Rijo Tobing
Rijo Tobing

Penulis buku kumpulan cerpen berbahasa Inggris "Randomness Inside My Head" (2016). Buku bisa diperoleh di Gramedia, Periplus, dan Kinokuniya. rijotobing.wordpress.com

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Artikel Utama

Sebuah Pelajaran dari Pertanyaan "Mengapa Wanita Itu Tidak Mengenakan Bra?"

15 November 2017   01:19 Diperbarui: 15 November 2017   11:21 6368 7 1
Sebuah Pelajaran dari Pertanyaan "Mengapa Wanita Itu Tidak Mengenakan Bra?"
Sumber ilustrasi: businessinsider.com

Pada tahun 2012 kami tinggal di Swiss untuk beberapa waktu dan kami berkesempatan merasakan musim semi, musim panas, dan musim gugur di sana. Ketika cuaca mulai hangat, orang-orang akan menanggalkan pakaian tebal dan mengenakan pakaian yang lebih tipis. Pada suatu hari Sabtu sore di bulan Agustus, saya berdiri di sebelah seorang wanita paruh baya di halte sambil menunggu bus yang akan membawa saya pulang. Wanita itu terlihat biasa meskipun dia tidak mengenakan bra.

Reaksi saya ketika itu adalah cepat-cepat mengalihkan pandangan saya karena saya tidak merasa nyaman dengan apa yang saya lihat. Anehnya, orang-orang di sekitar saya yang melihat hal yang sama bersikap biasa saja, seperti tidak ada hal yang aneh atau mengejutkan. Bahkan teman pria si wanita itu yang sedang mengobrol dengannya tidak memelototi wanita itu. Orang-orang di sekitar kami tidak mengamati wanita itu seakan-akan dia telah berbuat sesuatu yang salah. Hal ini membuat saya menyadari perbedaan nilai-nilai, norma-norma, dan kebiasaan-kebiasaan di setiap negara dan kebudayaan. Saya berandai-andai, jika wanita yang tidak mengenakan bra itu berada di Indonesia, pelecehan dan kekerasan seperti apakah yang dia mungkin alami?

Setiap manusia adalah makhluk individu yang merupakan bagian dari lingkungan sosial. Sebagai makhluk sosial, setiap orang diminta untuk mengikuti norma, perilaku, dan nilai tertentu. Ketidakmampuan untuk mengikuti aturan kelompok akan membuat seseorang diasingkan oleh kelompoknya. Sejak dahulu kala setiap manusia selalu berusaha mencari orang yang punya kesamaan dengan dirinya. Manusia memasukkan banyak faktor untuk menyamakan dirinya dengan orang lain: ras, agama, status sosial, pendidikan, dan seterusnya. Bentrokan antara kelompok sosial terjadi karena kurangnya dua faktor: penerimaan dan rasa hormat terhadap orang lain.

Manusia harus menerima kalau kesamaan dengan orang lain adalah suatu konsep yang tidak real dan tidak jelas tujuannya. Jika kita menempatkan ras sebagai faktor pemersatu kita dengan orang lain, banyak penelitian telah menunjukkan bahwa tidak ada ras yang murni di dunia sekarang ini. Siapakah yang bisa disebut sebagai ras Indonesia murni, ras India murni, ras Korea murni? Ujung dari terbentuknya suatu identitas ras adalah terbentuknya suatu identitas bangsa. Satu atau lebih ras setuju untuk membangun suatu negara dan bangsa, dan untuk menempati lokasi geografis tertentu. Pertanyaannya adalah, siapa yang bisa menjamin kalau semua penduduk negara itu berasal dari satu ras murni? Tidak seorang pun. Bangsa dan wilayah kependudukan saat ini dibangun berdasarkan kesepakatan. Dan kesepakatan itu adalah hasil dari kemampuan untuk menerima dan menghormati orang lain.

Para pendiri suatu bangsa menerima bahwa ada perbedaan di antara orang-orang yang mendirikan bangsa itu. Secara fisik, tidak ada seorang pun yang identik seratus persen dengan orang lain. Warna rambut, kulit, dan mata yang berbeda-beda jelas-jelas menunjukkan hal ini. Para pendiri suatu bangsa menerima dan menghormati fakta ini. Seumpama agama dan ideologi dipakai sebagai faktor pemersatu suatu bangsa, kita semua tahu kalau iman adalah hal yang berbeda sama sekali dengan agama. 

