Rifki Feriandi
Rifki Feriandi Wiraswasta

Aku menulis maka aku bahagia ... Writer, Inspiration Seeker, Education Enthusiast, Volunteering Activist, Capacity Builder, Daddy of two girls

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Serunya Mempersiapkan Kelas Inspirasi Anak SD di Mataso

21 Juni 2015   18:41 Diperbarui: 24 Juni 2015   07:37 184 3 4

A teacher affects eternity; he can never tell where his influence stops.

Sebuah kutipan dari Henry Adams seperti di atas sepertinya benar ya. Seorang guru mungkin pengaruhnya kekal. Ia tidak pernah tahu kapan pengaruhnya akan berhenti. Begitu kira-kira terjemahan bebasnya. Dan itulah yang penulis coba lakukan: mencoba menjadi guru. Meski sejenak, menjalani profesi yang mungkin sebenarnya ada di hati kecil itu ternyata seru. Bahkan seru juga pada saat mempersiapkannya.

Kegiatan yang penulis ikuti melalui organisasi 1N3B

Awal tahun ini,  dengan besar hati dan senyum penuh semangat, penulis menyambut penerimaan rekan-rekan di organisasi nir-laba 1N3B (Satu Nusa Satu Bangsa Satu Bahasa Satu Bumi) untuk berpartisipasi dalam acara pendirian rumah baca di daerah  pelosok. Pendirian rumah baca di pelosok / pedalaman Indonesia adalah aktivitas berkala organisasi ini yang diawaki oleh anak-anak muda petualang dan traveler yang memiliki kepedulian social. Berwisata yang sekedar wisata saja sepertinya terlalu mainstream bagi organisasi ini, sehingga mereka menggabungkan sebuah perjalanan wisata (yang juga tidak mainstream) dengan kegialan sosial. Kali ini 1N3B berencana mendirikan rumah baca di kota kecil Mataso, di daerah Kawasan Nasional Betung Kerihun.

Dalam pertemuan perencanaan sebelum keberangkatan, penulis dengan bersemangat menerima sebuah tugas, yaitu untuk menggawangi kelas inspirasi. "Kapan lagi jadi guru, meski bukan guru betulan", begitu yang ada di benak penulis. Rekan koordinator lalu memberi gambaran siapa kira-kira audiensnya dan topik apa yang akan dibawakan. Penulis lalu mengusulkan untuk membawakan kelas inspirasi mengenai profesi.

Nah di sinilah keseruan pertama muncul. Mempersiapkan diri menjadi guru dan mempersiapkan materi untuk kelas inspirasi itu tidak mudah, kawan.

Ria Enes dan boneka Susan yang membawakan lagu Cita-citaku

Awalnya, penulis berencana membawakan materi dalam bentuk presentasi menggunakan slide. Penulis mungkin terkena sombong prematur kala sudah  membayangkan sesi yang keren di mana diputar presentasi dengan video profesi-profesi keren semacam pilot dengan pesawat tempurnya serta insinyur dengan pemandangan gedung-gedung kota yang indah-indah. Presentasi itu lalu disertai dengan lagu-lagu anak inspiratif seperti lagu Cita-citaku-nya Ria Enes dengan boneka Susannya. Keren dah. Namun sayang, rencana seperti itu harus langsung dibuang. Alasannya sederhana. Belum tentu anak-anak di daerah memiliki interest dengan kekerenan pilot atau insinyur yang khas perkotaan seperti itu. Jika dipaksakan, yang ada mungkin mereka hanya melongo, dan hanya muncul kekaguman tanpa memberi inspirasi. Belum lagi melihat kenyataan bahwa kami akan pergi ke suatu pelosok di dekat Taman Nasional - itu artinya perbatasan hutan, yang disangsikan memiliki peralatan pendukung presentasi, bahkan berupa aliran listrik. Juga, tersadar jika Susan-nya Ria Enes mungkin tidak dikenal audiens sekarang karena bukan jamannya.

