Edukasi

Kenapa Kita Harus Berdoa

28 April 2014   07:48 Diperbarui: 23 Juni 2015   23:07 5900 0 0

MENGAPA KITA BERDOA





MENGAPA KITA BERDOA?



Bertekunlah dalam doa dan dalam pada itu berjaga-jagalah sambil mengucap syukur
(Kolose 4:2) Salah satu paradoks terkenal dalam iman Kristen adalah bahwa Allah ingin agar kita menceritakan kepada-Nya segala sesuatu yang kita alami, meskipun Dia sudah mengetahui segalanya. Lalu, mengapa kita perlu berdoa?

Apabila Anda pernah bergumul dengan pertanyaan semacam ini, mungkin pemikiran dari seorang pendeta pada abad ke-19, R.A. Torrey, dapat membantu. Ia memberi beberapa alasan mengapa kita harus berdoa:

* Karena adanya iblis, dan doa adalah salah satu cara yang dipilih Allah untuk melawannya (Efesus 6:12-13,18).

* Karena doa adalah cara yang Allah berikan agar kita dapat memperoleh apa yang kita butuhkan dari-Nya (Lukas 11:3-13; Yakobus 4:2).

* Karena doa merupakan sarana yang dipilih Allah supaya kita dapat menemukan "kasih karunia untuk mendapatkan pertolongan pada waktunya" (Ibrani 4:16).

* Karena doa yang disertai ucapan syukur adalah cara yang Allah berikan agar kita memperoleh kelepasan dari kekuatiran dan merasakan "damai sejahtera Allah" (Filipi 4:6-7).

Di luar alasan-alasan di atas, sebenarnya kita cukup membaca perintah yang tertulis dalam 1Tesalonika 5:17, "Tetaplah berdoa," dan menyadari bahwa Allah menginginkan kita bercakap-cakap dengan-Nya. Memang, Dia adalah Allah yang Mahatahu, tetapi Dia juga menginginkan adanya persekutuan dengan kita. Tatkala kita mencari wajah Allah dalam doa, berarti kita sedang mempererat hubungan kita dengan-Nya. Inilah alasan terpenting mengapa kita perlu berdoa –Jembatan

HAK KITA YANG PALING ISTIMEWA

ADALAH BERCAKAP-CAKAP DENGAN ALLAH

Contoh Yesus

Kalau kita melihat kepada Yesus, kita melihat contoh tentang doa. Ia terus-menerus berdoa kepada Bapa-Nya. Tidak ada secercah pun tanda yang menunjukkan, bahwa Ia bersandar kepada diri-Nya sendiri. Sebaliknya, Ia selalu bergantung kepada Allah seperti terlihat dalam kehidupan doa-Nya. "Dalam hidup-Nya sebagai manusia, Ia telah mempersembahkan doa dan permohonan dengan ratap tangis dan keluhan kepada Dia, yang sanggup menyelamatkan-Nya dari maut, dan karena kesalehan-Nya Ia telah didengarkan" (Ibr. 5:7). Ayat ini mengungkapkan bagaimana Yesus mengungkapkan isi hati-Nya kepada Bapa. Doa-Nya tidak dingin, kering, atau formal, melainkan suatu doa yang mengalir dari hati yang menyala-nyala dengan kasih Allah.

Perhatikanlah komitmen-Nya yang terlihat dalam ayat ini. "Pagi-pagi benar, waktu hari masih gelap, Ia bangun dan pergi ke luar. Ia pergi ke tempat yang sunyi dan berdoa di sana" (Mrk. 1:35). Di sini Yesus memperlihatkan kebutuhan-Nya untuk berdoa dengan bangun dan berdoa sebelum terang tanah. Demikian pula, tiap-tiap hari kehidupan kita seharusnya dimulai dengan doa. Kalau Yesus berdoa dan menerima perintah harian, demikian pula kita. Murid-murid yang hidup bersama dengan Yesus dan mengamati Dia terus-menerus bertanya, "Tuhan, ajarlah kami berdoa..." (Luk. 11:1). Mereka tidak meminta Dia mengajarkan bagaimana berkhotbah atau melakukan mukjizat, namun mereka ingin sekali mengetahui bagaimana cara-Nya berdoa. Orang-orang yang paling dekat dengan Tuhan mengetahui apa rahasia di balik kuasa-Nya. Mereka melihat bagaimana Ia memisahkan diri-Nya untuk berdoa dan kemudian kembali dengan kuasa yang luar biasa mengalir keluar dari diri-Nya. Mereka sadar, kalau mereka mengerti bagaimana caranya berdoa, mereka akan memiliki kuasa untuk berkhotbah, menyembuhkan dan melakukan mukjizat. Karena itu, marilah kita memahami kuasa yang terdapat dalam doa. Itulah kuasa Allah sendiri. "Doa menjangkau hal-hal yang kelihatannya mustahil dan tak terjangkau. Doa membuka Laut Merah. Doa memancarkan air dari batu karang dan menurunkan roti dari surga. Doa membuat matahari berhenti beredar. Doa menyalakan api dari langit membakar korban Elia. Doa menyembuhkan orang sakit. Doa membangkitkan orang mati. Doa telah membawa pertobatan sekian banyak jiwa.

