Mohon tunggu...
Rifky Julio
Rifky Julio Mohon Tunggu... Mahasiswa Antropologi Universitas Padjadjaran

Penunggu Kamar. Sekedar menulis apa yang ingin ditulis. Antropologi | Anime | Daily Life | Fiksi

Selanjutnya

Tutup

Novel Pilihan

KlimatoLove: Prolog Bagian 1

25 Maret 2021   13:09 Diperbarui: 25 Maret 2021   13:10 100 3 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
KlimatoLove: Prolog Bagian 1
Dokumen pribadi

Hari Sabtu, hari terakhir dari rangkaian Ujian Akhir Semester.

"Sisa waktunya tinggal 15 menit lagi," ucap Pak Dadang dengan nada datarnya memecah keheningan di Ruang 16. Guru Matematika yang dianggap killer itu berhasil membuat ruangan ini senyap selama 75 menit. Padahal kemarin ruangan ini berhasil menciptakan suasana yang cukup ramai dengan siulan, suara lemparan kertas, dan diskusi kecil.

Mata pelajaran hari ini memang Bahasa Sunda yang sepertinya tidak terlalu sulit bagi mayoritas siswa disini. Namun, kehadiran Pak Dadang tak hanya membuat kami terdiam kaku, tapi juga membuat kami ketakutan. Tatapan mukanya seperti mengatakan, jika ketahuan menyontek habis kau! Kira-kira seperti itu.

"Bagi yang sudah selesai silakan diperiksa lagi jawabannya dan jangan lupa isi identitas kalian di lembar jawabannya."

Terima kasih sudah mengingatkan pak. Meski tidak penting, aku yakin pasti ada saja siswa yang kelupaan mengisi bagian identitasnya.

Aku pun memeriksa ke bagian identitas. Oke, nama, nomor ujian, kelas, semuanya sudah terisi. Lalu aku memeriksa kembali jawaban-jawabanku. Sip, semua pertanyaan telah terisi dan jawabannya sudah cukup meyakinkan. Sekarang tinggal menunggu waktu habis untuk mengumpulkan lembar jawaban ini.

Sebenarnya bisa saja aku mengumpulkan lembar jawaban ke depan meja pengawas sekarang. Hanya saja aku tidak punya rasa percaya diri setinggi itu.

Maksudnya, terkadang ada siswa yang saking percaya dirinya mengumpulkan lembar jawaban pertama sebelum waktunya habis. Padahal jawabannya tidak meyakinkan dan sebenarnya masih bisa diperbaiki. Ada juga skenario lain saat siswa sudah menyerah dengan keadaan dan berpasrah diri menyerahkan jawaban amburadulnya.

Ya memang ada beberapa orang seperti itu, tapi aku bukanlah bagian dari dua tipe tersebut. Aku hanya ingin menunggu, itu saja.

Bukankah sia-sia jika waktu 90 menit ini tidak kita habiskan hingga selesai? Menurutku, akan lebih baik jika menunggu momen yang paling tepat untuk mengumpulkan, yakni saat waktu 90 menit ini telah habis.

Bicara soal menunggu aku jadi teringat saat makan malam di rumah. Benar-benar sulit dipercaya. Aku kira ia masih akan menunggu hingga dua tahun ke depan untuk mencari pasangan. Ternyata bulan depan sudah menikah saja.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
  7. 7
  8. 8
  9. 9
  10. 10
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x