Mohon tunggu...
Mario Manalu
Mario Manalu Mohon Tunggu... Pemancing alam liar. Nyambi penulis partikelir

Bersemangat dalam segala cuaca

Selanjutnya

Tutup

Media Pilihan

Media Cetak Tidak Akan Punah

24 Februari 2020   00:40 Diperbarui: 24 Februari 2020   06:11 166 2 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Media Cetak Tidak Akan Punah
Illustrasi (medium.com)

Saya terkejut melihat mantan dosenku membaca koran di sebuah warung kopi, tempat yang telah kami sepakati untuk bertemu. 10 tahun lalu, di tengah euforia kehadiran internet di kampus kami, dengan sangat yakin dia memprediksi bahwa buku, koran dan berbagai media cetak lainnya akan segera hilang dari peredaran dalam 5-10 tahun berikutnya.

Di tengah optimisme terhadap media baru, dosen pengampu mata kuliah Filsafat Manusia itu mulai mengurangi ketergantungan pada buku cetak dan berusaha memaksimalkan peran internet sebagai sumber informasi, termasuk saat mempersiapkan materi perkuliahan. "Jauh lebih simpel, cepat dan hemat" katanya waktu itu dengan sangat optimis.

Perlahan-lahan dia mulai menyadari bahwa media digital berbasis internet tidak bisa menggantikan peran buku, koran, jurnal dan media-media cetak lainnya seratus persen. Kesadaran itu, sesuai penuturannya, semakin tegas ketika dia memperdalam bahasa Prancis secara otodidak. Dia membaca novel dan artikel-artikel berbahasa Perancis dengan bantuan kamus. Awalnya dia menggunakan kamus cetak. Kemudian beralih ke kamus online.

"Ketika menggunakan kamus cetak, bacaan saya begerak lambat karena butuh waktu relatif lebih lama mencari arti tiap kata yang belum saya ketahui. Dengan menggunakan kamus online, jauh lebih cepat.

Tapi arti kata-kata yang saya temukan melalui kamus cetak tersebut sebagian besar lengket di otak dengan sendirinya, sementara arti kata yang saya dapat dari kamus online sebagian besar berlalu begitu saja".

Mantan dosenku itu menduga, waktu relatif lama yang dia habiskan membolak-balik halaman kamus cetak memberi kesempatan pada otak untuk mengendapkan tiap kata yang dia cari artinya.  Sebaliknya, kecepatan menemukan kata (entri)  di kamus online membuatnya dengan cepat beralih mencari arti kata lain, sehingga tiap kata tidak diberi waktu memadai untuk mengendap di otak.

"Secara spontan, media digital mendorong kita terburu-buru menyelesaikan sebuah bacaaan, dengan cepat beralih ke bacaan lain. Sekilas pembelajaran menjadi lebih maju dengan cepat, tapi kedalaman pemahaman kita tidak demikian. Di kamus online, seringkali saya mencari arti kata yang sudah pernah saya cari. Itu terjadi beberapa kali, dan sangat menjengkelkan.

Saya akhirnya kembali ke kamus cetak untuk pembelajaran yang serius. Demikian juga dengan e-book dan surat kabar online, mulai saya kurangi penggunaannya. Kembali ke cetak".

Saya menempatkan diri seperti mahasiswanya 10 tahun lalu. Lebih banyak menyimak, sambil sesekali mengalihkan pandangan pada para pengunjung lain di warung itu. Semua sibuk dengan gadget.

Imajinasiku perlahan-lahan menjalar karena baru menyadari sebuah alasan logis mengapa buku dan media-media cetak akan tetap dibutuhkan manusia. Bukan alasan romantis semata seperti kesenangan akan aroma kertas atau kesenangan membolak-balik halaman buku atau koran, tapi alasan lebih logis yang mengemuka di sela-sela diskusi kami, yakni kebutuhan akan kedalaman pemahaman yang tidak sepenuhnya bisa difasilitasi oleh media digital.

Mungkin jumlah orang yang membutuhkan media cetak akan berkurang secara signifikan, tetapi tidak akan habis sama sekali. Keyakinanku semakin mantap ketika teringat hasil penelitian West Chester University yang dipublikasikan The New York Times (10/04/2014) dengan judul "Students Reading E-Books Are Losing Out, Study Suggests". Disebutkan bahwa tingkat pemahaman bacaan (reading comprehension) siswa lebih baik ketika menggunakan buku konvensional (cetak) dibanding menggunakan e-book dalam Ipad.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x