Boneka tangan dan boneka jari

Rencana lalu diubah. Muncullah ide permainan karakter berupa dongeng. Karenanya dicarilah cara untuk itu, termasuk apakah cocok jika memakai sarana berupa boneka. Terpikirlah untuk menggunakan beberapa buah boneka tangan dengan profesi yang berbeda. Bahkan, untuk lebih menarik, bolehlah disiapkan boneka-boneka jari untuk mereka yang bisa menjawab pertanyaan. Betul, penulis rencananya akan menggunakan sesi ini dengan tanya jawab dengan hadiah agar seru. Untuk lebih memahami permainan karakter, penulis lalu akses youtube, dan mencari tahu mengenai permainan karakter untuk kelas inspirasi. Ada seorang kakak pencerita yang bagus membawakan kelas ini, termasuk menggunakan nada suara yang berbeda untuk tiap karakter. Namun hal ini bukannya menambah semangat penulis, tetapi justru membuat stres. Bagaimana tidak, karena tipe cerita seperti ini lebih cocok dibawakan untuk anak-anak usia TK. Padahal audiens kelas inspirasi yang akan dihadapi adalah anak-anak sekolah dasar, SD kelas 2 sampai kelas 5. Beu!!!! .

Kelas inspirasi dari organisasi kelas inspirasi resmi (https://wisnusumarwan.files.wordpress.com)

Dari youtube, penulis lalu menyimpulkan bahwa umumnya kelas inspirasi profesi untuk anak SD dilakukan dengan cara permainan karakter dengan menggunakan pakaian dengan profesi yang akan dibawakan. Misalnya jika profesi dokter, maka acara dibawakan dengan menggunakan baju putih dokter dan stetoskop. Atau untuk profesi pedagang dipakai permainan jual beli. Aaargh. Pusing pala barbie. Baju dokter tidak punya. Topi polisi atau baju proyek pun tiada. Apalagi rencananya profesi yang akan dikenalkan pun tidak hanya satu. Masa mau nyewa baju  dari semua profesi.Mana waktu pelaksanaan makin dekat lagi.

Buah pala buah kedondong. Gimana dong?

Bulan puasa bawaannya laper. Gak ada cara, jadilah MacGyver.

(McGyver adalah tokoh film yang selalu memiliki solusi dalam segala kondisi mefet ..eh mepet. Dan McGyver masa kini tidak lain dan tidak bukan adalah ...Om Google).

MacGyver: film di era 80an

Ya, akhirnya penulis putuskan untuk memilih saja figur-figur profesi yang akan  dibawakan nanti, dan mencari foto-fotonya dari mesin pencari google. Foto-foto itu lalu dicetak serta dilaminating untuk nanti dibawakan sebagai pengganti slide presentasi. Sisanya adalah improvisasi penulis dalam memberikan informasi secara verbal sehingga audiens tertarik dan memahami. Dan bukankah itu tugas dan pekerjaan seorang guru?

Inilah profesi-profesi yang akan dibawakan: ilmuwan, insinyur, tentara, pemain bola.
 
Untuk membuat akhir acara kelas inspirasi ini menarik, penulis lalu mengikuti langkah tips-tips dari kelas inspirasi resmi di youtube, berupa membuat pohon profesi. Penulis membuat garis-garis mirip pohon, dan lalu menempelkan kertas tempel berwarna membentuk daun-daun.  Pada kertas berbentuk daun itulah nantinya anak-anak diminta menuliskan profesi yang menjadi cita-citanya.  Agar pelaksanaannya lancar, penulis sengaja menyiapkan potongan-potongan kertas yang sudah dibentuk menjadi daun itu ke dalam sebuah plastik, bersama dengan sebuah spidol dan lem untuk menempel daun-daun itu.
 
 
Secarik kertas berpola pohon untuk kegiatan akhir
 
 
Deg-degan kala menunggu saatnya tiba, karena suwer penulis tidak memiliki latar belakang pendidikan, dan bahkan  tidak pernah mengikuti pendidikan sebagai relawan kelas inspiratif resmi. Apa yang akan dilakukan adalah murni otodidak, belajar sendiri, dengan bermodal keberanian dan "bakat dan cita-cita terpendam" menjadi guru. Detak jantung makin kencang karena penulis selama ini dilihat sebagai orang yang serius, sulit bercanda, dan bergaul dalam  pekerjaan dengan orang-orang dewasa, sehingga ditakutkan tidak terjadinya komunikasi yang bagus dengan anak-anak di level sekolah dasar.
 
But...anyway. Ternyata apa yang terjadi justru sangat seru. Cekidot cerita selanjutnya.