Rintar Sipahutar
Rintar Sipahutar Guru

Rintar Sipahutar, S.Pd Guru Matematika SMP Negeri 1 Lingga Utara Kepulauan Riau "Selalu berpikir logis dan kritis dalam menanggapi setiap isu-isu kebangsaan. Mengutamakan persatuan dan kesatuan bangsa demi mempertahankan keutuhan NKRI, jauh lebih berharga dari pada mengkultuskan seorang tokoh.

Selanjutnya

Tutup

Humor Pilihan

Apel dan Pantat

24 Mei 2018   16:59 Diperbarui: 24 Mei 2018   17:14 764 0 0
Apel dan Pantat
(Ilustrasi : kenasuspen.blogspot.sg)

Ketika pertama kali mendengar cerita ini, aku ngakak sampai guling-guling tak karuan. Aku membayangkan bahwa tokoh utama dalam cerita ini seakan-akan ada di depan mata, yang melakukan aktivitas secara bersama-sama setiap hari di sekolah.

Begini ceritanya yang sudah saya modifikasi tanpa menghilangkan nilai humornya:

Ada seorang ibu guru yang sangat cantik, lembut nan ayu dan masih gadis, ditempatkan sebagai guru kelas disebuah Sekolah Dasar. Setelah melapor ke Kepala Sekolah perihal SK penempatannya, Kepala Sekolah menempatkannya sebagai guru kelas satu. 

"Selamat datang, Bu. Selamat bergabung di sekolah ini, semoga ibu betah dan kita dapat bekerja sama untuk mendidik anak-anak murid kita disekolah ini. Saya menempatkan ibu sebagai guru kelas. Dan silahkan mengajar sekarang. Apa saja kendala yang ibu hadapi di kelas, silahkan laporkan ke saya" kata Kepala Sekolah.

Dan setelah bersalaman, ibu guru yang cantik, lembut nan ayu ini pun pergi ke kelas yang dimaksud, dengan membawa peralatan mengajarnya dengan langkah yang pasti.

Setelah memperkenalkan dirinya secara panjang lebar, anak muridnya pun merespon dengan bersemangat. Mungkin karena selain cantik, lembut nan ayu, ibu guru baru ini pun suaranya manja dan enak di dengar, gitu.

"Anak-anak, hari ini kita akan menggambar. Silahkan keluarkan pensil, crayon dan buku gambarnya. Semua membawa alat gambarnya kan?", tanya Bu guru. "Iya, Bu. Semua, Bu", sahut anak-anak serempak.

Ibu guru tersebut pun dengan niat baik membuat sebuah gambar apel di papan tulis sebagai contoh untuk diikuti anak-anak. "Coba perhatikan ke depan, gambar apa ini anak-anak?", kata ibu guru sambil menunjuk ke arah gambar. "Gambar pantat, Bu...!", jawab anak-anak serempak.

Mendengar jawaban anak-anak tersebut, ibu guru baru ini langsung kaget dan menangis, dan buru-buru keluar menuju ke ruangan guru untuk menenangkan diri.

"Ada apa bu, anak-anak nakal, ya?", tanya Kepala Sekolah sambil berjalan menuju ruangan kelas satu, bagai pahlawan di film India, tanpa mengetahui duduk perkara yang sebenarnya. Dan ibu guru baru tersebut pun menyusul dari belakang.

Sesampainya di dalam kelas Kepala Sekolah langsung ngomel. "Kurang ajar kalian ya, berani-beraninya kalian membuat guru kalian nangis", bentak Kepala Sekolah dan anak-anak pun bingung saling berpandangan karena tidak tahu pasal.

"Nah...!", kata Kepala Sekolah sambil menunjuk ke arah gambar di papan tulis, "Berani-beraninya kalian menggambar pantat di papan tulis, siapa yang menggambar ini?", tanya Kepala Sekolah. Anak-anak pun semua dengan kompak menileh ke arah guru baru itu.

Dan guru baru itu pun baru sadar, ternyata bukan hanya anak-anak yang melihat gambar tersebut sebagai gambar pantat tetapi juga Kepala Sekolahnya. Dan dia pun langsung pingsan seketika.

(RS)