Rina Susanti
Rina Susanti karyawan swasta

mama dua anak, penulis lepas dan blogger. www.rinasusanti.com

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Memutus Rantai Kemiskinan dengan Pendidikan dan Kesehatan

2 Maret 2019   16:00 Diperbarui: 2 Maret 2019   16:00 74 1 1
Memutus Rantai Kemiskinan dengan Pendidikan dan Kesehatan
indonesiabaik.id (Instagram)

Satu dari sekian kalimat yang dilontarkan ibu yang saya ingat dengan baik adalah,"Nu penting mah sakola." Yang artinya, "Yang penting itu sekolah."

Kalimat yang kerap diungkapkan Ibu bukan hanya pada kami juga pada bapak kalau beliau pusing dan menunjukkan tanda -- tanda menyerah karena tidak sanggup membiayai kami sekolah, padahal waktu itu anak -- anaknya  baru sekolah setarap smp dan sd. Oh ya saya  5 bersaudara dan waktu itu tahun 1990 an jadi belum ada  sekolah negeri gratis seperti sekarang. Penghasilan Ibu dan Bapak saya dari berjualan aneka kue dan gorengan yang dititip di warung -- warung dan kantin sekolah, jadi walaupun anak -- anaknya baru smp dan sd, cukup berat.

Keadaan ekonomi kami waktu itu  memang sulit. Tidak heran jika Ibu selalu berucap, "Bisa makan dan sekolah saja sudah untung."

"Kalau sekolah punya ilmu, bisa mencari kerja. Kalau ga sekolah ga punya ilmu mau kerja apa?" nasehat Ibu saat menyemangati kami untuk tetap sekolah walaupun uang spp nunggak berbulan -- bulan atau karena sepatu dan tas  yang sudah bolong. Diam --  diam saya mengagumi Ibu, yang tanpa malu dan sungkan menghadap pihak sekolah, meminta tempo pembayaran spp agar kami bisa ikut ulangan.

Setelah saya berkeluarga dan memiliki anak, Ibu memberi nasehat pada saya, "Anak itu harus diperhatikan perut dan otaknya."

Diperhatikan perut artinya diberi makanan bergizi. Diperhatikan otaknya artinya dibekali ilmu.

Makan bergizi ga harus mahal lho, ini yang saya rasakan berdasarkan pengalaman, walaupun ekonomi kami sangat terbatas, seingat saya pantang bagi Ibu memberi kami makan kerupuk dan nasi saja. Minimal ada sayuar bayam/kangkung dan potongan telur dadar dengan resep special  2 telur ditambah dua sendok makan terigu, sedikit air, kocok lalu dadar, lalu potong rata jadi 5 atau 7. Dan kami melahapnya dengan suka cita. Tanpa merasa miskuin karena Ibu selalu berkata ini lebih bergizi dari pada jajan. Yang penting halal dan hasil keringat sendiri, nasehat Ibu.

Ibu selalu meyakini, bahwa pendidikan dan makanan bergizi bisa menjadi pemutus mata rantai kemiskinan. Keyakinan Ibu menjadi doa untuk kami, dengan ilmu kami anak -- anaknya bisa mandiri dan memiliki kehidupan lebih baik dari Ibu.

Intinya jangan pernah menyerah pada keadaan, saat saya akhirnya bisa sekolah sampai ke jenjang perguruan tinggi, bukan tanpa drama, bagaimana Ibu berusaha mencukupi biayanya karena keempat adik saya pun harus sekolah..  Sekali lagi kami generasi 90-an belum ada SD, SMP dan SMA negeri gratis.

Alhamdulillah, seiring waktu program pemerintah yang  bertujuan mensejahterakan seluruh lapisan masyarakat, mengentaskan kemiskinan bertambah. Kini bukan hanya sekolah negeri yang gratis (kalaupun bayar hanya seragam dan keperluan sekolah yang tidak seberapa), ada BPJS layanan asuransi kesehatan dengan iuran terjangkau dan Program Keluarga Harapan (PKH).

Beberapa pemerintahan di daerah juga memiliki inisiatif dengan program -- program serupa, saya ingat saat RK menjabat walikota Bandung, pernah meminta pelajar yang ditahan ijasah sekolahnya karena tunggakan spp, mendaftarkan diri ke kantor walikota agar bisa diuruskan. Sungguh waktu itu saya sempat iri, coba waktu jaman saya dan adik -- adik saya sekolah dulu walkotnya Bapak, hahaha.

Iri sebagai bentuk bahagia karena kini banyak hal makin dimudahkan jadi kalau dimanfaatkan dengan maksimal untuk menjadi lebih baik, rugi.

Program Keluarga Harapan 

Mungkin beberapa pembaca ada yang belum ngeh dengan Program Keluarga Harapan (PKH) karena program ini tidak sepopuler sekolah gratis atau BPJS.

PKH adalah  program pemberian bantuan sosial bersyarat kepada Keluarga Penerima Manfaat (KPM) yang ditetapkan sebagai keluarga penerima manfaat PKH. Program ini diluncurkan sebagai upaya percepatan penanggulangan kemiskinan sejak tahun 2007.

Fasilitas PKH pada keluarga penerima manfaatnya yaitu keluarga miskin, ibu hami dan anak usia sekolah, mendapat akses layanan pendidikan (fasdik)  dan layanan kesehatan (faskes) gratis yang tersedia di sekitar mereka. Selain itu ada juga program di PKH di berupa perlindungan dan pemberdayaan sosial, agar keluarga miskin keluar dari kungkungan kemiskinan dan lebih sejahtera.

indonesiabaik.id (Instagram)
indonesiabaik.id (Instagram)
Berikut kutipan mengenai PKH yang saya dapat dari situs resmi kementrian sosial;

Program prioritas nasional ini oleh Bank Dunia dinilai sebagai program dengan biaya paling efektif untuk mengurangi kemiskinan dan menurunkan kesenjangan antar kelompok miskin, juga merupakan program yang memiliki tingkat efektivitas paling tinggi terhadap penurunan koefisien gini. Berbagai penelitian lain menunjukkan bahwa PKH mampu mengangkat penerima manfaat keluar dari kemiskinan, meningkatkan konsumsi keluarga, bahkan pada skala yang lebih luas mampu mendorong para pemangku kepentingan di Pusat dan Daerah untuk melakukan perbaikan infrastruktur kesehatan dan pendidikan.

Penguatan PKH dilakukan dengan melakukan penyempurnaan proses bisnis, perluasan target, dan penguatan program komplementer. Harus dipastikan bahwa keluarga penerima manfaat (KPM) PKH mendapatkan subsidi BPNT, jaminan sosial KIS, KIP, bantuan Rutilahu, pemberdayaan melalui KUBE termasuk berbagai program perlindungan dan pemberdayaan sosial lainnya, agar keluarga miskin segera keluar dari kungkungan kemiskinan dan lebih sejahtera. 

Misi besar PKH dalam menurunkan kemiskinan terlihat nyata semakin mengemuka mengingat jumlah penduduk miskin Indonesia pada tahun 2017 terjadi penurunan kemiskinan dari 10,64% pada bulan meret 2017 menjadi 10,12% pada bulan September 2017 dari total penduduk atau 27.771.220 jiwa penduduk pada bulan Maret menjadi 26.582.990 jiwa penduduk pada bulan September dengan total penuruan penduduk miskin sebanyak 1.188.230 atau penurunan jumlah penduduk miskin sebesar 0.58% (BPS,2017). 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3