Rintar Sipahutar
Rintar Sipahutar

Rintar Sipahutar, S.Pd Guru Matematika SMP Negeri 1 Lingga Utara Kab. Lingga Kepulauan Riau

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Hex....

8 Desember 2017   08:28 Diperbarui: 8 Desember 2017   09:04 65 0 0
Hex....
fb-img-1512691411250-5a29d6d5cf78db53fe03aef2.jpg

Sebuah memory untuk oppung)

Ketika saya pulang ke kampung sekitar bulan September tahun 2011, saya sempat bertemu 3 kali dengan beliau sebelum kemudian saya mendapat kabar bahwa beliau telah kembali ke pangkuan Bapa di surga untuk selamanya.

Pertama kami bertemu di rumah beliau. Saya, istriku dan ke-4 anakku bertandang ke rumahnya. Kami bercerita panjang-lebar tentang banyak hal. "Baenjo natua-tua kopi i, lului roti i tu kode an", katanya dengan suara yang khas menyuruh oppung boru. Dan tak seberapa lama menunggu, kopi dan biskuitpun menemani petualangan kami dari Medan-Jakarta-Bangka dan kemudian kembali ke kampung tempat kami tinggal. Terlalu sedikit waktu 1 hari, kamipun mengakhiri pembicaraan kami yang sebenarnya belum berakhir.

Kemudian pada malam hari "selepas maghrib" di hari yang sama, beliau bertandang ke rumah. Tak banyak hal yang dapat kami bicarakan secara berdua. karena banyak orang juga yang datang bertandang. Satu hal yang saya ingat beliau tanyakan: "Dang ikkon mamora jong puang asa boi pajongjong PT?", katanya dengan suaranya yang berat. Dan akupun menjawab sebisa yang aku bisa. Itulah pertemuan kami yang kedua.

Pertemuan yang ketiga berlangsung sangat tidak resmi tetapi sangat mengesankan. Itulah yang menjadi judul dari cerita ini, " hex".

Waktu itu kami berada di rumah Op. Beny. Kami bercerita dengan bapak Beny dan beberapa teman lainnya di ruang depan. Tiba-tiba dia berdiri di luar dan melihat dari jendela.

"Masuk oppung", kataku.

"Ah diluar on ma au, sian janjela on ma au, huhut patanggirhon pat, dang tolap au be leleng hundul", katanya.

"Nga sahat tudia nakkin dihatai hamu?", tanyanya menyambung.

"Taringot tu karet, oppung. Saonari karet lagi musim. Par-Pearaja nga mamora dibaen karet. Termasuk ma baean si Naektua Sipahutar", kataku.

"Hahaha... ", kemudian beliau tertawa.

"Di boto ho do hex? Hea do dibege ho hex?", tanya beliau.

"Dang hea, oppung", kataku.

"Ditikki zaman Sukarno najolo, adong do dibaen istilah hex. Ise namanuan karet dilaporhon ma tu camat, annon leanon na ma hepeng hira-hira 500 ribu tu arga nuaeng. Sude ma jojor jabu marlomba manuan karet. Sude ma haliang hutaon karet. Tujuanna lao bersaing tu Malaysia. Alana si Sukarno sogo rohana mamereng Malaysia", cerita beliau semangat.

"Alai di botoho do muse? Dung balga karet i, dang adong be arga ni karet. Gabe di taba i ma karet i mambaen soban", sambungnya sambil terawa.

Beberapa tahun kemudian setelah beliau pergi untuk selamanya, prediksi beliau betul-betul terjadi. Harga karet rontok. Petani karet mengeluh dan meninggalkan kebun karetnya. Hanya saja mereka tidak tega menebang pohon karetnya dan menjadikkannya kayu bakar. Sambil berharap suatu saat harga karet dapat kembali membaik.

Saya dengar rumah beliau sekarang sudah kosong. Anak-anaknya semuanya merantau. Tak satupun tinggal di kampung. Sepeninggal oppung baoa, oppung borupun pergi ke rumah anak-anaknya di perantauan. Kondisi oppung boru yang sudah tua dan kurang sehat tidak kuat sendirian di rumahnya. Itulah mungkin salah satu alasan mengapa rumah itu dibiarkan kosong sampai hari ini.

Selamat jalan oppung, tenanglah dalam pangkuan Bapa di Surga. Sampai bertemu kembali di kekekalan. Jika kelak rencana kami para perantau taon baruan di kampung terlaksana, engkau tetap ada sekalipun sudah tidak ada.