Analisis

Indonesia Krisis Implementasi Nilai-nilai Pancasila

12 Februari 2019   21:35 Diperbarui: 12 Februari 2019   21:57 20 0 0

Indonesia berhasil merebut kemerdekaan setelah Jepang menyerah oleh sekutu. Kesempatan itulah yang dimanfaatkan oleh para pemimpin pada waktu itu untuk segera mengumandangkan kemerdekaannya.

17 agustus 1945 merupakan bukti peradaban tentang adanya kebebasan, dalam artian bebas dari terjajah. Perjalanan oretan tinta baru bangsa Indonesia dimulai pasca kemerdekaan. Moment tersebut dinamai sebagai "Hari Kemerdekaan".

Setiap negara memiliki ideologi, guna untuk menjadi rumusan dalam setiap negaranya. Ideologi yang dipakai tentu berbeda dengan negara lain. Perumusan tentang ideologi dimusyawarahkan secara mufakat untuk menemukan titik aman. Lahirnya ideologi tercipta dari pemikiran para pemimpin yang intelek. Pemikiran tersebut banyak perbedaan pendapat yang menuntut adanya kesepakatan bersama dengan melihat kondisi sosial.

Ideologi bangsa Indonesia dirumuskan pada 29 April 1945 oleh BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia) melalui beberapa pemikiran dari tokoh besar diantaranya Mohammad Yamin, Ir. Soekarno dan Dr. Soepomo. Ketiga pemikiran tersebut ditampung dan dijadikan bahan untuk perumusan Indonesia kedepannya.

Untuk merumuskan ketiga pemikiran tersebut BPUPKI membentuk panitia dalam rangka menemukan titik terang terkait ideologi dan dasar bangsa Indonesia. Pada sidang 29 Mei -- 1 juni 1945 dibentuklah panitia yang terdiri dari sembilan orang dan diberi nama dengan Panitia Sembilan. Panitia Sembilan dipimpin oleh Ir. Soekarno dan beberapa anggota lainnya.

Pada tanggal 22 juni 1945 panitia sembilan berhasil merumuskan naskah rancangan undang-undang dasar atau yang lebih dikenal dengan sebutan piagam Jakarta. Berdarsarkan perintah dari presiden No.12 tahun 1968 tanggal 13 April 1968, mengenai rumusan masalah dalam dasar negara Indonesia serta tata cara penulisannya. Rumusan pancasila yang sah dan diakui oleh PPKI sebagaimana yang tercantum di dalam Undang- undang Dasar 1945, yang disahkan pada tanggal 18 Agustus 1945 yakni pancasila serta perumusanya yang terdiri dari lima dasar sebagaimana yang kita pahami sampai saat ini.

Pancasila adalah sebuah ideologi bangsa sekaligus dasar negara yang berfungsi untuk memberikan sebuah sistem guna mengatur cara hidup dalam berkebangsaan. Untuk itu pancasila harus bisa ditanamkan dalam hati dengan berupa tindakan yang mencerminkan kepancasilaan.

Nilai-nilai Pancasila

Pancasila sebagai ideologi bangsa Indonesia tentunya memilki nilai-nilai pokok yang menentukan perjalanan Indonesia kedepanya. Nilai yang terkandung yakni nilai ketuhanan, keadilan sosial, persatuan, dan kesepakatan dalam permusyawaratan. Pokok nilai itu harus dipegang teguh oleh rakyat Indonesia agar tercipta keharmonisan dan jauh dari diskriminasi publik.

