Rinsan Tobing
Rinsan Tobing Konsultan

Menulis, hanya untuk membiarkan kegelisahan mengalir....

Selanjutnya

Tutup

Jakarta Pilihan

Apresiasi Tinggi untuk Tiga Petinggi Pencipta Asa

14 November 2017   21:43 Diperbarui: 14 November 2017   22:00 387 1 0
Apresiasi Tinggi untuk Tiga Petinggi Pencipta Asa
Tiga petinggi Jakarta yang berhasil menciptakan acuan bagi pelayanan publik yang seharusnya dengan ciri pemimpin yang benar-benar menjadi pelayan publik. Sumber: beningpost.com

Menjelang pencoblosan pemilihan gubernur DKI Jakarta di tahun 2012, penulis sempat menorehkan sebuah status di facebook. Sebelum meliput singkat beberapa tempat pemilihan suara tidak jauh dari tempat kos, ketika itu, di Kebayoran Baru, tidak jauh dari kawasan bisnis Sudirman.

Kurang lebih begini isi dari status galau karena tidak bisa memilih saat itu. Maklum, identitas masih tercatat sebagai penduduk kota kembang, Bandung. Berikut status galau yang dituliskan pada 20 September 2012.

"The history of Jakarta is in the making. So, if you want to be part of the history, tomorrow is the day. Go to the election post (TPS) and make sure that the only vote you have is given to Jokowi-Ahok. The light is on the way hitting the Jakarta terra firma for the winner will be Jokowi Ahok."

Ada keyakinan ketika itu bahwa Jokowi akan menang. Meskipun banyak kalangan menyematkan status underdog bagi Jokowi dan Ahok. Kedua penantang petahana ini bukan pemain nasional. Belum pernah berkiprah di tanah Jakarta.

Politik nasional belum menjadi jalur yang dijalani. Kedatangan ke Jakarta dianggap sebagai perantau saja. Pada prinsipnya, para calon yang ikut dalam pemilihan gubernur di  2012 itu, menganggap Jokowi dan Ahok bukanlah siapa-siapa.

Hingga kemudian pada hasil pasca pemilihan, ternyata pasangan calon underdog ini menjadi penantang kedua bagi petahana yang terkenal dengan tagline "Serahkan pada ahlinya". Hasil akhir menjadi sebuah katalisator bagi dahaga masyarakat yang menginginkan pemimpin yang mau bekerja. Pasangan calon ini, dalam proses blusukannya, menjanjikan bahwa mereka akan bekerja.

Waktu berjalan, kepemimpinan Jokowi menjanjikan harapan bagi warga Jakarta. Tidak lama setelah menjadi pemegang tampuk kepemimpinan Jakarta, Jokowi dengan gemilang melakukan ground breaking pembangunan Mass Rapid Transport (MRT) berbasis rel dengan kombinasi underground and elevatedtracks.

MRT yang sudah puluhan tahun direncanakan dengan bantuan dari Japan International Cooperation Agency, hanya tinggal rencana dan rencana hingga Jokowi menjadi penguasa di Jakarta. Bahkan hanya setelah 4 bulan memerintah. Ajaib, kan! Kok bisa?

Berbilang para para pemimpin di Jakarta, tetapi tidak satu pun dapat memecahkan telur pembangunan MRT itu. Indonesia sudah dikalahkan banyak negara di Asia Tenggara dalam konteks infrstruktur transportasi massal ini, tetapi itu tidak menjadi pelecut bagi para pemimpin lalu untuk merealisasikan rencana tua itu.

Rumornya ada interest-what's-in-it-for-me faktor yang tidak dapat diselesaikan dan disepakatkan. Sehingga donor dalam hal ini JICA menolak untuk mengucurkan dananya untuk membangun infrastruktur penting itu. Jokowi datang dan memastikan bahwa uangnya akan digunakan dengan tiga prinsip efisien, efektif dan dengan pemanfaatan tinggi, Jepang pun tidak ragu meluncurkannya dengan cepat.

Tidak lama, dengan disiplin tinggi, progres cepat dicapai. Tidak lama, hanya dua tahun Jokowi memimpin Jakarta, tetapi telah berhasil menciptakan benchmark baru dalam pelayanan publik di Jakarta. Di kota yang katanya banyak sekali kepentingan. Karena banyak sekali pejabat yang lebih tinggi dari gubernur yang berdiam di Jakarta.

