfie jika obyeknya membahayakan. Cukuplah kita mengambil keindahan lanskapnya saja. Itu juga sudah memorable. Jika tempatnya memang aman dan tidak membahayakan, puaskanlah untuk selfie sebanyak-banyaknya.
  • Perhatikan Orang Lain. Ini juga penting untuk diperhatikan. Ada seorang mahasiswa yang kelulusan ditunda karena selfie saat wisuda. Ia selfie di belakang ratusan mahasiswa lain yang sedang khidmat mengikuti proses wisuda. Ketika ia mengambil foto selfie, persis disampingnya adalah dosen yang lengkap dengan pakaian toga. Apa yang aterjadi? karena dianggap tidak sopan, ia pun gagal di wisuda. Separah itukah jika orang sudah kecanduan selfie? Iya, bisa seperti itu. Saat hendak selfie, perhatikan kenyamanan orang sekitar. Saya termasuk orang yang tidak pede jika selfie di tengah kerumunan orang atau banyak mata yang memandang. Jadi saya tidak akan selfie jika banyak orang, saya lebih memilih di foto oleh orang lain saja, dan bagi saya ini lebih save.
  • Perhatikan Gaya. Nah... ini juga tak kalah penting untuk diperhatikan. Baiknya, selfie dilakukan dengan gaya yang sopan. Tak perlulah melakukan selfie yang bisa membuat orang yang melihatnya mual. Mengangkat kaki misalanya, atau memonyong-monyongkan bibir, memiring-miringkan kepala ke kiri dan ke kanan, atau membuka mulut terlalu lebar. Bagi yang sudah terbiasa dengan gaya ini, baiknya dipikirkan lagi mata-mata orang lain yang memandang. Cukup dengan senyum paling manis dan capture your selfie. Hasilnya, pasti akan jauh lebih indah dipandang.



Selfie memang akan jauh lebih menyenangkan jika didukung kamera dengan resolusi yang tinggi. Selain kita akan mendapatkan kualitas gambar yang baik, selfie pun akan jauh lebih menarik. Gambar tidak buram yang mungkin bisa menutupi kecantikan atau ketampanan kita. Kamera yang mendukung aksi selfie pasti akan sangat membantu bagi siapa saja yang sudah kecanduan selfie.