Mohon tunggu...
Rima Suheni
Rima Suheni Mohon Tunggu... Mahasiswa

Prodi Bimbingan dan Konseling Islam UIN SU

Selanjutnya

Tutup

Edukasi

Dampak Pandemi Covid-19 terhadap Psikologi dan Kesehatan

9 Agustus 2020   23:29 Diperbarui: 15 Agustus 2020   19:54 78 4 1 Mohon Tunggu...

 Oleh : Rima Suheni

Psikologi salah satu bidang ilmu pengetahuan dan ilmu terapan yang mempelajari tentang perilaku, fungsi mental, dan proses mental manusia melalui prosedur ilmiah. Para psikolog berusaha untuk memperbaiki kualitas hidup seseorang melalui intervensi tertentu baik pada fungsi mental, perilaku individu maupun kelompok, yang didasari atas proses fisiologis, neurologis, dan psikososial.

Semenjak datangnya virus Covid-19 diindonesia diberbagai Negara  memberlakukan PSBB untuk mencegah Virus Covid-19. Semenjak PSBB berlaku semua aktivitas tidak berjalan dengan baik, hal ini otomatis berdampak negative  dibidang perekonomian dan kesehatan.

Covid 19  tidak hanya menyerang terhadap kesehatan fisik namun juga menyerang kesehatan psikologis. Keadaan ini membuat individu merasa terganggu kesehatan psikologisnya seperti Cemas, takut, hawatiran yang berlebihan serta berdampak psikosomatis lainnya. Hal ini juga dialami oleh peserta didik yang sudah terlihat kejenuhan dan kebosanan dengan situasi dan kondisi seperti ini, Selain kesulitan belajar, gangguan kesehatan mental juga akan banyak mempengaruhi keadaan psikis siswa dimana situasi saat ini menuntut siswa untuk waspada dengan lingkungan dimana mereka hidup sehari-hari.

Kondisi ini menimbulkan gangguan kesehatan mental salah satunya yaitu gangguan psikomatik, rasa cemas, panic dan ketakutan, sebab utamanya  gangguan ini berkelakar dalam tubuh manusia. Sugesti yang dibangun dalam pikiran sangat berpengaruh terhadap kondisi fisik dan psikis di situasi ini. Psikomatik akan timbul ketika seseorang merasa stress serta cemas berlebih bahkan dapat menimbulkan depresi.

Dalam kondisi demikian penderita psikosomatis harus melakukan pencegahan peningkatan stres dengan melakukan terapi relaksasi dan memberi batas kekhawatiran dengan menempatkan resiko terjangkitnya Covid-19 berpotensi dialami oleh semua orang. Artinya dia mempunyai resiko yang sama dengan orang di seluruh dunia untuk terjangkit. Cemas dan panik merupakan faktor dominan yang menyebabkan gejala psikosomatis. RS OMNI, sebuah Klinik Psikosomatik yang berada di Tangerang mendata 80 persen pasien dengan gejala psikosomatis yang mengunjungi mereka disebabkan oleh ganguan cemas dan panik.

Berbagai kebijakan dari pemerintah yang melakukan pembatasan terhadap berbagai aktifitas akan memicu rasa bosan, cemas, tertekan yang merupakan 2/3 dari gejala dasar psikosomatis, yang pada akhirnya dapat mempengaruhi kesehatan fisik. Cemas fisik akan mengalami perubahan detak jantung, tekanan darah, hilangnya selera makan, gangguan pernapasan hingga terganggunya pola tidur.

Meski saat ini telah diterapkan sebagai fase new normal, namun gejala di atas dapat terjadi hingga hari ini sebagai stimulus emosional yang sudah terjadi beberapa bulan. Karenanya upaya untuk menyadari kondisi psikologis sebagai self control merupakan faktor penting untuk mengembalikan keadaan yang stabil. Atau juga bisa menempuh upaya dengan memanfaatkan jasa profesional seperti mengikuti layanan psikologis dari psikolog, konselor, dan psikiater guna mencegah timbulnya gejala psikosomatis.

Psikologi Islam sendiri memberi solusi dengan membaca Alquran dapat mengendalikan saraf otonom dan membangkitkan sistem imun tubuh. Dr Ahmed Al-Qadhi seorang peneliti di Klinik Besar Florida, USA membuktikan bahwa membaca Alqur'an dengan bersuara dapat menimbulkan vibrasi sehingga sel-sel yang rusak di dalam tubuh bisa berkerja dengan baik. Hal ini juga diperkuat oleh Muhammad Salim dari Universitas Boston, karena setiap sel di dalam tubuh manusia bergetar secara seksama yang dapat mengembalikan keseimbangan.

Al-Quran dengan tegas memberi pesan bahwa, al-Quran adalah penawar (obat) dan rahmat bagi orang-orang yang beriman. Sebagaimana dapat dibaca pada surat al-Isra: 82.

Ketika new normal mulai diterapkan tentu saja terdapat dua respon psikologis, sebagian orang menerimanya secara terbuka dan menganggapnya sebagai sebuah harapan baru. Atau sebaliknya justru mengalami tingkat kepanikan dan stres yang berlebihan karena harus melakukan aktifitas seperti biasa meski masih di bawah ancaman Covid-19.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN