Mohon tunggu...
Riki Tsan
Riki Tsan Mohon Tunggu... Dokter Spesialis Mata

Eye is not everything. But, everything is nothing without eye

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Jangan Perlakukan Pasien sebagai Objek Penderita

15 Oktober 2019   00:37 Diperbarui: 17 Oktober 2019   08:45 0 0 0 Mohon Tunggu...
Jangan Perlakukan Pasien sebagai Objek Penderita
Dokpri

Suatu hari, aku melakukan operasi katarak terhadap seorang bapak yang berusia 60-an tahun. 

Hari pertama setelah operasi, perban matanya dibuka, tajam penglihatan mata diukur. Walaupun hasilnya tidak begitu jelek, namun tidak begitu menggembirakanku

Perasaan kecewa segera berkecamuk di dalam diriku. 'Sudah ratusan pasien yang berhasil aku operasi, koq pasien yang satu ini tidak berhasil ?', demikian hatiku membatin seolah olah tak bisa menerima kenyataan itu.

Saat si pasien datang kembali pada hari berikutnya, penglihatannya tak juga kunjung membaik. Dunia terasa akan runtuh . Tubuhku lemah lunglai. Lalu, aku berkata kepadanya dengan suara datar dan terbata bata ; 'Pak, saya mohon ma'af, Pak, hasil operasi tidak sesuai dengan harapan Bapak. Saya sudah berusaha..........'

Tiba tiba, dia menyela.

' Tidak ada yang perlu dima'afkan, dok', katanya. 'Malah, sayalah yang harus berterima kasih kepada dokter. Keadaan mata saya sekarang sudah lebih baik dibandingkan sebelum operasi. Dokter sudah berusaha bersungguh sungguh mengoperasi mata saya dan merawatnya dengan baik. Apalagi hubungan kita sudah seperti keluarga saja ,dok '. Buat saya , ini saja sudah merupakan karunia yang amat berharga'. 

'Tugas kita hanyalah berikhtiar....berusaha saja dok !. Biarkanlah Allah yang mengatur hasilnya...'.

Aku betul betul terharu dan takjub mendengar kata katanya yang amat melegakan dan menyejukkan jiwaku. Dengan ucapannya itu, sebetulnya si bapak ingin mengirimkan 'pesan moral' kepada kita kita ; para dokter dan para pasien .

Bahwa, tidak semestinya para dokter itu merasa jumawa (hebat),seakan akan mampu menjamin kesembuhan atau keberhasilan suatu tindakan medis yang dilakukannya terhadap pasien pasiennya 

Dokter seyogyanya rendah hati dan tidak boleh bersikap 'Playing God' atau mengambil peran Tuhan dalam menyembuhkan penyakit pasiennya.

Sebaliknya, pasien dan keluarganyapun juga tidak boleh menganggap para dokter 'segala galanya' sehingga menuntut kesembuhkan dan keberhasilan terhadap semua penyakit yang ditangani dokter. Pasien dan keluarga pasien harus menyadari bahwa dokter adalah makhluk manusia juga seperti mereka yang punya keterbatasan dan kekurangan.

Untuk menumbuhkan kesadaran akan hal ini , para dokter sebaiknya menjalin hubungan yang bersifat kekeluargaan dengan para pasien dan keluarga mereka ,jangan memperlakukan mereka sebagai objek penderita, selalu antusias memberikan informasi yang jelas dan terbuka tentang penyakit yang diderita pasiennya serta selalu melibatkan pasien dan keluarganya dalam pengobatan penyakit mereka.

Saya teringat dengan apa  yang dikatakan oleh Dr.Samsuridjal Djauzi,SpPD  di harian Kompas,pada 14 Oktober 2014 :

 'Era yang memposisikan dokter lebih tinggi telah berlalu. Dokter dan pasien sekarang posisinya sejajar. Alangkah lebih baik, jika hubungan keduanya menjurus kepada persahabatan'.

'Kita harus menghindari hubungan dokter pasien yang kental dengan nuansa bisnis. Semua tindakan diperhitungkan dari aspek bisnis. Layanan kedokteran merupakan layanan kemanusiaan dan tetap harus menjunjung tinggi nilai nilai kemanusiaan'.