Lingkungan

Membuang Sampah di Jalan dan Singkong Bisa Jadi Solusi Sampah Plastik Indonesia

29 Desember 2018   12:31 Diperbarui: 1 Januari 2019   04:44 211 1 0

Setelah disorot media dua tahun lalu dan kemudian mendapat perhatian Dinas Kebersihan dan Lingkungan Hidup(DKLH), ada perkembangan pesat dalam permasalahan sampah Indonesia. Dari yang tadinya pada tahun 2016 mencapai 64 juta ton dalam satu tahun, diprediksi, mengalami perubahan pads tahun 2019 menjadi 68 juta ton pertahun. Surplus. Yang pernah menonton The Dark Knight besutan Christopher Nolan, surplus sampah itu cocok untuk diungkapkan dengan : The surplus we deserve. But not the surplus we need right now.

Sampah-sampah yang berton-ton itu beruntung sebagian besarnya atau sekitar tujuan puluhan persen adalah sampah organik : sisa jengkol makan siang, biji mangga berjamur yang sudah dua hari belum kita singkirkan dari piring, atau tulang ayam lalapan pake hemat tadi malam. Namun demikian sisanya yang berupa sampah plastik tidak bisa diremehkan. 

Kresek plastik kecil mungkin terlihat ringan dan remeh. Tapi 4.500.000 tas kresek setara 9 ton total sampah plastik kita, pastinya bisa menggencet seseorang sampai mampus. Sebagaimana jumlah sebanyak itu ia bisa menjadi racun yang dapat merusak sistem tubuh organisme laut dan organisme darat pemakan organisme laut.

Kita mungkin adalah negara dengan tempat sampah tersedia di mana-mana tapi menganggap membuang sampah di laut lebih menarik dan asyik. Dan karena itu mungkin Indonesia adalah negara ke dua di dunia dengan jumlah sampah plastik tertinggi di dunia. Dan karena yang tertinggi pertama adalah China, maka dipastikan Indonesia adalah yang tertinggi di ASEAN.

Sampah plastik dalam jumlah yang demikian, memberi ancaman. Psikis maupun  biologis. Secara psikis kita, manusia, penguasa dunia. Kitalah yang memenangi semuanya. Tapi ada kata bijak "Dalam pertempuran, yang paling kuat bertahanlah yang akan menjadi pemenang".  Dan di dunia ini dengan umur 500 hingga 1000 tahun, sampah plastiklah yang akan bertahan. Chairil Anwar mengatakan ingin hidup seribu tahun lagi. Kata Sampah Plastik "Oh tidak bisa. Seribu tahun itu cuma saya" Dengan umur yang panjang itu ia melampaui kita, anak dan cucu kita. Dengan umur panjang itu kemungkinan besar plastiklah yang menjadi saksi sejarah akhir peradaban umat manusia. Runtuhnya Amerika atau hancurnya piramid akan disaksikan oleh plastik bungkus snack, botol minyak telon dan botol air kemasan. Jika dilampaui sesama manusia yang sifatnya memang suka saling melampaui, kita  merasa cukup terganggu. Apatah lagi jika dilampaui oleh plastik yang hanya bengong saja di tempatnya.

Adapun ancamannya secara biologis, sudah terbukti. Plastik sudah menimbulkan korban besar. Seekor paus terdampar di pulau selayar penuh dengan botol plastik seolah-olah dia baru pulang belanja karena ada diskon akhir tahun di supermarket. Banyaknya jumlah plastik yang beredar terutama di laut, berdasarkan banyak penelitian, membuat biota laut seperti ikan, penyu dan kuda nil yang kebetulan tersesat di laut terpapar mikroplastik. Pada gilirannya biota laut yang sudah terpapar mikroplastik jika dikonsumsi manusia akan membahayakan sistem tubuh manusia itu sendiri.

Lebih dari itu,  selain merusak ekosistem laut sampah plastik juga menimbulkan efek domino yang luas bahkan hingga geopolitik dunia. Selain efek negatif mikroplastik misalnya, penumpukan sampah plastik mengancam populasi ikan. Menurut laporan-laporan media nasional jumlah sampah plastik akan melampaui jumlah ikan. Yang dengan demikian akan mengurangi sumber pendapatan dan konsumsi nelayan. 

