Mohon tunggu...
Rini DST
Rini DST Mohon Tunggu... Seorang ibu, bahkan nini, yang masih ingin menulis.

Pernah menulis di halaman Muda, harian Kompas.

Selanjutnya

Tutup

Kesehatan Pilihan

Pandemi, Persamaan dan Perbedaan Antara Corona dan Polio

31 Maret 2020   18:14 Diperbarui: 6 April 2020   21:40 128 0 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Pandemi, Persamaan dan Perbedaan Antara Corona dan Polio
Sumber gambar: Pixabay - Conmongt

Sama-sama pandemi, yang artinya berjangkit serempak dimana-mana, seluruh dunia. Sama gejalanya tubuh mengalami demam.  Sama disebabkan oleh virus, walaupun virus yang berbeda, virus corona dan virus polio. Sama juga tak ada obatnya. 

Perbedaan utama, pandemi corona, yang sekarang lebih dikenal dengan covid 19, terjadi saat ini, tahun 2020. Sedangkan  pandemi polio terjadi pada tahun 1950.  

Walaupun ada yang mengalami gejala yang berbeda-beda. Pada umumnya yang terpapar polio juga mengalami demam, kelelahan, sakit kepala, muntah, nyeri otot. Hampir sama dengan mereka yang terpapar covid 19 sekarang. 

Polio banyak menyerang balita dan meninggalkan  kelumpuhan yang permanen bagi yang dinyatakan sembuh. Sedangkan Covid 19 seakan jarang menyerang anak-anak. Lebih banyak menyerang orang tua, ada yang bisa sembuh dan ada yang berakhir dengan kematian. Sebenarnya polio juga menyerang orang tua,  tetapi kebanyakan  berakhir dengan kematian. 

Penularannya juga sama. Virus masuk dari tubuh orang terpapar ke tubuh orang  sehat, menular melalui mulut, hidung dan mata. Caranya melalui percikan air liur orang yang terpapar ke orang sehat yang sedang melakukan kegiatan bersama dengan jarak yang dekat.  Atau melalui virus yang menempel pada barang-barang  bekas terpegang oleh orang terpapar. Kemudian terpegang oleh orang sehat dan terusap ke mulut, hidung atau mata. 

Bagi aku pribadi, hal yang sangat membedakan. Aku merupakan orang yang terpapar virus polio. Saat itu, kata orang tuaku,  aku menderita sakit dengan gejala awal demam sepulang dari bepergian dengan menggunakan kereta api (KA). Tentu saja bepergian bersama keluarga, karena saat itu aku masih berusia dua tahun.   

Aku tak jelas bagaimana kejadiannya secara rinci. Alhamdulillah, aku termasuk yang dinyatakan sembuh dari paparan virus polio. Bagaimana penyembuhannya, aku sendiri tak tahu. Yang aku tahu sejak kecil aku menjadi seorang yang sekarang disebut difabel, suatu sebutan yang sudah diperhalus. Kalau dulu disebut sebagai orang cacat, sehingga aku harus bersekolah di YPAC.  Singkatan dari Yayasan Pemeliharaan Anak-anak Cacat.

Sejauh aku bisa mengamati melalui media, orang yang dinyatakan sembuh dari covid 19 tidak meninggalkan cacat pada tubuhnya. Karena bagian tubuh yang diserang covid 19 paling parahnya adalah paru-paru.  Sedangkan virus polio menyerang syaraf, yang menyebabkan pengecilan dan kelumpuhan anggota tubuh.  

Aku sekarang sudah dewasa. Sangat dewasa. Bahkan boleh disebut sudah tua. Dua putri-putriku sudah menikah. Cucu-cucuku ada dua. Aku sering mendengar dan membaca berita-berita penanggulangan covid 19. Sungguh sibuk dan sungguh sangat mengerikan. Apakah dulu orang tuaku juga mengalami suasana yang mengerikan seperti sekarang?

Kedua orang tuaku kini telah tiada. Tak ada yang bisa aku tanyakan kepada mereka bagaimana suasana saat virus polio memapari diriku. Ada seorang sepupu, anak kakak ayahku yang tertua. Katanya saat itu aku diberi berbagai vitamin, tak ada obat khusus. Dan perlakuan medis untuk memperkuat otot kaki yang lumpuh. Hasil yang aku tahu. Aku menjadi anak yang Alhamdulillah masih bisa berjalan sendiri, walau dengan kaki kiri bagian bawah kecil dan lemah. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x