Mohon tunggu...
Rinsan Tobing
Rinsan Tobing Mohon Tunggu...

Menulis, hanya untuk membiarkan kegelisahan mengalir....

Selanjutnya

Tutup

Birokrasi Pilihan

Jakarta yang Kembali Ramah

15 November 2017   22:51 Diperbarui: 15 November 2017   22:58 0 6 1 Mohon Tunggu...
Jakarta yang Kembali Ramah
Kawasan Tanah Abang yang kembali semrawut mencerminkan kembalinya 'keramahan' kota Jakarta. Sumber: poskotanews.com

Lelaki kurus berbaju hitam itu berlari kencang. Dia meninggalkan teman-temannya yang masih nongkrong di pagar beton sebuah kantor di bilangan Diponegoro tidak jauh dari Megaria. Suatu sore awal minggu ini. Dia, sambil menenteng gitar kecilnya, memburu metro mini yang memburu datang dari arah berlawanan. Dengan sigap dia naik. Langsung beraksi. Melantunkan lagu-lagu perjuangan hidup. Mengharapkan beberapa rupiah dari penumpang yang jumlahnya tidak seberapa.

Tidak jauh dari lokasi itu, sepotong trotoar yang sudah ditata, kini mulai diisi lagi. Pedagang-pedagang makanan dengan alat gotongnya dan juga sepeda, mulai menata dagangannya. Para pembeli mulai berdatangan. Mengerubunginya. Sementara beberapa anak-anak kecil berkeliaran. Mereka sepertinya mengemis.

Kejadian yang relatif sama sudah beberapa bulan ini mulai bermunculan. Tidak hanya di pinggir jalan, di trotoar, di jembatan penyeberangan dan juga di halte-halte bus. Tempat-tempat itu mulai diokupasi kembali.

Pemandangan itu sudah lama tidak pernah muncul di Jakarta. Pengamen-pengamen sudah lama hilang dari lampu-lampu merah. Tempat favorit para penyanyi jalanan ini. Ketika bus berhenti terkena lampu merah, mulailah mereka bernyanyi. Jika tidak mendapat respon dari satu mobil, dengan segera pindah ke mobil lain.

Pengemis juga sudah lama tidak berkeliaran. Mereka hilang dari jalanan ibukota. Mereka di pulangkan ke kampung halamannya jika tidak mau masuk rumah susun. Dulu, pemerintahnya katanya galak. Tidak memberikan ruang bagi para pendatang dengan keahlian yang minimal. Kekurangan keahlian yang mengakibatkan mereka harus mencari makan dengan cara-cara seperti di atas. Mengamen, mengemis, menjadi tukang parkir liar dan juga pedagang-pedangang berpindah.

Dulu pemeritahnya mencoba menghilangkan hal-hal seperti itu dari Jakarta. Jakarta menjadi kota yang berwajah sangar bagi kelompok ini. Tetapi, tentunya diberikan berbagai jalan keluar untuk setiap tindakan 'pembersihan'. Bagi yang mampu, diberikan pekerjaan sebagai tenaga kerja harian dengan gaji dan fasilitas yang menggiurkan. Bekerja sebagai tenaga harian, uang Rp. 3,1 juta sudah bersih masuk kantong. Tidak disunat. Jika memiliki anak, pendidikannya gratis dan masih mendapatkan KJP. Nilainya Rp. 700 ribu.

Bagi yang tidak ada rumah, diberikan rusun dengan syarat menyewa. Ada yang minta gratisan. Tetapi ditolak. Kejam memang. Tapi, jika digratiskan mereka tidak akan berusaha untuk bekerja. Tidak bagus juga memberi ikan. Kasih saja pancingnya. Mungkin itu pemikiran pemerintah yang dulu.

Bus-bus yang seenaknya menyerobot lampu merah itu pun sering sekali tidak berani bergerak dari kandang. Soalnya, banyak yang bodong. Lulus tes KIR tetapi rem blong. Akhirnya, dari pada dikandangkan pemerintah, lebih baik mengkandangkan bus sendiri.

Di tempat lain, sebuah pasar yang terkenal karena miliknya abang-abang, Tanah Abang, lalu lintasnya menjadi rapi dan macet hilang. Kejam. Pemerintahnya mengusir para pedagang kaki lima dan menempatkannya di Blok G. Tempat itu ditata dan diperbaiki. Trotoar di perluas agar pembeli lebih nyaman. Jika pembeli nyaman, tentunya akan lebih banyak yang datang. Transaksi Rp. 250 milyar per hari pasti tidak akan kurang.

Kini Berbeda, Lebih Ramah

Tetapi, itu cerita dulu. Semuanya serba diatur tidak boleh. Tidak boleh mengamen. Dilarang berjualan di trotoar dan jembatan penyeberangan. Didenda jika mobil parkir sembarangan. Lahan parkir dipasangi mesin. Tidak ada lagi uang tunai di tangan petugas parkir. Semuanya menjadi serba teratur dan pemasukan jelas.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
KONTEN MENARIK LAINNYA
x