Mohon tunggu...
Kurniasih
Kurniasih Mohon Tunggu... pengajar dan penulis

Rinai Kinasih adalah Kurniasih. Menulis adalah untuk berbahagia. Tak lupa juga untuk mencintai pepohonan.

Selanjutnya

Tutup

Kesehatan Pilihan

Menjadi Manager bagi Kesehatan Diri Sendiri

16 November 2019   08:24 Diperbarui: 16 November 2019   09:48 43 1 0 Mohon Tunggu...

"Jadi, begini, setelah saya menyimak gejala-gejala yang Anda alami, sepertinya Anda mengalami psikosomatis. Apalagi Anda tadi bercerita aktivitas yang paling menyita waktu saat ini adalah menulis buku. Itu aktivitas yang menyita banyak energi dan pikiran." Dokter pria yang telah beruban itu secara hati-hati menjelaskan ihwal sakit saya. Saya merasa perlu menyanggahnya. "Tapi saya sakit betulan dok, badan saya kaku dan panas, lemes, tenggorokan sakit, pusing juga." Dokter lalu menjelaskan, "Iya, Anda memang sakit betulan tetapi faktor utamanya adalah kecemasan yang muncul dari pikiran. "

Percakapan dengan dokter tersebut membuat saya rasanya semakin "sakit". Rasanya tak percaya, ini kali kedua saat tubuh tidak bisa diajak kompromi, dokter mendiagnosa psikosomatis sebagai ihwal rasa sakit. Awalnya saya langsung percaya terhadap diagnosa kedua dokter itu.

Tetapi walaupun demikian, saya mencoba mulai mengamati hubungan antara faktor kecemasan dan penyakit. Apa benar ya ada hubungan antara keduanya? Jika iya, berarti setiap orang memang harus pandai mengelola emosi agar terhindar dari rasa sakit.

Dari pengamatan sekilas dari sumber yang mudah dipahami, yaitu situs halodoc.com, saya memeriksa kembali definisi psikosomatis. Istilah gangguan psikosomatis digunakan untuk menggambarkan penyakit fisik yang diduga disebabkan atau diperparah oleh faktor mental, seperti stres dan kecemasan. Psikosomatis sendiri dilihat dari akar katanya terdiri dari dua kata, yaitu pikiran (psyche) dan tubuh (soma). Jelas dari sini akan adanya keterkaitan pikiran dan tubuh yang menyebabkan penyakit tertentu. Pikiran diindikasikan dapat mempengaruhi kinerja tubuh seseorang.

Sementara, gejala-gejala psikosomatis secara umum misalnya, jantung berdebar-debar, sesak napas, lemas atau tidak dapat menggerakkan anggota tubuh sama sekali, nyeri ulu hati, tidak nafsu makan, susah tidur, nyeri kepala, dan nyeri seluruh tubuh. Salah satu cara untuk mengatasi psikosomatis, dengan gejala-gejala tersebut adalah relaksasi dan meditasi.

Kebetulan, aktivitas relaksasi dan meditasi saat ini tengah menjadi sebuah trend juga. Apakah trend ini dipicu oleh kesadaran orang akan pentingnya kesehatan psikis? Bisa jadi. Saya sendiri pun termasuk sudah mengenal metode relaksasi dan meditasi sejak tahun 2007.  Cukup mengenal saja, tetapi bukan seseorang yang rajin juga melakukannya. Bisa jadi, metode ini berhasil untuk banyak orang. Tetapi saya merasa ada juga hal lain yang perlu saya lakukan untuk mengelola kecemasan berlebihan.

Meski merasa sangat terlambat, saya mulai mengamati tubuh dan psikis saya. Misalnya, mengamati bagaimana reaksi ketegangan pikiran terhadap beberapa bagian tubuh yang bisa dirasakan. Misalnya terhadap otot-otot kepala, perut, atau bahkan lengan dan jari. Ternyata melalui pengamatan yang cukup panjang, saya mulai bisa memahami secara langsung keterkaitan antara tekanan psikis dan tubuh. Mengapa mengamati kaitan keduanya terasa sulit? Karena aktivitas harian sering mengabaikan keduanya ini. Misalnya, saya lupa bahwa tubuh sedang lelah tetapi saya memaksakan diri berpikir sesuatu yang rumit.

Setelah pengamatan, langkah berikutnya adalah memilih akivitas pengurai stres dan nutrisi yang baik untuk tubuh. Langkah ini juga sama-sama tidak mudah. Aktivitas yang dapat memendarkan kelelahan psikis adalah salah satunya dengan olahraga. Setiap tubuh punya kebutuhan tersendiri akan jenis olahraga yang pas. Saya sendiri merasa pas jika melakukan gerakan sederhana seperti jalan kaki dan lari.

Selain keduanya tidak memerlukan biaya besar, juga sudah terdapat banyak penelitian yang menyebutkan manfaat keduanya. Sedangkan untuk pemilihan nutrisi, asupan buah dan sayur tak bisa ditawar lagi. Pantangan-pantangan spesifik harus dihindari.  Baik pencernaan maupun kulit bibir saya, ternyata tidak bisa menyantap makanan pedas. Meski selera terhadap makanan pedas sedemikian tinggi, logika harus dijalankan: tubuh tidak menerima makanan pedas.

Kedua langkah tersebut merupakan semangat yang harus saya pegang setiap saat karena rasa malas dan abai kerap berdiri di depan dengan gagahnya. Rasa malas dan abai merupakan produk pikiran. Untuk mengatasi hal ini, pikiran tetap menjadi nomor satu yang harus diperhatikan. Kebetulan juga belakangan ini saya menemukan buku atau metode panduan mengelola pikira secara praktis dan jelas. Di antaranya adalah menggunakan panduan-panduan semacam mind-tools untuk pengembangan diri.

Contohnya adalah tools  rationale thingking, SWOT personal, empathy Mapping, dan lain-lain. Biasanya, tools  ini dipakai oleh orang-orang manajerial dalam mengelola karyawan. Tetapi bagi saya ini menarik untuk dilakukan terhadap diri sendiri dalam rangka berdialog dengan pikiran sendiri. Kita berlatih berpikir objektif terhadap emosi, pikiran dan realitas yang kita hadapi.  Tujuannya bukan melulu produksi kerja yang harus ditingkatkan tetapi kinerja emosi dan pikiran yang lebih seimbang. Mens sana in corpore sano, demikian pepatah berkumandang. Di dalam tubuh yang kuat terdapat jiwa yang sehat. 

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x