Pasca menyebrangnya Jokowi ke istana negara, Ahok melanjutkan pelayanan publik dengan standar yang telah ditentukan Jokowi. Ahok, meskipun tidak mudah menjadi gubernur karena sistem yang diterapkan sangat ketat, mendapat banyak pertentangan. Karakter Ahok yang keras, menimbulkan benturan dengan banyak kalangan yang mencoba menganeksasi APBD DKI Jakarta yang berjumlah puluhan trilyun rupiah. Angka yang menggiurkan bagi mereka yang hobby nyolong uang rakyat.

Ahok menciptakan banyak program yang langsung menyasar permasalahan Jakarta. Tidak ada jargon muluk-muluk soal kebersamaan. Bekerjasama untuk rakyatnya sejahtera. Bagi Ahok, itu sudah kewajiban dan itu tidak perlu untuk dibicarakan lagi. Berbagai bentuk pelayanan publik diciptakan. Pembentukan berbagai pasukan yang langsung menuju penyelesaian masalah-masalah relatif kecil tetapi menggangu kenyamanan rakyat.

Banjir yang menjadi momok menakutkan banyak masyarakat Jakarta coba dituntaskan. Tidak mudah untuk melakukannya. Sudah banyak tertanam kepentingan dalam berbagai persoalan yang menyebabkan banjir di Jakarta. Pengambilan lahan-lahan tepi sungai yang seharusnya daerah resapan, sudah berlangsung puluhan tahun.

Penduduk yang sudah bertahan disana terpaksa harus direlokasi. Bangunan dan jaminan penduduk diberikan yang layak. Pendidikan digratiskan, diberikan kebutuhan gizi dan juga sekolah serta layanan kesehatan yang dibayari pemerintah. Ahok memberikan kinerja yang disukai banyak masyarakat, bahkan mereka yang tidak memilihnya dulu.

Rakyat yang dulu menganggap para penguasa itu berada pada tataran tertinggi dari sebuah menara gading,  tiba-tiba dapat menjadi sangat dekat dengan pemimpinnya. Tidak hanya dekat. Pemimpin bisa disalami, dipeluk, dicium pipinya, dirangkul bahkan dada pemimpin menjadi tempat rebahan beberapa ibu.

Pemimpin peduli dengan persoalan yang ada di masyarakat. Segala sumber daya dan modalitas Jakarta, digunakan untuk kemaslahan rakyat. Transportasi publik diberikan yang terbaik. Bus Transjakarta odong-odong yang dulu merusak pemandangan dihilangkan dari peredaran. Kebakaran bus ketika dioperasikan menjadi urban legend.

Hasilnya menyenangkan rakyat tetapi menyesakkan banyak pihak yang selama sebelum Jokowi dan Ahok menjabat di Jakarta, telah terbiasa dengan pencatutan uang rakyat demi kenikmatan diri dan kelompoknya.

Mereka yang dulu bisa mengatur para petinggi Jakarta tiba-tiba mengalami kelu lidah. Kelindan kepentingan dan kuasa berhenti berproses. Nilai-nilai berbasis persekongkolan menemui ajalnya. Kegersangan rejeki 'curang' menggerakan banyak hati untuk menyingkirkan Ahok.

Tak dinyana, untuk sesuatu ucapan yang tidak salah sama sekali, Ahok harus dilengserkan. Sumber daya yang dikerahkan untuk menggerakan kekuasaan ke arah kepentingan yang berbeda. Pertarungan penuh 'kebencian' diarahkan untuk mendapatkan kekuasaan. Tidak berakhir 'baik' bagi Ahok.

Lengsernya dari kekuasaan berciri kecintaan kepada rakyat dan berpusat kepada kepentingan rakyat, harus dilanjutkan dengan tinggal di rumah prodeo untuk masa waktu 2 tahun. Tetapi heran, bukannya meredup, pamor Ahok bahkan mengalahkan pilihan 58% rakyat Jakarta. Calon baru itu pun galau. Karena bekerja untuk membuktikan bahwa dirinya jauh lebih baik dari Ahok. Untuk sesuatu yang didapatkan dengan segala cara, akan sangat sulit untuk mewujudkannya.