Iman bicara tentang pengalaman pribadi dan harapan. Agama bicara tentang sekelompok orang yang punya kesamaan pandangan dan kepercayaan. Agama adalah suatu bentuk pengelompokan dalam kehidupan sosial, dan kelompok ini sebaiknya juga mengikuti prinsip menerima dan menghormati kelompok sosial lain. Kita menerima kalau ada orang-orang yang mempercayai hal yang berbeda dengan yang kita percayai. Kita menghormati apapun yang mereka percayai.

Mungkin kita tidak setuju dengan hal yang mereka percayai, tapi siapakah kita yang bisa menghakimi kalau kepercayaan mereka adalah benar atau salah? Mengapa pemahaman saya akan surga dan neraka (berdasarkan iman saya) menjadi urusan orang lain? Mengapa pemahaman mereka akan surga dan neraka (berdasarkan iman mereka) menjadi urusan saya? Seharusnya itu menjadi urusan masing-masing orang, karena kita semua diciptakan dan bisa memilih untuk menjadi berbeda antara satu dengan yang lainnya. Kita menerima dan menghormati fakta bahwa kita berbeda.

Kembali kepada wanita paruh-baya yang saya lihat tidak mengenakan bra di sebuah halte bus.

Latar belakang saya yang berasal dari timur dan negara yang (seharusnya) religius membuat saya berpikir kalau tindakan wanita itu tidak sopan. Saya terus bertanya pada diri sendiri saya? Mengapa ya dia melakukan hal itu? Mengapa ya dia tidak mengenakan bra? Mengapa ya dia tidak menutupi dirinya dengan pakaian yang sopan? Bukankah bra dibuat untuk kenyamanan tubuh wanita dan untuk menjunjung nilai-nilai kepatutan? Seandainya pertanyaan-pertanyaan yang berkelebat di benak saya saat itu saya tanyakan kepada wanita paruh-baya tersebut, kira-kira bagaimana dia akan bereaksi? Dia mungkin berargumen bahwa menurutnya cuaca cukup hangat untuk mengenakan pakaian yang tipis (atau tidak mengenakan pakaian dalam, atau apapun).

Dia mungkin tidak punya maksud untuk membuat orang lain resah, risih, atau tersinggung. Cara berpakaiannya (termasuk keputusannya untuk tidak mengenakan bra) hanyalah sebuah wujud dari pilihan dan selera pribadinya, yang dia rasa dia tidak perlu jelaskan pada orang lain. Mengapa pula pilihan dan selera pribadi dari seseorang yang saya tidak kenal sama sekali dan mungkin tidak akan saya lihat lagi, akan saya biarkan mengusik ketenangan hati saya? Seharusnya tidak kan?

Saya jadi teringat perkataan seorang teman saya waktu saya masih sekolah di Tokyo. Orang-orang dari timur seringkali melihat orang-orang dari barat sebagai terlalu liberal karena mereka berpandangan terbuka terhadap hal-hal seperti pilihan untuk tidak mengenakan pakaian dalam. Orang-orang dari Barat tidak repot mengurusi hal kecil seperti kode berpakaian dan hal lain yang bersifat fisik, karena penampilan luar seseorang bisa jadi hanya merupakan produk pencitraan dan ilusi semata. Kita bisa benar-benar mengenal seseorang saat kita berusaha menjalin percakapan untuk mengenal karakter dan kepribadiannya.

Orang-orang yang memiliki tato dan tindikan, atau mengenakan bikini seharusnya tidak dinilai berdasarkan penampilan fisiknya; apa yang keluar dari mulut orang itu adalah jauh lebih penting. Waktu teman saya di Tokyo menegur saya tentang hal itu, saya hanya bisa mengangguk walaupun saya tidak setuju. Saya ingat kalau saya beberapa kali masih mengeluh di depan dia, mengapa orang ini dan itu mengenakan/tidak mengenakan ini dan itu. Sampai suatu saat, teman saya itu menegur saya dengan keras dengan berkata: kamu harus mengurusi urusanmu sendiri.

Urus urusanmu sendiri.

Terima dan hargai orang lain.

Saya rasa kedua hal ini bisa menjadi kunci sederhana untuk mencapai masyarakat yang harmonis.