Rumah Doa

Lalu Yesus masuk ke Bait Allah dan mulai mengusir semua pedagang di situ, kata-Nya kepada mereka: 'Ada tertulis: Rumah-Ku adalah rumah doa. Tetapi kamu menjadikannya sarang penyamun'" (Luk. 19:45-46). Bait Allah telah menjadi pusat kegiatan tempat banyak orang sibuk berjual-beli hewan-hewan korban yang hendak dipersembahkan kepada Allah. Namun Yesus masuk ke sana dan mengusir mereka semua serta menyatakan tempat itu sebagai rumah doa. Mirip sekali dengan gereja pada masa sekarang. Banyak sekali kegiatan yang baik, namun kurang sekali ada doa. Karena kurangnya doa ini, hanya terjadi sedikit pertumbuhan, sedikit kuasa, dan sedikit kekudusan.

Prinsip-prinsip Doa

Kalau kita berdoa, ada prinsip-prinsip yang membuat doa kita berhasil. Prinsip Utama yang mendasarinya adalah prinsip kekudusan. "Sebab mata Tuhan tertuju kepada orang-orang benar, dan telinga-Nya kepada permohonan (doa) mereka..." (I Ptr. 3:12). Hidup benar dan tidak bercela memberi kita kehormatan untuk datang ke hadirat Allah yang kudus. "Siapakah yang boleh naik ke atas gunung Tuhan? Siapakah yang boleh berdiri di tempat-Nya yang kudus? Orang yang bersih tangannya dan murni hatinya, yang tidak menyerahkan dirinya kepada penipuan, dan yang tidak bersumpah palsu" (Mzm. 24:3-4). Sebagai murid Tuhan, kalau kita telah menyerahkan segala sesuatu untuk mengikuti Yesus dan selalu berusaha hidup kudus, kita dapat memastikan, bahwa Allah mendengar dan menjawab doa kita. Prinsip-prinsip lain yang melengkapi Prinsip Utama tadi, meliputi:

1. Doa harus sesuai dengan Firman Allah. "Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya" (Yoh. 15:7). Kalau Firman Allah memenuhi hati kita, doa kita akan mengalir keluar dari pengertian kita akan janji-janji-Nya.

2. Doa harus terarah dan spesifik. "Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu. Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiaporang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetok, baginya pintu dibukakan. Adakah seorang daripadamu yang memberi batu kepada anaknya, jika ia meminta roti, atau memberi ular, jika ia meminta ikan? Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di surga, Ia akan memberikan yang baik kepada mereka yang meminta kepada-Nya" (Mat. 7:7-11). Yang pertama sekali, kita harus meminta. Apapun kebutuhan kita, mintalah. Dikatakan, kalau kita meminta ikan kepada Bapa kita, Ia tidak akan memberikan ular. Apa yang diberikan-Nya? Tentu saja seekor ikan! Ketika kita berdoa, kita harus menyebutkan nama-nama orang yang kita doakan atau hal-hal spesifik yang kita butuhkan.

3. Berdoa dalam nama Yesus. "Dan apa juga yang kamu minta dalam nama-Ku, Aku akan melakukannya, supaya Bapa dipermuliakan di dalam Anak. Jika kamu meminta sesuatu kepada-Ku dalam nama-Ku, Aku akan melakukannya" (Yoh. 14:13-14). "Dan pada hari itu kamu tidak akan menanyakan apa-apa kepada-Ku. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya segala sesuatu yang kamu minta kepada Bapa, akan diberikan-Nya kepadamu dalam nama-Ku. Sampai sekarang kamu belum meminta sesuatu pun dalam nama-Ku. Mintalah maka kamu akan menerima, supaya penuhlah suka citamu" (Yoh. 16:23-24). Allah telah menanamkan segala kuasa di surga dan di bumi di dalam nama Yesus. Ketika kita dilahirkan kembali, kita diberi hak untuk menggunakan nama Yesus dalam doa. Dengan nama-Nya kita dapat menghampiri hadirat Allah dengan penuh keberanian dan kita akan didengar.

4. Berdoa dengan iman. "Dan apa saja yang kamu minta dalam doa dengan penuh kepercayaan, kamu akan menerimanya" (Mat. 21:22). Iman mendapatkan jawabannya sebelum hal itu terlihat oleh mata jasmani. Ketika kita berdoa sesuai dengan kehendak Allah di dalam nama Yesus, kita dapat mengharapkan datangnya jawaban. "Karena itu Aku berkata kepadamu: apa saja yang kamu minta dan doakan, percayalah bahwa kamu telah menerimanya, maka hal itu akan diberikan kepadamu" (Mrk. 11:24).

5. Berdoa dengan tekun. "Doa orang benar, bila dengan tekun didoakan, sangat besar kuasanya" (Yak. 5:16b). kita harus berdoa dengan segenap hati. Dengan bertekun, kita memperlihatkan kalau kita bersungguh-sungguh. Perhatikanlah Kisah Para Rasul 12:5, "Demikianlah Petrus ditahan di dalam penjara. Tetapi jemaat dengan tekun mendoakannya kepada Allah." Petrus dituntun keluar oleh seorang malaikat yang datang menolongnya sebagai jawaban bagi "ketekunan" doa umat Allah.

6. Kita harus memiliki motivasi yang benar. "Atau kamu berdoa juga, tetapi kamu tidak menerima apa-apa, karena kamu salah berdoa, sebab yang kamu minta itu hendak kamu habiskan untuk memuaskan hawa nafsumu" (Yak. 4:3). Penting bagi kita untuk tidak meminta sesuatu dengan alasan yang salah. Berdoa agar orang-orang memperhatikan kita atau meminta berkat-berkat materiil untuk kesenangan kita sendiri sama saja dengan menyalahgunakan kehormatan untuk berdoa. Kita harus terus-menerus memeriksa motivasi kita dalam berdoa. Sekalipun kita berdoa agar orang-orang diselamatkan dan memohon perubahan untuk menjadi lebih baik, kiranya hal itu hanya demi kemuliaan Allah!