Rinto F. Simorangkir
Rinto F. Simorangkir

Seorang muda yang berharap Indonesia menjadi bangsa yang besar, bermartabat dan diakui..melalui karya dan kerja nyata...pengen menjadi penulis novel inspiratif (lagi otw) web : http://rintoartikel.blogspot.co.id/ https://profits1asik.wordpress.com/

Selanjutnya

Tutup

Kotak Suara

Pembelajaran Kepemimpinan Ahok & Anies dalam Debat Terakhir

13 April 2017   01:25 Diperbarui: 13 April 2017   01:36 2280 13 33
Pembelajaran Kepemimpinan Ahok & Anies dalam Debat Terakhir
cnnindonesia.com

Meskipun banyak analisis yang mengatakan bahwa format acara debat pilkada mengatakan kurang berhasil karena menggabungkan banyak format didalamnya. Tetapi bagiku, hal itu tidak menghalangi untuk mengetahui setajam apa program-program masing-masing calon sampaikan. Dan dari debat tersebut juga, akhirnya aku mengetahui mana kandidat Gubernur yang memiliki niat yang baik dan bukan.

Hal itu tampak jelas ketika pada saat sesi debat one by one yang diawali debat antara calon wakil gubernur dengan wakil gubernur maupun antara calon gubernur. Ketika pak Ahok menyatakan tentang reklamasi. Pak Ahok secara jelas membeberkan pernyataan-pernyataan Pak Anis bahkan lengkap dengan tanggal-tanggalnya, mengenai sikapnya yang selalu berubah-ubah tentang reklamasi. Dinyatakan bahwa harus dihentikan, dilihat kembali, dilanjutkan, dihentikan lagi. 

Menunjukkan sebuah sikap yang katanya mau berpihak kepada rakyat, tetapi ketika membuat satu rumusan program yang betul-betul OKE OCE, tampaknya tidak akan mungkin terealisasi. Dan juga mengindikasikan, seandainya beliau terpilih nantinya, sungguh tak dapat dibayangkan, bagaimana nantinya bisa mengeksekusi suatu program, jika harus menunggu semua pandangan atau partisipasi masyarakat langsung dalam program tersebut. Pasti nantinya akan sangat lama, sebab masih berkutat di retorika-retorika program tersebut.

Disamping itu menunjukkan suatu sikap yang plin-plan. Karena ketika Pemimpin berusaha menuruti dan bahkan mau berusaha memuaskan keinginan dan pendapat mayoritas masyarakat A yang harus begini, juga masyarakat B yang harus begini, ditambah lagi masyarakat C yang beda pendapat lagi, akan apa jadinya program tersebut. Sebab hari ini keputusannya A, besok bisa berubah lagi jadi B, besoknya lagi mungkin-mungkin bisa jadi C. Suatu contoh teladan kepemimpinan yang kurang baik bagi Jakarta nantinya.

Terlihat jelas juga dalam debat, KPU DKI berusaha juga untuk mengurangi dampak perpecahan yang terjadi dalam masyarakat. Dan memang faktanya, telah terjadi perpecahan diantara pendukung masing-masing calon dalam lingkungan bermasyarakat. Dalam sesi-sesi terakhir, kepada masing-masing calon Gubernur maupun Wakil untuk mengeluarkan pernyataan-pernyataan yang tidak menyulut perpecahan. 

Dan patut diacungin jempol kepada para kandidat-kandidat ketika mereka mau meminta maaf atas hal-hal yang sudah terjadi di masyarakat. Diharuskan juga untuk memiliki sikap mau menerima putusan masyarakat Jakarta. Sebab masyarakat Jakartalah yang menjadi penentu siapa yang menjadi pemimpin berikutnya. Pemimpin yang terpilih adalah pemimpin yang mempersatukan.

Mengenai masalah siapa yang menang dalam debat. Ini juga patut untuk dilihat. Sebab ada dua kubu pendapat yang menyatakan bahwa dua-duanya mereka menang. Ketika yang diwawancarai adalah narasumber yang ada di TV One maka Pak Anis yang menang. Ketika di Metro TV yang menang adalah kubunya pak Ahok. Tapi, menurut saya, tanpa melihat argumen-argumen dari narasumber-narasumber diatas, secara riil dan nyata bisa dirasakan juga bahwa setiap argumen-argumen yang dilontarkan pak Ahok selalu berdasarkan fakta dan jelas. 

Untuk setiap masing-masing program yang diutarakan memiliki ukuran ataupun indikator kesuksesan ataupun kegagalan. Sedangkan pak Anis, programnya selalu mengambang dan kurang jelas, sebab faktanya memang tidak memiliki indikator-indikator yang riil dan jelas. Ukuran keberhasilan program-program yang ditawarkan oleh pak Anis adalah yang penting adanya keberpihakan kepada masyarakat. Tapi sesungguhnya, program-program yang ditawarkan oleh Pak Ahok, juga berpihak ke masyarakat, dan langsung bisa kok dirasakan oleh masyarakat. Seperti program transportasi gratis, pendidikan gratis bahkan sampai kuliah mendapatkan beasiswa, kesehatan gratis, makan daging dengan harga terjangkau. Selalu menunjukkan adanya solusi riil yang ditawarkan.

Melalui debat pilkada ini juga, aku semakin banyak belajar dari kedua sosok pemimpin Jakarta ini. Memang masing-masing kandidat memiliki nilai plus dan minus. Tapi ketika melalui debat ini, seharusnya masyarakat Jakarta bisa dengan jeli untuk menilai manakah yang akan bisa membawa Jakarta semakin lebih baik lagi dan mana yang tidak. Memilih bukan berdasarkan SARA, maupun karena mendapatkan intimidasi-intimidasi, serta politik uang. Tapi memilih karena hati, memilih karena Jakarta butuh pemimpin yang bersih, tidak korup, adil, dan tentunya efektif.

Sibolangit, 13 April 2017