Pasca Ahok, Djarot yang setia menjadi wakil Ahok menjadi pemegang tampuk petinggi di Jakarta. Hanya empat bulan lamanya. Tidak banyak yang bisa dilakukan Djarot dalam masa itu. Terlebih lagi nuansa kebencian itu masih meraja lela.

Para pendukung gubernur tepilih sudah sibuk mengutak-atik perencanaan keuangan daerah DKI. Mulai dari menaikkan kenikmatan anggota DPRD, wacana menurunkan gaji pegawai pemerintah provinsi DKI, mewujudkan orang miskin seutuhnya dengan menurunkan KJP dari Rp. 700 ribu menjadi Rp. 400 ribu, menjadi beberapa momen pembuka pemerintahan baru.

Dengan waktu yang sangat singkat, Djarot hanya melanjutkan kerja-kerja Ahok yang sudah sangat bagus dan mendapat appreasiasi dari 70 persen penduduk Jakarta. Djarot hanya ingin memastikan APBD DKI dapat digunakan sebesar-besarnya kepentingan rakyat. APBD dikunci dan dipastikan tidak dapat diotak-atik. Tetapi itu hanya sampai 2018. Selanjutnya, gubernur baru akan menerapkan sistemnya.

Dari tiga pemimpin yang dimiliki Jakarta, masalah-masalah besar Jakarta dapat diselesaikan dan dikurangi. Beban yang ditunaikan di pundak para pemimpin ini dapat ditunaikan dengan baik. Ditunaikan dengan ketulusan hati untuk memberikan yang terbaik bagi Jakarta.

Ahok menggunakan istilah dirinya sebagai 'anjing' penjaga uang rakyat DKI Jakarta, benar-benar melakukan yang diucapkan, di tengah tekana-tekanan yang diciptakan para oposannya. Jokowi dengan karakter tenangnya berhasil memecahkan kebuntuan puluhan tahun hanya dalam 3 bulan memerintah.

Ketika semua dilakukan bukan demi kepentingan diri sendiri, hasilnya benar-benar dapat dirasakan masyarakat yang dilayani. Untuk hal ini, ketiga pemimpin Jakarta di lima tahun terakhir benar-benar memberikan rasa dan asa bagi masyarakat Jakarta.

Pelayanan setulus hati memang tidak cocok bagi pemabuk kekuasaan. Pemimpin yang menganggap kekuasaan berarti dapat melakukan semuanya untuk memenuhi kantong-kantog dirinya dan kelompoknya.

Akan sangat sulit untuk tidak memberikan sebuah apresiasi kepada tiga pemimpin Jakarta ini. Jokowi dengan segala keberaniannya untuk menerobos penghalang politik dan psikologis di Jakarta sebagai hasil dari praktik-praktik kolutif dan pertentangan kepentingan.

Ahok dengan segala keteguhan hatinya tidak membiarkan uang rakyat dicuri. Ketat dalam anggaran dan prosesnya memang menjadikan Jakarta menyerap APBD dengan cukup lambat. Tetapi, apalah artinya APBD terserap tinggi dan menguap entah kemana tanpa hasil yang kongkrit.

Bagi Djarot, segala sesuatu yang diperjuangkan Jokowi dan Ahok adalah bentuk seutuhnya dari pemimpin seutuhnya. Selama menjadi wakil, Djarot telah menunjukkan. Djarot juga menunjukkan ketidaksukaannya dengan proses-proses yang meraih segala sesuatu dengan menghalalkan berbagai cara. Untuk itu, Djarot menghabiskan harinya di Labuhan Bajo, ketika gubernur baru mewacanakan kebangkitan pribumi dan imajinasi liar dan runyam soal close encounter penduduk Indonesia dengan penjajah Belanda.

Untuk semua kerelaan melayani rakyat Jakarta dengan setulus hati dan pengabdian yang tinggi sudah sepatutnya sebuah appresiasi tinggi disematkan di pundak ketiga pemimpin yang telah mamasuki relung-relung rakyat yang dilayani. Pemimpin yang sejatinya pemimpin. Pemimpin yang akan selalu dikenang.