Rino Andreas
Rino Andreas Mahasiswa

Mahasiswa Ilmu Komunikasi UMS

Selanjutnya

Tutup

Media Pilihan

Hoax dalam Hiperrealitas

9 Maret 2018   07:32 Diperbarui: 11 September 2018   00:37 748 1 0
Hoax dalam Hiperrealitas
hoax-5b96abf2bde57520423d28a2.jpg

Kemajuan teknologi informasi dan komunikasi begitu pesat, sehingga memungkinkan diterapkannya cara-cara baru yang lebih efisien untuk produksi, distribusi dan konsumsi informasi. Proses inilah yang membawa manusia sekarang ke dalam masyarakat Informasi. Sejalan dengan hal tersebut McLuhan menyebutnya sebagai Global Village yang berarti dunia dianalogikan menjadi sebuah desa yang sangat besar dan luas, tidak ada lagi batas waktu dan tempat yang jelas. Informasi dapat berpindah dari satu tempat ke belahan dunia lain dalam waktu yang sangat singkat.

Kemudahan yang ditawarkan teknologi informasi tersebut bagaikan pisau bermata dua, satu sisi memudahkan kita dalam menambah wawasan dan pengetahuan. Disisi lain "banjir informasi" membuat kita sulit membedakan informasi mana yang benar dan mana yang salah.

Ya hoax atau pemberitaan palsu mudah sekali kita temui, entah itu melalui media sosial:facebook , insagram atau grup WA. Berbagai isu, mulai dari PKI, Serangan ulama, dll. Pertanyaannya kenapa masyarakat era informasi sekarang mudah sekali terprovokasi dan percaya dengan isu hoax? Salah satunya adalah karena Hiperrealitas dalam media.

Dalam kajian komunikasi, sebelum menghasilkan hiperealitas terlebih dahulu berita hoax yang diproduksi membentuk sebuah simulacra. Arti dari simulacra sendiri adalah suatu penggambaran ulang suatu objek melalui sebuah simulasi. Tetapi penggambaran ulang yang dibuat menghasilkan sesuatu baru dan berbeda dengan objek yang sebenarnya. Misalnya isu kebangkitan PKI digambarkan seolah-olah sedang membangun kekuatannya di Indonesia padahal foto-foto yang didapatkan pelaku hoax berasal dari negara lain. Ditambah caption atau deskripsi provokatif yang turut membangun hiperrealitas tersebut.

Baudrillard adalah filsuf yang memperkenalkan konsep hiperrealitas, yang beranggapan bahwa masyarakat sekarang merupakan masyarakat simulasi. Dalam dunia seperti sekarang ini banyak dilakukan simulasi dan dibuat bukan lagi menggambarkan realitas atau kenyataan sebenarnya. Bentuk dari hiperealitas telah membuat realitas yang sebenarnya kalah dengan realitas buatan yang sengaja dibuat dan direproduksi terus menerus melaui kode atau tanda tertentu

hiperealitas yang berusaha diciptakan oleh pembuat hoax melalui foto/berita menjadi perhatian masyarakat luas. Selanjutnya  hoax yang diproduksi masuk dalam derasnya arus informasi. Tentu saja hiperrealitas dalam media, berimplikasi pada masyarakat akan percaya dengan hal tersebut bahkan turut meng-share informasi yang belum tentu benar.

Perlu adanya pemahaman literasi media khususnya dalam mencegah persebaran hoax, mulai dari keluarga, sekolah, hingga lembaga terkait agar tercipta masyarakat bereadia yang sehat.