Rinto F. Simorangkir
Rinto F. Simorangkir Pendidik

Seorang muda yang berharap Indonesia menjadi bangsa yang besar, bermartabat dan diakui..melalui karya dan kerja nyata...pengen menjadi penulis novel inspiratif (lagi otw) web : http://rintoartikel.blogspot.co.id/ https://profits1asik.wordpress.com/

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Apakah Puncak Kesuksesan Seorang Penulis?

11 Februari 2019   19:00 Diperbarui: 11 Februari 2019   20:02 52 3 2
Apakah Puncak Kesuksesan Seorang Penulis?
news.detik.com

Menjadi seorang penulis sejatinya si penulis sedang menciptakan sebuah keabadian. Sebab melalui goresan tulisan ataupun ketikan pikiran kira melalui tuts-tuts tombol keyboard yang ada, maka akan tercipta sebuah karya. Yang bahkan karya tersebut bisa lebih lama bertahan dibandingkan penulisnya sendiri.

Ide dalam karya-karya yang dihasilkan menjadi suatu yang spesial untuk diperhatikan. Melalui dunia ide dan kreativitas si penulis, akhirnya ide-ide tersebut bisa mengalir dengan sendirinya. Tentu awalnya tidak mudah, tapi jika sudah dimulai dan kerap selalu berlatih dan berlatih maka hasil tulisan-tulisan tersebut kian lama kian bernas untuk dilumat dalam-dalam. Sehingga saripati-nya bisa melekat di dalam hati dan pikiran dari para si pembaca.

Sesungguhnya ketika melihat para senior-senior yang sudah lama berkecimpung dalam dunia kepenulisan, tersimpan kekaguman yang luar biasa kepada mereka. Apalagi ketika melihat kesetiaan mereka di dalam menuliskan banyak hal dari berbagai sudut pandang, sehingga sudah sepatutnya mereka diganjar akan banyaknya penghargaan demi penghargaan yang akan diterimanya.

Melalui Puncak Peringatan Hari Pers Nasional (HPN) 2019, sejumlah insan pers mendapatkan penghargaan. Penghargaan ini sebagai apresiasi atas kerja keras pers dalam menyajikan informasi kepada publik.           

Acara HPN tahun 2019, kemarin digelar di Ibu Kota Jawa Timur, tepatnya di Surabaya, dengan tema yang diangkat yakni "Pers Menguatkan Ekonomi Kerakyatan Berbasis Digital".

Bapak Presiden Joko Widodo turut hadir dan juga menerima penghargaan kemerdekaan pers. Hal ini atas dukungan Jokowi terhadap kebebasan pers. Penghargaan ini langsung diserahkan Ketua Dewan Pers Yosep Adi Prasetyo.

Disamping Bapak Jokowi,ada juga beberapa menteri dan beberapa pemerintah daerah yang memang keterlibatannya sangat signifikan di dalam memajukan dunia pers sampai sekarang ini.  Seperti anugerah Kepedulian Pers kategori instansi pemerintah yang diraih Menteri BUMN Rini Soemarno dan Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi. Kemudian Penghargaan Warta Bakti Utama. Penghargaan ini diraih Ketua DPD RI Oesman Sapta Odang dan Anugerah Perintis Pers yang diperoleh Gubernur Sumatera Barat Irwan Prayitno.

Tapi ada satu penghargaan yang paling bergengsi yang didapatkan beberapa orang jurnalis pada hari Puncak HPN tersebut. Yakni penghargaan Adinegoro yang diserahkan langsung oleh Ketua PWI dan disaksikan oleh Presiden Jokowi dan beberapa pejabat lainnya. Dan salah satu penerimanya dari media kompas, yaitu Bapak Demitrius Wisnu Widiantoro. Dengan karya fotonya 'Kampanye Damai Jadi Pendidikan Politik' beserta tulisan yang isinya berimbang memberitakan tentang politik di antara dua kubu, yaitu Jokowi dan Prabowo.

Penghargaan bergengsi tersebut yang diterima oleh salah satu wartawan kompas tersebut, hal itu akan menjadi puncak pencapaian dari seorang jurnalis yang juga merupakan seorang penulis serta merangkap fotografer juga.

Tidak semua orang atau jurnalis bisa mendapatkan penghargaan bergengsi demikian. Butuh kerja keras, butuh akses langsung untuk bisa mengeksekusi kejadian-kejadian yang ada. Butuh kesigapan kesana dan kemari untuk bisa melihat secara langsung lapangan yang ada serta mengabadikannya lewat foto-foto yang bisa dijepret pada saat ada di sana.

Butuh seni dan teknik pengambilan foto yang baik, hanya untuk bisa mendapatkan sudut pandang pemberitaan yang akan dituliskan nantinya. Pun setelah menjadi sebuah tulisan atau lebih tepatnya menjadi sebuah berita, maka selesailah sudah kerja keras dan pengorbanan yang telah dilakukan sebelumnya selama ini.

Tanpa pernah berpikir, apakah karya tersebut akan mendapatkan apresiasi atau tidak? Apakah akan mendapatkan view yang banyak atau malah sedikit? Apakah akan mendapatkan komentar, suka, dan sebagainya atau tidak sama sekali.

Tidak penting memang memikirkan hal-hal tersebut. Sebab pada intinya bahwa menulis adalah sebuah journey atau perjalanan untuk bisa senantiasa memberikan inspirasi tulisan demi tulisan di setiap harinya.

Sebagai seorang penulis menuangkan ide dan gagasan adalah sebuah keharusan yang harus terus dilepaskan. Sebab otot-otot pikiran itu tentu bisa semakin lembek dan akan semakin tidak berotot jika senantiasa selalu menunda dan menunda bagi seorang penulis lepas seperti diri ini.

Jadi apakah pencapaian tertinggi bagi seorang penulis? Atau apakah puncak kesuksesan bagi seorang penulis terutama bagi diri ini, yang nota bene masih belum terikat dengan kode etik dalam dunia jurnalistik yang ada?

Sebab sebagai penulis lepas dan banyaknya media yang ditujunya membuat dia tak lepas dari banyaknya kesalahan-kesalahan yang mungkin tercipta sepanjang menuliskan karya-karya tersebut. Tapi satu yang penting untuk kerap bisa diperhatikan, yaitu mengupayakan karya tersebut tidak melanggar UU ITE yang mungkin saja bisa menjerat kita.

Dan mungkin  saat ini, pencapaian tertinggiku tidak muluk-muluk, apalagi berpikir akan mendapatkan banyak penghargaan-penghargaan seperti para jurnalis di atas yang sudah mendapatkannya. Yaitu hanya ketika bisa menuliskan beberapa target penulisan setiap harinya, kemudian melihat kejadian yang sedang terjadi dari sudut pandangku, maka cukuplah sudut. Itulah pencapaian terbesarku sampai saat ini.