Mohon tunggu...
susi respati setyorini
susi respati setyorini Mohon Tunggu... Guru - penulis

Pengajar yang gemar menulis

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Waktu yang Kembali

27 Januari 2021   07:24 Diperbarui: 29 Januari 2021   12:47 352
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Kereta Api Bogowonto jurusan Surabaya--Senen sudah sampai di Wates. Itu berarti satu persinggahan lagi aku sampai ke Jenar. Kecamatan di tenggara Sragen itu menyimpan sebagian dari masa kanakku yang hilang dari ingatan. Tidak ada yang membekas dalam memoriku tentang tempat yang lebih tepat aku sebut desa ini. Konon, aku kecil gemar main di sawah, gobak sodor, egrang, atau betengan. 

Ah, permainan anak yang makin lenyap ditelan kemajuan zaman,  kalah oleh gempuran gawai yang tak tertandingkan. Aku hampir tak pernah melihat anak sekarang bermain gobak sodor di lapangan. Aku justru kerap melihat anak-anak asyik dengan ponselnya. Mengabaikan lingkungan dan hidup di dunianya sendiri.

Badanku bergerak pelan mengikuti jalannya kereta di atas bantalan relnya. Aku membuka robekan kertas bertuliskan alamat rumah yang akan aku kunjungi.

"Bu, apa sebenarnya yang pernah terjadi? Apa ada yang Ibu sembunyikan dari May?" tanyaku malam itu.

Aku mendesak Ibu. Entah sudah berapa kali aku terbangun di malam hari sambil berteriak. Keringat dingin yang mengucur membawa serta ketakutanku. Mimpi menyeramkan itu hadir lagi. Hampir setiap malam aku bertemu mimpi tentang rumah tua yang menurutku aneh. Aku tak mampu mengurai pesan dalam mimpi itu. Sampai akhirnya aku bertanya pada Ibu.

Ibu masih berusaha menghindar dan mengalihkan pertanyaanku. Aku tak jera.

"Ada apa dengan rumah itu, Bu!"

"Turuti perintah Ibu, May."

Aku bergeming. "May, nggak akan pergi ke sana kalau Ibu tidak mau menjelaskan."

"Menjelaskan apa? Mimpi hanya bunga tidur, May. Nggak lebih."

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
  7. 7
  8. 8
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun