Rintar Sipahutar
Rintar Sipahutar Guru

Rintar Sipahutar, S.Pd, Guru Matematika SMP Negeri 1 Lingga Utara, Kepulauan Riau "Mengutamakan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan pribadi atau golongan"

Selanjutnya

Tutup

Humor Pilihan

Setelah "Disandera" Selama 3 Hari Akhirnya Aku Bebas Masuk Kompasiana

8 Oktober 2018   09:24 Diperbarui: 8 Oktober 2018   09:46 548 9 3
Setelah "Disandera" Selama 3 Hari Akhirnya Aku Bebas Masuk Kompasiana
(Photo : finansialku.com)

"Lega rasanya". Itulah ungkapan perasaanku yang paling dalam ketika akhirnya aku bisa masuk ke Kompasiana pada hari Senin, 8 Oktober 2018, tepat pukul 08.05 WIB, setelah "disandera" di luar sejak tiga hari yang lalu.

Ibarat seseorang yang sedang dikurung di luar, dibiarkan berkeliaran di alam bebas  dan tidak diizinkan masuk ke "rumah" Kompasiana, saya justru kehilangan hakekat kebebasanku disana. 

Aku kehilangan kebebasan untuk meneriakkan ide-ide dan unek-unek tentang apa saja dan siapa saja lewat tulisan-tulisan yang biasanya aku tumpahkan di Kompasiana.

Awalnya aku menganggapnya hanya error biasa. "Biasa, gangguan. Kalau bukan gangguan signal mungkin gangguan server. Paling-paling juga cuma sebentar", pikirku menghibur.

Tetapi ibarat cerita Spongebob: 1 jam kemudian, 2 jam kemudian, 1 hari kemudian dan 2 hari kemudian, kotak-katik sana-sini, ganti browser, hapus data selancar dan cookie tetapi tak juga bisa, akhirnya bermacam-macam pertanyaan yang timbul di benakku, mengapa aku tidak diizinkan masuk (baca = login) ke rumah Kompasiana?

"Bukankah aku bagian dari anggota (baca = Kompasianer) keluarga besar Kompasiana? Tetapi mengapa aku tidak dibolehkan masuk? Mengapa aku dibiarkan terkurung di luar?"

"Apakah aku sudah tidak dianggap dan dipecat (baca = diblokir) sebagai Kompasianer? Tetapi kesalahan apa yang aku perbuat yang setimpal dengan hukuman seberat itu?"

"Bukan, ini hanya maintenance server", kata seorang teman menanggapi.

"Tetapi ini sudah keterlaluan, lihat tuh! Kompasianer lain sudah bisa memposting artikel-artikel baru mereka. Ada yang 4 jam yang lalu, 1 jam yang lalu, bahkan ada yang beberapa menit yang lalu...", jawabku sambil menunjukkan daftar "artikel terbaru" di laman Kompasiana.

"Saya sudah mengirimkan email ke kompasiana@kompasiana tetapi tidak juga ada balasan", kataku menambahkan keraguanku.

Lewat tulisannya, aku membaca pengalaman yang hampir sama dari Bapak Rustian Al Ansori dan Bapak TJIPTADINATA EFENDI. Ceritanya mereka juga sempat "disandera". Aku meneriaki mereka dari luar: "Aku juga mengalami nasib yang sama, bahkan sampai sekarang aku belum bisa masuk. Ini aku di luar!", teriakku menangis dari jendela kaca yang tebal dan kokoh.

Sayangnya mereka tak bisa mendengar teriakku, seolah-olah mereka ingin berkata: "Dunia kita lain, engkau di alam sana dan kami di alam sini, ada jurang yang yang sangat dalam yang tak terseberangi di antara kita".

"Ya sudahlah, tabahaknlah hatimu nak. Coba saja lagi besok-besok. Kalau pun kamu harus kehilangan akunmu itu, ikhlaskanlah!", terdengar sayup-sayup bisikan di telingaku untuk menguatkan bathinku.

Eng... ing... eng... akhirnya, lagi coba-coba dan coba-coba lagi, eh masuk benaran dah... Masook pak Eko...!

Terimakasih Kompasiana....!

(RS)