Mohon tunggu...
Riko Noviantoro Widiarso
Riko Noviantoro Widiarso Mohon Tunggu... Peneliti Kebijakan Publik

Pembaca buku dan gemar kegiatan luar ruang. Bergabung pada Institute for Development of Policy and Local Partnership (IDP-LP)

Selanjutnya

Tutup

Transportasi Pilihan

Kartu Multitrip Plus-Plus, Mungkinkah?

22 Juli 2019   18:46 Diperbarui: 22 Juli 2019   19:01 0 1 0 Mohon Tunggu...
Kartu Multitrip Plus-Plus, Mungkinkah?
tribunnews.com

Bagi pengguna KRL sudah pasti akrab dengan Kartu Multi Trip (KMT). Model pelayanan dengan satu kartu untuk semua rute KRL itu sangat memudahkan. Terutama bagi pengguna aktif KRL. Hilir mudik dan keluar masuk stasiun tanpa hambatan.

Dengan KMT itu pengguna tidak perlu antri panjang disetiap perjalanan. Cukup 'ngetap' KMT yang masih memiliki saldo minimum, maka kemudahan perjalanan pun dinikmati. Sekaligus fasilitas stasiun yang saat ini sudah berwajah manis.

Dari data PT. Kereta Commuter Indonesia tercatat jumlah pengguna KRL terus mengalami peningkatan signifikan. Pada tahun 2016 jumlah pengguna KRL mencapai 280 juta penumpang. Angka itu naik menjadi 315,8 juta penumpang pada tahun 2017. Kini jumlahnya juga meningkat, pada tahun 2018 tercatat 320 juta penumpang.

Peningkatan itu menjadi bukti kebutuhan dan kepercayaan pengguna pada moda transporasi KRL kian membaik. Dimana memang berbagai perubahan pada layanan dan fasilitas KRL dapat dipastikan positif. Sehingga menjadi faktor pendorong meningkatnya jumlah pengguna KRL.

Apalagi model penggunaan KMT yang memang memudahkan. Dari data pun menunjukan pengguna KMT terus meningkat. Saat ini pengguna KMT telah mencapai 35 persen dari pengguna KRL, sedangkan kartu Tiket Harian Berjaminan (THB) sebanyak 40 persen, sisanya menggunakan uang elektronik.

Lantas, apakah pengguna KMT itu sudah maksimakah? Apakah pengguna THB juga perlu dihapuskan?. Sejumlah pertanyaan itu muncul, sebagai koreksi yang mungkin bisa dipertimbangkan. Agar semua karakter pengguna KRL bisa tetap terjaga, sekaligus meningkat sesuai harapan.

Pengguna KMT saat ini masih terbatas pada KRL saja. Upaya PT. KCI mendorong penggunaan KMT sebagai e-money masih harus menunggu. Padahal penggunaan KMT sebagai e-money akan mendorong nilai faedah KMT yang berarti juga menjadi keuntungan bagi PT. KCI. Semoga upaya ini bisa segera terwujud.

Modernitas KMT juga perlu diarahkan pada jumlah penggunaannya. Selama ini satu KMT hanya bisa digunakan bagi satu orang pengguna KMT. Padahal pengguna KRL tidak jarang bersama keluarga atau teman. Maka perlu juga mengembangkan pola KMT untuk perjalanan lebih dari satu orang secara bersamaan.

Tentu saja penggunan KMT untuk lebih dari satu orang dalam perjalanan bersama butuh persyaratan tambahan. Misalkan jumlah maksimal pengguna secara bersamaan. Apakah dua orang? Apakah 3 dan 4 orang? Masih bisa didiskusikan.

Belum cukup itu saja penggunaan KMT untuk lebih dari satu orang diarahkan pada lokasi tujuan yang sama. Dengan saldo yang juga harus mencukupi. Sehingga pengguna KMT tetap bertanggung jawab.

Hal lain yang menarik juga membuat KMT lebih personal. Dengan memasang foto cantik pemilik KMT. Agar kesan KMT pun jadi segar dan terkesan unik. Semua itu yang boleh disebut sebagai KMT Plus-plus. Semoga menarik untuk dipikirkan.

Peneliti Kebijakan Publik, Insititute for Development of Policy and Local Partnership