rinda vita
rinda vita

MSc on Agroindustry Technology. Saya philantropist lajang yang senang membaca, jalan-jalan, berjuang untuk eco-friendly lifestyle, memetik pelajaran dari mana pun kemudian membagi-bagikannya. Bisa kontak saya di rindavita@gmail.com atau keep in touch lewat akun media sosial saya. Selamat membaca!

Selanjutnya

Tutup

Ekonomi

SDM, Kunci Keluarnya Indonesia dari "Middle Income Trap"

14 Maret 2018   18:29 Diperbarui: 14 Maret 2018   18:36 420 0 0

Menurut Barro (1995) World Bank mengklasifikasikan negara ke dalam tiga kategori menurut pendapatan per kapita yaitu, negara dengan pendapatan per kapita kurang dari $1. 045, negara berpendapatan menengah dengan pendapatan per kapita antara $1.045 hingga $12.746, dan negara berpendapatan tinggi dengan pendapatan per kapita diatas $12.746. Setiap negara yang masuk ke dalam kategori rendah dan menengah berusaha mencapai pendapatan per kapita negara berpendapatan tinggi.

Saat ini Indonesia tengah berada dalam Middle Income Trap. Middle Income Trap merupakan kondisi suatu Negara berpendapatan menengah yang tidak mampu atau sulit meningkatkan pendapatan per kapitanya, sehingga stagnan pada tingkatannya.

Pemerintah Indonesia sendiri telah mempunyai strategi untuk menghindari kondisi ini. Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Bambang Brodjonegoro menyebutkan, penguatan inovasi dan teknologi menjadi kunci Indonesia untuk keluar dari jebakan negara berpendapatan menengah (middle income trap).

Selama hampir 12 tahun Indonesia belum bergerak-gerak dari jembakan negara middle icome. Sejak tahun 1950 Indonesia masih dikategorikan negara miskin, atau berpendapatan rendah, bersamaan dengan Korea Selatan dan Taiwan. Tahun 1990, perekonimian Indonesia bergerak, naik ke kelas ekonomi menengah, tetapi kategori rendah, lalu jatuh lagi di tahun 1998. Tahun 2004, kembali menjadi negara middle income, tetapi tetap berada di bawah.

Menurutnya Menteri Bappenas, belum banyak negara yang loso menjadi negara berpendapatan tinggi, dan terjebak di middle income trap. Namun ada beberapa negara yang lolos seperti Korea Selatan dan Taiwan. belum banyak negara yang lolos menjadi negara berpendapatan tinggi. Mereka meloloskan diri dari jebakan itu dengan menjadi pemimpin teknologi pada 2008 dan menjadi tuan rumah Asian Games.

Indonesia akan kesulitan keluar dari perangkap negara pendapatan menengah menjadi negara maju berpenghasilan tinggi jika pertumbuhan pendapatan per kapita hanya 3,5% per tahun. Minimal, untuk bisa menjadi negara maju pertumbuhan per kapita harus 5,42%.

Teknologi, tentu saja menjadi kunci juga bagi Indonesia untuk mempu keluar dari middle income trap. Indonesia harus mengakhiri ketergantungannya terhadap produksi sumber daya alam (SDA) serta meninggalkan rezim upah buruh rendah. Dengan demikian, Indonesia akan menjadi negara maju berpendapatan tinggi.

Caranya adalah dengan meningkatkan peran kapasitas agar tercipta SDM yang bagus untuk mendorong produktivitas. Upaya transformasi ini harus dilakukan agar kita tidak tergantung pada raw material dan upah buruh murah.

Indonesia terlalu terlena dengan kekayaan sumberdaya alam yang ada. Tidak seperti Korea yang harus bertahan dan memutar otak dengan kondisi 'seadanya'. Makanya mereka berpikir untuk berinovasi dan mengembangkan teknologi.

Inovasi berbasis pengetahuan saat ini tengah digalakkan dengan gembar gembor industry 4.0. Kita berpikir apa yang menjadi keunggulan Indonesia dan inovasi apa yang bisa langsung berdampak dalam peningkatan status ekonomi dan sosial.

Untuk menyongsong ini tentu saja hal pertama yang harus ditingkatkan adalah melalui pembangunan kualitas sumber daya manusia (SDM).

Untuk itu, lanjutnya, berbagai hambatan investasi harus dihilangkan dan daya tarik investasi harus ditingkatkan agar mampu bersaing dengan negara-negara tujuan investasi lainnya. Physical capital dari investasi ini akan memberikan dorongan kuat bagi pertumbuhan ekonomi.

Selain itu, IPTEK dan inovasi pun harus ditingkatkan agar produktivitas kegiatan ekonomi meningkat. Menurut Armida, upaya ini perlu agar nilai tambah bagi perekonomian akan semakin besar. Selanjutnya, pembangunan industri perlu ditingkatkan.

Menurut salah satu dosen di kampus saya, salah satu faktor yang menjadikan Indonesia kekurangan insinyur adalah karena banyak lulusan prodi keinsinyuran yang hengkang ke disiplin ilmu lain. Diduga penyebabnya karena disana ditawarkan gaji yang lebih baik dan karier yang lebih menjanjikan. Faktor lainnya adalah karena seorang insinyur begitu masuk ke umur tertentu (misalnya 40 tahun) sudah masuk ke jabatan dan pekerjaan manajerial, sehingga tidak tutun lagi ke ranah teknis.