Rifki Feriandi
Rifki Feriandi Wiraswasta

telat daki.... telat jalan-jalan.... tapi enjoy the life sajah...

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Ini Bukanlah tentang Speaker Mesjid

25 Agustus 2018   13:03 Diperbarui: 25 Agustus 2018   13:25 744 0 0
Ini Bukanlah tentang Speaker Mesjid
Toa, speaker, loudspeaker | Foto: quora.com

Segmen 1.

Bulan puasa saat itu. Kebetulan bermalam di sebuah gedung tinggi di sebuah kota besar. Sekitar dua jam sebelum adzan subuh berkumandang, saya sudah bangun. Memanfaatkan keheningan malam, ceritanya. Saya matikan gemuruh AC, saya buka jendela balkon, demi mengharap suara hening malam dan kokok ayam. Namun....

Ternyata jam segitu suasana sudah ramai. Ada tiga suara dari tiga sumber yang muncul. Dari arah depan, jam 2.30 subuh itu sudah berkumandang suara orang yang mengaji. Saya mencoba mendengarkannya, tetapi sulit. 

Ngajinya begitu cepat, sehingga telinga saya tidak begitu menangkap. Menjelang sahur, sepertinya mikrofonnya diambil alih oleh cucunya. Karena yang muncul adalah gema ngaji  iqra khas anak kecil atau zikir campur aduk. Yang justru paling banyak terdengar adalah cekikan tertawanya anak-anak beramain-main di microphone.

Sementara itu dari arah kiri terdengar suara berdendang. Sebuah lagu. Dari rekaman, entah kaset, entah CD. Bukan. Bukan, suara Bimbo atau Nisa Sabyan. Entahlah, rasanya bukan pula nasyid. Dan dari sumber di kanan, muncul suara orang membangunkan sahur. Diabsen  nama penduduk satu-satu.

Dan itu jam 2.30. Subuh pun belum menjemput.

Segmen 2.

Jam sepuluh pagi, speaker arah depan kembali berbunyi. Kali ini dikuasai ibu-ibu yang sedang mengaji. Khas pengajian ibu-ibu. Ada yasinan, nadoman dan ceramah. Lengkap dengan dialek setempat. Dan itu terdengar sangat jelas dari lantai dua belas. Gedung tinggi itu.

Ketika turun dan berkendara serta melewati jalanan sekitar sumber suara itu, ternyata suara speaker itu hanya terdengar lamat-lamat. Padahal, suasana tidak begitu ramai. Polusi suara tidak menerpa.

Lalu, ke sebelah mana sumber speaker itu mengarah?

Segmen 3.

Teraweh dalam perjalanan. Ikutan berjamaah di masjid yang baru, persis di sebelah Kantor Walikota Tangerang Selatan. Mesjid indah itu tidak terlalu penuh. Mungkin penuhnya saat jam kantor. Dan ketika belum lama khatib naik mimbar, ulama sepuh itu mulai kesulitan.  Suara yang terdengar dari speaker dalam mesjid itu kalah dengan suara dari mesjid kampung sebelah, yang letaknya sangat dekat dengan mesjid baru itu. 

Entahlah, bisa jadi berdempetan atau bersebelahan. Atau, jangan-jangan kebetulan saja speakernya mengarah ke mesjid baru itu. Sebagai jamaah, saya jadinya lebih mendengar surat-surat bacaan imam mesjid sebelah yang sedang memimpin solat terawej dibandingkan dengan ceramah khatib mesjid tempat saya bertaraweh.  

Dan tentu saja, suara khatib betul-betul tidak terdengar ketika muadzin atau bilal mesjid sebelah berzikir antara dua solat, dengan bacaan khas daerah itu, dengan intonasi dan volume yang sangat kencang.

Khusuk? Ehm.... gimana ya.

Segmen 4.

Mesjid Al Hakim, Sektor 12 BSD. Hari Jum'at. Agak mepet ke waktu mulai jum'atan. Ketika mendekat ke mesjid, speaker mesjid menyala, mengajak para jamaah yang masih di rumah untuk segera ke mesjid. Volumenya tidak terlalu memekakkan telinga. Lalu suara itu berhenti, berganti suara yang lamat-lamat terdengar dari luar. Ketika memasuki area mesjid, suara lamat-lamat itu menjadi jelas. 

Makin ke dalam makin jelas. Ternyata, mesjid itu memakai dua sistem speaker. Setelah menyeru jamaah yang berada di rumah dan perjalanan memakai speaker luar, lalu pembicara menggantinya dengan speaker dalam untuk pengumuman-maklumat khas sebelum jumatan dan ceramah.

#####

Ah, ternyata ini bukanlah tentang speaker mesjid. Ini tentang kedewasaan dan kebijaksanaan takmir dalam mengelola mesjidnya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2