Rintar Sipahutar
Rintar Sipahutar Guru

Rintar Sipahutar, S.Pd, Guru Matematika SMP Negeri 1 Lingga Utara, Kepulauan Riau "Mengutamakan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan pribadi atau golongan"

Selanjutnya

Tutup

Analisis

Mengapa Ma'aruf Amin dan Bukan Mahfud MD?

10 Agustus 2018   12:06 Diperbarui: 10 Agustus 2018   12:51 491 1 2
Mengapa Ma'aruf Amin dan Bukan Mahfud MD?
(Nusantaranews.com)

Ketika nama Prof. Dr. Kyai Haji Ma'aruf Amin dibacakan Jokowi sebagai pendampingnya di Pilpres 2019, mungkin saya adalah salah satu dari sekian banyak orang yang kecewa. Mengapa?

Alasannya bukan karena saya tidak menyukai atau meragukan kapabilitas Ma'aruf Amin. Tetapi saya sudah terlanjur mengagumi Mahfud MD dengan segala sepak-terjangnya dan sangat menjagokan pakar hukum tersebut menjadi cawapresnya Jokowi.

Mahfud MD adalah seorang tokoh yang cerdas, tegas, lugas dan bersih dari kasus korupsi dengan segudang pengalaman di bidang pemerintahan. Dikutip dari ensiklopedia bebas Wikipedia, jabatan yang pernah beliau emban hingga sekarang adalah:

  • Plt. Staf Ahli dan Deputi Menteri Negara Urusan HAM (1999–2000)
  • Menteri Pertahanan Republik Indonesia, kemudian Menteri Kehakiman (2000–2001)
  • Anggota DPR RI, menempati Komisi III dan Wakil Ketua Badan Legislatif (2004–2008)
  • Anggota Tim Konsultan Ahli pada Badan Pembinaan Hukum Nasional (BPHN) Depkum HAM RI (sekarang)
  • Ketua Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia (2008–2013)
  • Anggota Dewan PengarahUnit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila (2017–2018)
  • Anggota Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (2018–)

Seperti tulisan saya sebelumnya di Kompasiana: "Mereka yang Berharap dan 'Layak' Mendampingi Jokowi pada Pilpres 2019"tidak berlebihan jika saya menjagokan beliau dan sangat berharap Jokowi memilihnya sebagai pasangannya di Pilpres 2019.

Alasannya sangat masuk akal, karena selain mempunyai kemampuan yang mumpuni, saya pikir Mahfud MD juga mempunyai pengaruh yang cukup besar dikalangan pemilih yang kontra-Jokowi, yang jelas dapat membantu mendongkrak perolehan suara Jokowi.

Dan hingga detik-detik terakhir pengumuman cawapres Jokowi, harapan saya dan sebagian besar masyarakat Indonesia yang menjagokan Mahfud MD sepertinya akan segera menjadi kenyataan.

Siaran langsung dibeberapa stasiun televisi swasta nasional pada sore hari, Kamis 9/8/2018 jelas menyatakan bahwa mereka sedang menunggu kehadiran Mahfud MD di Restoran Plataran Menteng untuk dideklarasikan sebagai cawapresnya Jokowi.

Tetapi kemudian setelah Jokowi membacakan nama pasangannya: profesor... doktor... dan tiba-tiba dilanjutkan dengan sebutan... kyai haji... Ma'aruf Amin, mungkin hampir semua wartawan yang memenuhi restoran tersebut kaget kecuali Ketua Umum partai koalisi yang telah menandatangani kesepakatan tersebut.

Pertanyaannya adalah: mengapa Ma'aruf Amin dan bukan Mahfud MD? Mengapa perubahan itu begitu tiba-tiba dan membatalkan nama Mahfud MD di last minute? Apakah hal itu sebagai bagian dari strategi untuk mengecoh kubu lawan?

Saya hanya mau mengatakan, Jokowi jauh lebih cerdas dari yang kita pikirkan. 

Pernyataan Said Aqil Siradj yang menyatakan bahwa Mahfud MD bukan merupakan kader atau tokoh Nahdlatul Ulama (NU) dan pernyataan Ketua PBNU Robikin Emhas bahwa kalau cawapres bukan dari kader NU, sehingga warga Nahdiyin merasa tidak memiliki tanggung jawab moral untuk ikut 'tali wondo' menyukseskan, maka bola panas pun bergulir.

Kuat dugaan bahwa partai koalisi Prabowo menyebutkan nama Sandiaga Uno sebagai cawapres Prabowo pada awalnya adalah sebagai bagian dari strategi. Pada detik-detik terakhir diduga Prabowo dan partai koalisi pendukungnya akan menggandeng salah satu dari tokoh atau kader NU sebagai pendampingnya yaitu Ma'aruf Amin.

Dan jika hal tersebut sampai terjadi, peta perpolitikan akan berubah 180 derajat. Separuh saja dari sekitar 90 juta anggota NU mengalihkan dukungannya dari Jokowi dan beralih ke Prabowo maka dapat dipastikan Jokowi akan kalah telak.

Pada masa-masa kampanye juga dikuatirkan akan diwarnai dengan mengangkat isu-isu keagamaan. Dan hal tersebut akan membuat Jokowi pada posisi yang sulit. 

Membaca gelagat tersebut, Jokowi dan partai koalisi pendukungnya langsung bergerak cepat. Sebelum didahului, mereka langsung mendahului mengumumkan Ma'aruf Amin sebagai cawapres Jokowi.

Salah satu permasalahan pun teratasi. Seandainya pun di last minute Prabowo memilih pasangannya dari salah satu ulama seperti: Ustadz Abdul Somad, Ustadz Arifin Ilham atau Abdullah Gymnastiar bahkan Habib Rizieq Shihab sekalipun, Jokowi akan lebih aman dari pengangkatan isu-isu keagamaan yang sering dialamatkan kepada dirinya dan PDIP.

Jokowi memang cerdas dan lebih cerdas dari yang kita pikirkan. Beliau dapat mematahkan strategi lawan sebelum terjadi. Disitulah salah satu letak kehebatan pemimpin. Menang sebelum bertanding. Bukan kalah sebelum bertanding seperti...

(RS)