Dalam situasi itu, para nelayan dalam hal pekerjaan mungkin bisa beralih ke sampah plastik. Tapi tidak demikian dalam hal konsumsi sehari-hari. Kementrian Kelautan dan Perikanan mungkin akan dilebur ke DKLH karena jumlah sampah yang begitu banyak. Urusannya hanya sampah sampai-sampai hiburan berupa tenggelamnya kapal layaknya dalam Pirate of Carribean tidak akan bisa dinikmati lagi. Lebih dari itu, seperti menurut Menko Kemaritiman, sampah plastik bisa berujung pada radikalisme dan terorisme. Artinya bisa jadi pertambahaan satu sampah plastik di negeri kita ibarat menabung satu teroris di Suriah.      

Tentu sudah ada upaya untuk menyelesaikan masalah sampah plastik ini. Misalnya dengan mendorong pengotimalan DKLH dan peran swasta dalam melakukan daur ulang. Masalahnya DKLH punya  keterbatasan. Sebagai pihak yang juga mengurusi masalah lingkungan, saya yakin mereka tidak  mau melulu hanya mengurusi sampah. Mereka bukan pemulung. Sementara pihak swasta walau memang sudah cukup gencar bergerak dalam usaha daur ulang, sampah plastik yang terserap baru sebagian kecil. Apalagi jika sampah plastik itu justru didaur ulang  menjadi plastik baru lagi. Ada juga ide untuk mewajibkan orang membayar untuk setiap kresek plastik belanjaan yang mereka gunakan. Tapi sulit membayangkan menuntut orang membayar tas kresek yang remeh temeh sementara ada yang sudah bisa membeli mini cooper hanya dengan duit empat belas ribu perak.  

Perlu alternatif lain.

Rajagolan Vasudevan, seorang pengajar di sebuah sekolah teknik di India, memiliki moto yang mungkin kita bisa ambil pelajaran darinya. Motonya adalah buanglah sampah plastik pada tempatnya. Dan tempat yang tepat untuk membuang sampah menurutnya adalah jalan. Tapi tentu yang dimaksudnya bukan melempar bungkus plastik es krim lewat jendela mobil di tengah jalan raya. Membuang sampah ke jalan maksudnya adalah mengolah sampah plastik untuk dibuatkan aspal jalan. Terhitung sudah 10000 kilometer jalan selesai dibangunnya dengan bahan-bahan seperti tak kresek, botol plastik air mineral dan tupperware plastik.

Alternatif lain?

Bila kresek plastik berpotensi menumpuk sampai seribu tahun dan ketika terurai menjadi mikroplastik yang berbahaya, maka jalan keluarnya, mungkin, kita perlu kresek plastik yang berbeda. Kresek plastik yang cepat terurai dan begitu terurai tidak menjadi sesuatu yang berbahaya. Teknologi  yang bisa menjadi solusi radikal untuk mengatasi sampah plastik seperti ini sudah ada. Digagas di negeri kita sendiri. Sugiharto Tandio dan Tommy Tjiptadjaja menemukan cara membuat plastik dari singkong a.k.a ubi kayu. Dengan penemuan ini diperkirakan umur plastik yang lima ratus hingga seribu tahun setelah penggunaannya dapat dipangkas hingga dua tahun.

Teknologi-teknologi di atas bisa menyelesaikan permasalahan sampah plastik di negri kita tanpa masalah. Bahkan ikut menyelesaikan masalah-masalah lain. Bayangkan jika teknologi mengubah sampah plastik menjadi aspal di atas diadopsi secara luas. Kita akan menyelesaikan lima hal sekaligus. Laut bersih, sampah plastik selesai, profit masuk, infrastuktur jalan terbangun dan Ibu Susi berhenti marah-marah. 

Kalau perlu, dengan sampah plastik sebagai bahan baku yang bisa di dapatkan di mana saja ; TPA, kantor, kamar tidur bahkan saku pakaian, semua jalan kita aspal termasuk jalan tikus. Sedangkan teknologi membuat kantong kresek dari singkong bisa jadi adalah cikal bakal bagi kantong kresek yang dapat dikonsumsi. Setiap kali menyelesaikan permasalahan sampah plastik kita langsung swasembada.

Dan karena semua alasan ini, agak mengherankan mengapa dua solusi pemecahan masalah sampah plastik ini kurang begitu bergaung. Untuk teknologi sampah plastik jadi aspal hanya diangkat oleh satu media. Sedang kresek plastik dari singkong, walau diangkat oleh banyak media, kurang mendapat sambutan.

Atau mungkin di suatu tempat sedang digodok sebuah  teknologi yang lebih canggih untuk menyelesaikan masalah sampah plastik kita ini. Atau mungkin saja tidak. Dan kita sebenarnya, diam-diam, sedang menyasar posisi peringkat satu sampah terbanyak sedunia. Bukan. Terbanyak segalaksi bimasakti.