Mohon tunggu...
Rindi Pransiska Dewi
Rindi Pransiska Dewi Mohon Tunggu... Mahasiswa IAIN Langsa

KPM-DR MEDSOS

Selanjutnya

Tutup

Ilmu Sosbud & Agama Pilihan

Tradisi Rewang di Tanah Perkebunan

9 April 2021   11:00 Diperbarui: 9 April 2021   11:12 83 3 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Tradisi Rewang di Tanah Perkebunan
tradisi rewang, dokpri

Dilansir dari situs resmi Kementrian dan Kebudayaan Republik Indonesia, kata gotong royong adalah bekerja sama untuk mencapai hasil yang diinginkan. Perilaku gotong royong dapat menyelesaikan perkerjaan dan dinikmati hasil nya bersama-sama secara secara adil. Gotong royong sendiri merupakan solidaritas sosial yang terjadi dalam kehidupan masyarakat. Salah satu kegiatan gotong royong yaitu rewang.

Rewang adalah kegiatan membantu tetangga atau masyarakat sekitar yang akan melakukan hajatan seperti pernikahan, khitan, kenduri, dan lain sebagainya. Rewang hal yang sederhana yang masih banyak dilakukan masyarkat didesa-desa dan memiliki manfaat salah satunya yaitu meringankan beban pemilik hajatan sehingga tidak banyak mengeluarkan biaya yang besar untuk membayar pekerja dan tentu saja dapat mempertahankan hubungan harmonis antar masyarakat.

Desa perkebunan pulau tiga merupakan desa yang terletak dihulu Aceh Tamiang, yang terdapat banyak suku didalamnya seperti, Jawa, Gayo,Aceh dan Melayu. Meskipun memiliki suku yang Beragam tapi masyarakat desa perkebunan tetap kompak dalam melakukan tradisi rewang. Mereka saling tolong menolong dan bahu membahu meskipun ditengah perbedaan.

Rewang tradisi asli Indonesia yang turun-temurun masih melekat pada masyarakat desa perkebunan, rewang juga merupakan hubungan timbal balik, dimana saat mereka akan mengadakan hajatan maka masyarakat secara bergantian juga akan membantu.

Selain itu masyarakat desa ini juga percaya jika membantu orang lain dan memudahkan urusan orang lain, maka ketika mereka memiliki urusan maka mereka juga akan dibantu dan dimudahkan urusannya. Tradisi ini murni berasal dari kesadaran masyarakat untuk membantu kerabatdan masyarakat sekitar dengan menunjukan dukungan yang bertujuan salah satunya menguatkan ikatan sosial antar masyrakat.

Pada saat sebulan sebelum acara hajatan akan dimulai, maka pemilik hajatan akan mendatangi kediaman kerabat dan tetangga terlebih dahulu untuk meminta bantuan. Mereka bergotong royong mulai dari mencari kayu bakar hingga membongkar tenda pada saat acara hajatan selesai.

Saat hajatan akan dimulai maka tiga hari sebelum hari H masyarakat sudah berkumpul dirumah pemilik hajatan. Dimana laki-laki akan memotong sapi, membuat jenang, wajik dan gemblong makanan itu merupakan makanan khas yang wajib disediakan saat hajatan di desa ini. Sedangkan para perempuan yang akan mencuci daging sapi dan memasak lauk-pauk yang akan dihidangkan.

Biasanya orang rewang akan kembali kerumahnya pada malam hari saja, saat pagi mereka sudah kembali kerumah pemilik hajatan. Sedangkan anak-anak mereka akan dikirimkan nasi dan lauk-pauk dari rumah pemilik hajatan yang didaerah ini disebut dengan "tonjokan".

Pada saat hari H semua masyarakat akan berkumpul dari remaja hingga orang tua, Mereka pastinya memiliki tugas masing-masing. Para bapak-bapak akan bertugas mencuci piring, ibu-ibu tetap bertugas memasak. Sedangkan remaja pria akan bertugas mengangkat piring kotor bekas tamu undangan, mengangkat nasi serta lauk-pauknya, dan remaja wanita memiliki tugas menjaga hidangan makanan.

Hingga acara selesai masyarakat dan sanak saudara akan tetap berkumpul untuk membongkar tenda, pada saat ini pula pemilik hajatan akan memasak bubur sumsum yang memiliki arti sebagai rasa penghilang lelah pada saat selesai hajatan dan bubur susum akan dibagikan kesetiap perewang.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN