Rinsan Tobing
Rinsan Tobing Konsultan

Menulis, hanya untuk membiarkan kegelisahan mengalir....

Selanjutnya

Tutup

Jakarta Artikel Utama

Transjakarta, Berani-beraninya Memasang Target

20 Maret 2017   23:20 Diperbarui: 21 Maret 2017   08:57 1027 8 3
Transjakarta, Berani-beraninya Memasang Target
Sumber: Twitter.com/@PT_TransJakarta

Performance based budgetting. Quality Spending. Payment for Result (P4R). Jargon-jargon ini mungkin asing bagi sebagian besar masyarakat. Bagi mereka yang terbiasa dengan program pembangunan, ini menjadi sesuatu yang biasa. Istilah-istilah asing ini jika dituliskan definisinya, maka tulisan ini akan sangat panjang. Karena itu, akan diberikan makna secara umum saja.

Tiga istilah dalam bentuk frasa itu bermuara pada satu hal. Bahwa pekerjaan yang dilakukan pemerintah dalam menjalankan fungsinya harus memberikan hasilan yang berkualitas. Hasilan yang berkualitas akan diganjar dengan kompensasi yang baik, berupa anggaran yang meningkat. Semuanya berawal dari anggaran yang didasarkan pada kinerja. 

Anggaran tidak akan diberikan pada organisasi publik yang tidak berkinerja. Pengganran yang berkualitas akan mendorong pengeluaran yang berkualitas. Pengeluaran yang berkualitas menghasilkan hasilan yang berkualitas. Hasilan yang berkualitas, mendapatkan insentif. Insentifnya seperti apa? Dalam konteks pemerintahan, anggaran yang meningkat.  

Praktek penilaian kinerja pemerintah yang didasarkan pada besarnya pengeluaran masih berlaku secara umum. Laporan kinerja pemerintah didasarkan pada besarnya ‘bakaran’ anggaran (budget burning) tanpa melihat hasil di lapangan berupa jasa dan barang yang berkulitas. Jika pengeluarannya sudah tinggi dan dilengkapi dengan dokumen administrasi yang memadai, maka pertanggung-jawaban pengeluaran dianggap selesai. Pada masa pemerintahan SBY, UKP4 yang diketuai Kuntoro Mangkusubroto menilai kinerja kementerian lewat besarnya pengeluaran. Jika pengeluaran mendekati 100%, satu kementerian dianggap ‘berprestasi’.

Pola-pola kinerja diukur dari besarnya pengeluaran tanpa melihat hasilan, seperti dijelaskan di atas, berujung apda hasil-hasil pembangunan yang buruk. Pelayanan publik di masyarakat berkualitas sangat rendah. Bahkan sering juga pelayanan publik tidak hadir di masyarakat. Pemeliharaan pelayanan publik serta sarana dan prasarananya juga setali tiga uang. Sudah hasilanya ‘butut’, semakin parah karena tidak pernah dipelihara. Jika berkunjung ke kantor pemerintah dan menggunakan lift, bayangan melayang dan terjun bebas suka mengganggu perasaan.

#Berani Berubah

Seiring berjalannya waktu, watak kepemimpinan yang berubah, pemerintah Jakarta mulai berbenah. Meskipun tidak menggunakan jargon-jargon ‘keren’ pembangunan di atas, tetapi gambaran pelayanan publik Jakarta sudah menuju ke arah itu. Kinerja para punggawa birokrasi pemerintahan Jakarta sudah dihargai, tentunya dengan tuntutan hasilan yang berkualitas. Para birokrat yang berprestasi akan diganjar dengan posisi pemimpin tanpa melalui proses antrian.

Layanan publik sudah membaik. Di berbagai sektor proses yang sama juga dapat disaksikan. Pelayanan kesehatan di Jakarta juga mulai menunjukkan wujud terbaiknya. Rumah Sakit Umum Daerah Jakarta sudah memberikan layanan berkelas. Ruang-ruang publik disediakan dengan tampang dan kualitas yang apik. Sumber daya dikembangkan. Manusia Jakarta dibangun terutama kalangan miskin dengan berbagai fasilitas gratis dan murah. Proses perijinan dengan sistem satu atap juga jauh lebih baik dari sebelumnya.

Dalam sektor transportasi proses transformasi juga sedang berlangsung. Pelayanan transportasi publik Transjakarta sudah jauh meninggalkan kelas ‘kambing’ yang dulu disediakan pemerintahan sebelumnya. Uang pajak rakyat dibelikan bus-bus baru dengan kualitas baik. Kelas bus yang disediakan tidak abal-abal. Kualitas Eropa. Bus-bus khusus wanita dengan warna pink juga disediakan. Jumlah busnya juga diperbanyak sehingga waktu tunggu menjadi singkat.

Pelayanan tidak berhenti di situ. Untuk memastikan pelayanan baik, di setiap bus disiapkan petugas dengan pakaian seragam yang lengkap dan beretika baik. Di setiap halte, petugas selalu siap membantu penumpang yang mengalami kesulitan. Layanan yang baik ditambah senyuman yang ramah menambah suasana hangat transportasi publik. Ini berdampak pada sikap baik yang ditunjukkan penumpang. Halte-halte juga dibersihkan. Kaca-kaca halte dilap dan lantainya disapu.

Untuk memastikan sistem keuangan yang tertata, pembayaran tiket dilakukan dengan sistem elektronik. Tetapi untuk tetap menjangkau penumpang dari seluruh kalangan, sistem pembayaran tunai masih diberikan ruang.

Transjakarta telah menerapkan kinerja yang baik. Penggunaan anggaran juga menghasilkan kualitas layanan bermutu. Cara menghabiskan anggaran jauh lebih baik. Ketersediaan petugas dan sopir jadi memadai. Jalur-jalur yang dulu dikuasai kendaraan pribadi, kini jauh lebih steril. Meskipun untuk sterilisasi ini, petugas kadang harus mengalami kekerasan seperti dialami petugas patroli bernama Susilo Purwanto. Dilaporkan Susilo mengalami pengeroyokan oleh sejumlah pengguna sepeda motor ketika menjaga portal koridor 4 di Tambak arah Matraman, Jakarta Timur, Jumat (3/3/2017) malam.

Semua hal yang dilakukan oleh Transjakarta disemangati dengan program tag line #berani berubah. Tampaknya, Transjakarta memang berani berubah. Perbaikan ke arah itu sudah kelihatan. Hasilnya mulai dirasakan masyarakat. Jika dibandingkan dengan pelayanan Transjakarta di bawah pemerintah yang sebelumnya, bisa digambarkan seperti bumi dan awan sajalah.

Selanjutnya, Berani Bertarget

Lengkapnya senjata yang dimiliki dan kepercayaan yang lebih tinggi karena perubahan menuju perbaikan telah menunjukkan hasil, kini Transjakarta berani memasang target-target. Salah satu targetnya yakni waktu tempuh hanya 35 menit. Target ini ada di koridor 4 Pulo Gadung dan Tugas ke tujuan Grogol dan Bundaran Senayan. Waktu 35 menit ini juga diterapkan di jalur Cengkareng Harmoni. Target ini berlaku untuk waktu sibuk yakni pada pukul 05.00-10.00. Waktu yang krusial ketika pekerja bergerak.

Dengan gagah berani spanduk-spanduk dengan target itu membentang di sepanjang Pemuda hingga Pramuka. Di jalur Harmoni Cengkareng juga pastinya spanduk yang sama dipampang. Ketepatan waktu ini harus dijaga dan dipastikan dengan jalur-jalur yang steril. Jalur busway yang selalu dijaga petugas.

Di titik yang paling rawan seperti di Matraman di koridor 4, Transjakarta menerapkan contra flowsetelah halte Matraman 2 menuju Jalan Proklamasi untuk perjalanan arah Pulo Gadung ke Sudirman. Kombinasi jalur steril dan contra flow mendukung lancarnya perjalanan dari Pulo Gadung ke Sudirman, di halte Tosari.

Di Jalur Cengkareng-Harmoni, target 35 menit diterapkan mulai halte Rawa Buaya ke Harmoni. Upaya yang dilakukan dengan melakukan sterilisasi di jalur Transjakarta sepanjang ruas Daan Mogot, Jakarta Barat. Pihak Transjakarta bekerjasama dengan Dinas Perhubungan dan Transportasi dan juga kepolisian untuk memastikan tercapainya target-target ini. Target-target ini termasuk program unggulan Transjakarta.

Pengalaman menggunakan jalur ini menujukkan masih adanya variasi waktu tiba. Pernah jalur ini ditempuh di bawah 30 menit. Tetapi pernah juga di atas 35 menit, hingga 40 menit. Ketidaktepatan 5 menit masih bisa ditoleransi. Masih ada daerah yang memiliki risiko yang berkontribusi terhadap keterlambatan. Lampu merah Matraman-Salemba salah satunya. Jalan Suropati juga memiliki dinamika tersendiri yang bisa mempengaruhi tingkat ketepatan waktu.

Munculnya program unggulan seperti target 35 menit ini tidak dicapai dengan modalitas yang tidak siap. Sumber daya manusia, sistem pelayanan, command center, ketersediaan sarana dan prasarana termasuk koordinasi dengan pihak terkait menjadi senjata dalam memastikan pencapaiannya.

Setiap titik pelayanan publik seperti disampaikan di atas dipastikan bekerja dengan baik. Titik lemah diperhatikan. Kekurangan diperbaiki dan ditingkatkan. Pada gilirannya, kinerja yang ditargetkan mencapai hasilan yang berkualitas. Penggunaan anggaran berkualitas, wujudnya pelayanan publiknya membaik. Sistem yang baik ini mendapatkan insentif yang disesuaikan dengan hasilan yang ada.

Beraninya Transjakarta memasang target-target, yang pastinya dipelototin gubernur DKI itu, hanya bisa terjadi ketika keberanian berubah didorong dan diwujudkan dalam kerja-kerja berkualitas di bawah kepemimpinan yang mau melayani. Berani, berubah dan unggul menjadi kata kunci Transjakarta yang secara perlahan dan pasti mewujud dalam pelayanan transportasi publik yang semakin berkualitas dan memanusiakan penggunanya.

Upaya ini tentunya akan menambah produktivitas masyarakat Jakarta. Selanjutnya, upaya ini akan bermuara pada peningkatan kesejahteraan masyarakat. Harapannya, jika masyarakatnya membaik, Transjakarta akan lebih berani lagi memasang target-target lebih tinggi. Keberanian yang harus didukung semua pihak pemangku kepentingan Transjakarta.