Pada dasarnya bangsa Indonesia berdiri tidak lepas dari adanya kerajaan - kerajaan lama yang merupakan warisan nenek moyang bangsa Indonesia. Negara kebangsaan Indonesia terbentuk dari tiga tahapan yakni zaman Sriwijaya, Majapahit, dan negara kebangsaan modern yakni negara Indonesia Merdeka (Kaelan, 2014: 20). Nila-nilai kepancasilaan sudah ditanamkan oleh kerajaan -- kerajaan terdahulu seperti penyatuan perdagangan antara pedagang pengrajin dan pegawai raja oleh kerajaan Sriwijaya. Ini membentuk humanisme dalam kebangsaan yang tidak mencerminkan adanya perbedaan antara penguasa dan rakyat. Toleransi dalam beragama dilakukan oleh kerajaan Majapahit sebagaimana kita ketahui bersama adanya candi-candi yang merupakan corak dari agama Hindhu dan Buddha yang berasal dari India (Kaelan, 2014:21). Kejadian tersebut menunjukkan adanya toleransi dan humanisme antar sesama rakyat yang pluralitas.

Nilai-nilai pancasila tersebut dicerminkan oleh kerajaan-kerajaan yang termaktub dalam lima dasar pancasila. Hal itulah yang harus dijadikan acuan dalam berbangsa dan bernegara untuk menciptakan kerukunan.

Semboyan yang ada dalam pancasila yakni Bhinneka Tinggal Ika ( berbeda-beda tetap satu jua). Semboyan itu dapat membangun sebuah toleransi antar ummat berbangsa. Secara linguistik makna struktural selokah itu adalah " beda itu, satu itu" (Kaelan, 2014:24). perbedaan itu yang menjadi ciri khas kebangsaan Indonesia yang tidak ada dalam negara-negara lainnya. Hal inilah yang coba dibangun dalam ranah sosial untuk menceminkan kerukunan.

Implementasi Nilai Pancasila di Era Reformasi

Indonesia, berdiri dengan adanya pluralitas. Tegaknya Indonesia melalui beberapa tindakan yang bahkan ancaman yang harus ditanggung adalah nyawanya.

Begitu banyak polemik yang terjadi dari masa pra-kemerdekaan, pasca kemerdekaan sampai kepada masa reformasi.

Reformasi sendiri lahir setelah pemerintahan orde baru runtuh yang dipimpin oleh Soeharto yang berkuasa selama 21 tahun. Perjalanan tersebut tidaklah mulus seperti yang dilihat sekarang. Polemik yang begitu nampak pada masa orde baru yaitu krisis moneter dan KKN. Inilah ancaman besar bangsa yang cukup memprihatinkan. Barang pangan yang begitu mahal sampai semuanya tidak terbendung. Yu

Adanya era reformasi untuk merubah kondisi sosial yang buruk. Nilai-nilai kepancasilaan itu harus bisa ditanamkan kembali. Nilai itulah yang mampu merubah perspektif tentang Indonesia. Pancasila yang merupakan sistem dasar moral, etika dalam kebangsaan Indonesia harus mampu diimplementasikan dalam kehidupan pemerintah dan rakyat.

Intervensi penguasa dalam implementasi nilai pancasila sangatlah diperlukan. Untuk menumbuhkan kembali nilai yang mulai luntur. Terlalu banyak kejadian yang lepas dari nilai itu. Era reformasi banyak terjadi kekerasan dan deskriminasi terhadap kelompok tertentu. Pebedaan yang dulunya diagungkan secara perlahan begitu pecah. Kasus yang cukup menakjubkan adanya penistaan agama. Nilai pancasila tentang keadilan dan ketuhanan seakan-akan tidak tercermin kembali. Kasus lain yakni korupsi yang begitu merugikan rakyat sangatlah membudaya. Perlu gebrakan revolusi untuk mengatasinya. Bahkan media sosial dijadikan bahan deskriminasi dan pelecehan publik.

Krisis nilai tentulah yang harus ditata kembali dan menjadi perhatian besar bangsa Indonesia. Nilai ideologi bangsa yang mulai luntur, diimplementasikan secara sederhana dalam kehidupan sehari-hari. Tentunya ada peran pendidikan yang untuk menunjang hal itu.

Pemerintah yang paham betul tentang kepancasilaan harus meminimalisir tindakannya yang tidak sesuai. Cermin yang digunakan rakyat adalah pemerintah itu sendiri, dalam arti gerak  penguasa merupakan perhatian besar rakyat.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2